2 minggu lalu · 163 view · 5 min baca menit baca · Filsafat 14752_46092.jpg

Apa Itu Syaiiyyatul Ma'dum?

Sekarang coba Anda bayangkan ada seorang perempuan yang raut wajahnya seperti tengkorak, badannya seperti kingkong, hidungnya segede kodok, kulitnya sekasar aspal, kupingnya selebar taplak, kakinya sepanjang paralon, betisnya sebesar galon, dan bau badannya seharum sepiteng. Lalu setelah itu ada orang bertanya kepada Anda: mungkinkah Anda menjumpai perempuan seperti itu di dunia ini? Tanpa banyak mikir pasti Anda akan berkata tidak mungkin.

Mengapa tidak mungkin? Karena perempuan dengan spesifikasi seperti itu memang tidak ada wujudnya. Perempuan seperti itu mustahil akan kita temukan di alam nyata. Meskipun nalar kita bisa saja berkhayal dan membayangkan keberadaannya. Tapi pada akhirnya tetap saja. Dia tidak lebih dari sekedar khayalan dan imajinasi liar yang tercipta di dalam nalar.

Memang banyak hal di dunia ini yang sebenarnya tidak ada, tapi akal kita bisa mengimajinasikan keberadaannya. Salah satunya adalah perempuan seperti yang saya sebutkan tadi. Dan juga contoh-contoh serupa lainnya. Nalar kita punya alam yang lebih luas ketimbang alam yang kita lihat. Sesuatu yang tidak ada di alam nyatapun akal kita bisa saja mengasumsikan keberadaannya. Dan itulah salah keistimewaan akal manusia.

Sekarang akan muncul satu pertanyaan dari para teolog terkait ilustrasi yang saya sebutkan di atas itu. Pertanyaan ini cukup unik, tapi untuk merasakan keunikannya coba Anda perhatikan pertanyaan ini dengan baik-baik: Tadi dikatakan bahwa perempuan seperti itu tidak ada. Nah, yang jadi pertanyaan kita sekarang adalah: yang “tidak ada” itu bisa dikatakan sebagai sesuatu atau tidak?

Mungkin pertanyaan ini terlihat aneh dan gila, bahkan mungkin terkesan tidak ada gunanya. Tapi, dalam tradisi ilmu kalam, dari pertanyaan ini muncul satu diskusi heboh di kalangan para teolog tentang apa yang mereka sebut sebagai syaiiyyatul ma’dûm (kebersesuatuan yang tidak ada).

Apa itu syaiiyyatul ma’dûm? Syaiiyyatul ma’dûm itu ialah satu gagasan yang dikemukakan dalam mazhab Muktazilah yang menyatakan bahwa yang tidak ada itu bisa dikatakan sebagai sesuatu (syai). Tetapi apa sesungguhnya arti “sesuatu” menurut mereka itu?


Dan mengapa kelompok Asyairah menolak keras gagasan tentang kebersesuatuan yang tidak ada itu? Apakah persoalan tersebut akan berkonsekuensi pada problem teologis yang mendasar dalam keyakinan kita? Beberapa pertanyaan tersebut akan dijawab secara singkat dalam tulisan ini.

Tidak ada penolakan di kalangan para teolog—dan begitu juga menurut orang-orang yang berakal sehat—bahwa keadaan dan ketiadaan itu merupakan dua hal yang bertentangan. Karena keduanya saling bertentangan, maka tidak mungkin saya mengatakan bahwa sesuatu tertentu itu ada, tapi dalam saat yang sama juga dia dikatakan tidak ada.

Namun, yang menjadi pembahasan kita sekarang ialah “kebersesuatuan” yang tidak ada, bukan keberadaan yang tidak ada. Itu dua ungkapan berbeda yang perlu kita cermati dengan baik. Hanya saja, untuk memahami gagasan itu, kita perlu jelaskan terlebih dulu apa yang dimaksud dengan kata “sesuatu” dalam versi pemahaman mereka itu?

Muktazilah memandang bahwa yang dimaksud dengan sesuatu (syai) itu ialah al-Ma’lûm (yang diketahui). Jadi, ketika mereka menyebut kata syai, maksud dari kata tersebut, menurut mereka, ialah “yang diketahui”. Namun, Asyairah memaknai kata tersebut secara berbeda. Menurut mereka, syai itu bukan “yang diketahui”, tetapi maknanya ialah “yang ada” (al-Maujûd).

Sampai di sini kita tahu bahwa dua kelompok itu memaknai kata syai—yang darinya terlahir konsep syaiiyyah (kebersesuatuan)—dengan pemaknaan yang berbeda. Yang satu memaknai kata syai itu sebagai “yang diketahui”, yang satu lagi memaknainya dengan “yang ada”. Ada dan diketahui itu tentu dua hal yang berbeda.

