75355_59522.jpg
'Abbas Mahmud al-'Aqqad, Pemikir Besar asal Mesir
Filsafat · 5 menit baca

Apa Itu Qismah?
Ngaji Mantik Bag. 40

Dalam salah satu tulisan kita pernah menyinggung tentang konsep mafhum (intension) dan mashadaq (extension). Di sana kita terangkan bahwa setiap kata universal itu memiliki dua aspek penunjukkan (dalalah/signification), yaitu mafhum dan mashadaq. Mafhum itu artinya makna yang kita pahami dari sesuatu, sedangkan mashadaq ialah cakupan dari sesuatu yang maknanya sudah kita pahami itu.

Nah, pembahasan mengenai ta’rif, yang sudah kita terangkan dalam beberapa tulisan sebelum ini, sebenarnya bertujuan untuk menganalisis lebih jauh tentang mafhum dari suatu kata. Dengan kata lain, ta’rif itu berguna untuk memperjelas makna yang kita tangkap dari sesuatu. 

Sedangkan pembahasan tentang qismah—yang akan kita bahas dalam tulisan ini—berguna untuk menganalisis, memperjelas, dan mengklasifikasi cakupan (mashadaq) dari kata yang maknanya sudah dijelaskan oleh ta’rif itu.

Singkatnya, ta’rif berkaitan dengan mafhum. Sedangkan qismah berkaitan dengan mashadaq. Ta’rif berusaha untuk memperjelas makna, sedangkan qismah berupaya untuk mengklasifikasi cakupan kata. Dengan demikian, pembahasan mengenai qismah ini sangat erat kaitannya dengan pembahasan ta’rif, yang sudah kita uraikan dalam tulisan-tulisan yang lalu.  

Dalam buku-buku mantik populer, rangkain akhir dari bab tashawwurat biasanya diakhiri dengan pembahasan mengenai qismah. Qismah (division) ini tidak kalah penting dengan ta’rif (definition). Dalam sejarah filsafat Yunani, Plato dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan konsep ini, setelah Socrates memperkenalkan konsep tentang definisi (ta'rif). 

Lantas apa itu qismah? Apa saja istilah-istilah kunci yang harus kita pahami dalam pembahasan ini? Tulisan ini akan menjawab dua pertanyaan tersebut.

Pengertian

Dari sudut kebahasaan, qismah itu artinya pembagian. Dalam sebuah pembagian, sudah pasti di sana ada yang dibagi, bagian-bagian yang terbagi dari apa yang dibagi, dan dasar pembagian itu sendiri.

Sebuah pembagian yang benar harus mencakup tiga unsur tersebut. Untuk membedakan ketiganya, sekarang mari kita ambil satu contoh sederhana yang sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari kita: kata ustadz.

Apa mafhum, atau yang kita pahami, dari kata ustadz ini? Di Arab, kata ustadz ini sebenarnya adalah gelar akadamik bagi seorang guru besar. Orang yang secara kapasitas keilmuan sudah teruji disebut sebagai ustadz. Karena itu, dalam bahasa Arab, gelar keprofesoran itu disebut dengan istilah ustadziyyah.

Tapi ceritanya akan berbeda kalau kita berbicara dalam konteks Indonesia. Di sana, kata ustadz itu sangat mudah dilekatkan kepada siapa saja yang bisa berceramah, atau mengejar di lembaga-lembaga keagamaan, seperti pesantren dan sejenisnya, terlepas apakah ceramahnya senafas dengan ajaran Islam atau tidak. Terlepas apakah dia itu ustadz gadungan maupun ustadz sungguhan.   

Yang jelas, apapun mafhum yang dikandungnya, kata ustadz ini adalah kata yang bersifat universal. Nah, karena kata ustadz ini bersifat universal—dalam arti berlaku bagi banyak individu—maka, dalam terminologi ilmu mantik, kata ustadz ini termasuk lafaz kulliy.

Dan setiap lafaz kulliy—seperti yang kita tahu—itu memiliki dua aspek penunjukkan, yakni mafhum dan mashadaq. Mafhum menunjukan makna yang dikandungnya, sedangkan mashadaq menunjukan individu yang berada dalam cakupannya.  

Mafhum dari kata ustadz adalah guru Agama. Atau, lebih jelasnya, orang yang mengajar ilmu-ilmu Agama. Sedangkan mashadaq atau cakupan dari kata ini tentu sangat banyak: Ada ustadz Quraish Shihab, ustadz Said ‘Aqil Siradj, ustadz Nasaruddin Umar, ustadz Adi Hidayat, ustadz Abdullah Gymnastiar, ustadz Yusuf Mansur, dan ustadz-ustadz lainnya.

Pertanyaannya: Bagaimana kalau sekarang kita ingin membagi cakupan dari kata ini kedalam bagian-bagian tertentu? Lebih jelasnya, kita ingin mengklasifikasi kata ustadz kedalam bagian-bagian tertentu, lalu setelah itu kita sertakan nama-nama tertentu di bawahnya, sesuai dengan klasifikasi yang sudah kita tentukan itu.

Apa yang pertama kali harus kita lakukan? Yang pertama kali harus kita lakukan ialah memperjelas konsepsi kita tentang kata ustadz itu sendiri, dengan kaidah definisi yang sudah kita bahas. Setelah itu, kalau kita ingin melakukan pembagian, maka kita harus menentukan dasar pembagiannya.

Dasar pembagian ini penting. Karena tidak mungkin kita membagi satu kata kedalam bagian-bagian tertentu—dengan pembagian yang benar—sementara kita sendiri tidak menentukan terlebih dahulu apa dasar atau asas utama di balik pembagian itu.

Nah, dasar pembagian itu, dalam bahasa ilmu mantik, diistilahkan dengan asas al-Taqsim, atau asas al-Qismah. Kata yang terbagi—yang dalam hal ini adalah kata ustadz—disebut sebagai maqsam, bagiannya disebut qism. Masing-masing dari bagian, jika dinisbatkan kepada bagian yang lain, disebut sebagai qasim. Dan pembaginnya itu sendiri disebut dengan istilah qismah, atau taqsim.

Sekarang kita kembali pada contoh kata ustadz tadi. Kata tersebut bersifat umum. Dan kita ingin mengklasifikasinya kedalam bagian-bagian tertentu. Tapi, sekali lagi, untuk membangun sebuah pembagian yang benar, maka yang harus kita tentukan terlebih dahulu ialah dasar pembagiannya. Dan dasar pembagian itulah yang kita jadikan sebagai acuan.

Ustadz itu, misalnya, berdasarkan karya ilmiah yang dihasilkannya terbagi kedalam dua bagian: Ada ustadz yang produktif, ada ustadz yang tidak produktif. Ustadz yang produktif ini ialah a b, c, dan seterusnya. Sedangkan ustadz yang tidak produktif itu ialah ustadz d, e, f, dan seterusnya.

Artinya di sana ada nama-nama yang kita cantumkan berdasarkan pembagian tersebut. Dan nama-nama yang kita cantumkan itu bisa jadi berbeda kalau kita membagi kata ustadz berdasarkan asas pembagian (asas al-Taqsim) yang berbeda pula.

Kata ustadz, dalam contoh di atas, itu adalah maqsam, karena dia yang dibagi. Lalu produktivitas menjadi asas al-Taqsim. Masing-masing dari “produktif” dan “tidak produktif” disebut sebagai qism. Apabila yang satu dinisbatkan kepada yang lain, maka ia disebut sebagai qasim. Dan pembagiannya itu sendiri disebut sebagai qismah, atau taqsim.

Contoh lain: Dalam beberapa tulisan sebelumnya kita pernah membagi istilah-istilah tertentu dalam ilmu mantik kedalam beberapa bagian yang menjadi cakupannya. Pada pembahasan awal, misalnya, kita membagi ilmu kedalam dua bagian, yaitu tashawwur dan tashdiq.

Pertanyaannya: Mengapa ia hanya terbagi dua? Apa yang menjadi dasar pembagiannya? Dari uraian di sana kita tahu bahwa yang menjadi dasar itu ialah ada atau tidak adanya penghukuman. Ilmu yang tidak disertai penghukuman disebut tashawwur, sedangkan yang mengandung unsur penghukuman dikenal dengan istilah tashdiq.

Nah, dalam contoh tersebut, ilmu itu disebut sebagai maqsam, karena dia yang dibagi. Tashawwur dan tashdiq itu qism (jamaknya aqsam), karena dia menjadi bagian dari maqsam, yang dalam hal ini adalah ilmu. Apabila tashawwur dikaitkan dengan tashdiq, maka ketika itu ia disebut sebagai qasim. Lalu, ada atau tidak adanya penghukuman disebut sebagai asas al-Taqsim, karena dia yang menjadi dasar pembagian. Dan pembagiannya itu sendiri diistilahkan dengan qismah, atau taqsim.

Dari sini, qismah atau taqsim itu bisa kita artikan sebagai “proses membelah, membagi, dan menganalisis sesuatu kedalam bagian-bagian tertentu yang berbeda satu sama lain”. Dengan ungkapan yang lebih jelas, qismah itu adalah pembagian. Atau proses membagi sesuatu, yang dari proses pembagian itu akan melahirkan bagian-bagian tertentu, dan masing-masing dari bagian tersebut berbeda satu sama lain.  

Dalam qismah ini, sekali lagi, ada yang disebut sebagai maqsam, yaitu yang dibagi. Qism sebagai bagian yang yang dibagi. Bentuk jamaknya aqsam, yakni bagian-bagian. Asas al-Taqsim yang menjadi dasar pembagian. Lalu ada istilah qasim, yaitu ketika bagian-bagian tersebut dinisbatkan pada bagian yang lain. Dan terakhir ialah qismah atau taqsim itu sendiri, yang artinya ialah pembagian. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Baca Juga: Apa Itu Daur?