Bisa jadi sesuatu itu tidak ada, tapi dia diketahui. Contohnya seperti yang saya sebutkan di awal. Karena itu, jika mengacu pada pandangan Muktazilah, wanita yang saya sebutkan di atas itu bisa disebut sebagai syai (sesuatu). Mengapa? Karena dia diketahui (ma’lûm), meskipun wujudnya tidak ada.

Tetapi, jika kita bertanya kepada Asyairah, perempuan yang kita imajinasikan itu bukan syai. Mengapa? Karena bagi mereka, kata syai itu hanya diberlakukan bagi yang berwujud, atau sesuatu yang ada. Sementara khayalan itu tak memiliki wujud.

Tapi bukankah dia sendiri memiliki wujud di dalam nalar? Pertanyaan ini juga nantinya akan memunculkan diskusi baru seputar apa yang disebut sebagai wujud dzihni (wujud dalam nalar). Apakah wujud yang seperti itu bisa dikatakan sebagai wujud atau tidak? Para filsuf menjawab iya, sementara mutakallimûn menjawab tidak. Masing-masing memiliki argumennya sendiri-sendiri. Kita tidak akan membahas itu sekarang.

Pembicaraan kita sekarang ialah seputar syaiiyyatul ma’dûm. Orang yang pertama mencetuskan gagasan ini, di lingkungan mazhab Muktazilah, ialah seorang teolog bernama Abu Ya’qub al-Syahham. Pandangan ini kemudian diikuti oleh sekelompok dari Muktazilah Bashrah, dan setelah itu dianut mayoritas teolog Muktazilah.


Penting dicatat bahwa sesuatu yang tidak ada yang mereka katakan sebagai syai itu hanya terbatas pada sesuatu yang mumkin (contingent). Yang mustahil tidak mereka sebut sebagai syai. Sekutu Tuhan, misalnya, kendatipun dia tidak ada (ma’dûm), dia bukan syai. Karena dia tergolong kedalam ma’dûm mustahîl (sesuatu yang tidak ada dan tidak dimungkinkan ada).

Sementara yang menjadi pusat pembicaraan mereka ialah seputar ma’dûm mumkîn (sesuatu yang tidak ada, tapi dimungkinkan ada), seperti halnya perempuan yang saya sebutkan tadi. Itulah yang mereka sebut sebagai syai.

Lalu apa yang mereka maksud dengan syaiiyyah (kebersesuatuan) itu? Mereka mengatakan bahwa ma’dûm mumkin yang mereka sebut sebagai syai itu memiliki “ketetapan” (taqarrur) di alam luar. Hanya saja, ketetapan yang mereka maksud itu bukan wujud, melainkan fase sebelum wujud (ma qabla al-Wujûd). Nah, fase inilah yang mereka sebut dengan istilah syaiiyyah (kebersesuatuan). Memang tidak mudah untuk memahami jalan pikir mereka ini.  

Untuk mengukuhkan pandangan tersebut mereka menyertakan sekian banyak dalil. Argumen penolakan Asyairah juga tak kalah kuat. Kita tak punya banyak waktu untuk mendiskusikan dalil-dalil itu. Pertanyaan selanjutnya yang tak kalah menarik untuk kita jawab ialah: Apa relevansi pembahasan ini dalam ilmu teologi? Jawabannya banyak, salah satunya akan saya paparkan di bawah ini.

Kita semua percaya bahwa alam semesta ini ada dari ketiadaan. Dengan demikian, sebelum alam ini tercipta, alam semesta ini ma’dûm (tidak ada). Dan kalau kita bersetuju dengan pandangan Muktazilah, alam yang tidak ada itu bisa disebut sebagai syai. Dan apa yang disebut syai itu, dalam pandangan mereka, memiliki ketetapan (tsubût/taqarrur) di alam luar.

Itu artinya, kalau kita bersetuju dengan pandangan Muktazilah, gagasan syaiiyyatul ma’dûm itu akan berujung dengan keyakinan bahwa ada sesuatu yang qadim selain Tuhan. Mengapa? Karena sebelum dia ada dia adalah syai. Dan syai itu memiliki ketetapan di alam luar. Muktazilah sendiri sebenarnya tidak meyakini alam sebagai sesuatu yang qadim. Hanya saja, konsekuensi dari gagasan mereka akan menjurus kita kesana. Dan konsekuensi dari suatu mazhab tentu bukan mazhab itu sendiri.  

Di luar sana masih banyak diskusi-diskusi lain seputar syaiiyyatul ma’dûm ini. Baik itu yang berkaitan dengan ilmu Allah, kebangkitan jasad, dan lain sebagainya. Melalui tulisan ini, paling tidak, saya hanya ingin membuktikan bahwa pembahasan-pembahasan yang tampak remeh dan tak berguna itu seringkali berkaitan dengan sesuatu yang bersifat fundamental dalam bangunan keyakinan kita. Contohnya seperti syaiiyyatul ma’dûm ini. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.

Artikel Terkait