Pada zaman ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan sangat pesat menciptakan berbagai terobosan serta penemuan baru. Salah satunya adalah teknologi di mana para ilmuwan dapat menyisipkan, menghilangkan, dan mengubah gen pada suatu mikroorganisme, hewan maupun tumbuhan sehingga menghasilkan produk yang disebut dengan GMO (Genetic Modified Organism), teknologi ini dikenal dengan nama bioteknologi modern. 

Bioteknologi modern memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia seperti mencegah terjadinya suatu penyakit dengan membuat vaksin rekayasa genetik, meningkatkan hasil panen dengan membuat bibit unggul sehingga tanaman lebih cepat panen dan hasil panennya lebih banyak, membuat tanaman menjadi lebih resisten terhadap hama, menambah nilai gizi suatu makanan, menghasilkan obat yang lebih murah sehingga bisa terjangkau bagi semua kalangan masyarakat, teknologi transplantasi neukleus yang dapat menyelesaikan masalah flora dan fauna langka, serta membantu manusia menciptakan energi alternatif.

Sadar atau tidak ternyata banyak benda di sekitar kita yang yang berguna bagi kehidupan manusia yang merupakan hasil dari bioteknologi modern. Benda-benda itu di antaranya adalah  produk olahan susu (yogurt, keju, dan mentega), jagung manis, tomat, kentang, pepaya hawai, buah tanpa biji (seperti semangka dan anggur tanpa biji), kedelai minyak kanola, kacang polong, beras, gandum, salmon, ayam boiler, adalah bahan makanan hasil GMO. Vaksin, antibiotik, terapi gen, dan antibodi monoklonal merupakan produk bioteknologi modern dalam bidang kesehatan. Ada pula biogas dan bio-etanol yang merupakan energi alternatif hasil dari bioteknologi modern.

Namun, dibalik segudang manfaatnya bioteknologi modern memiliki dampak negatif seperti, dapat menimbulkan wabah penyakit, meningkatkan kadar racun pada tanaman yang jika terus-menerus dikonsumsi oleh manusia dapat menyebabkan penyakit, produk transgenik dapat menyebabkan alergi pada manusia, lepasnya organisme transgenik ke alam bebas dapat mengganggu kelestarian serta keseimbangan alam, berpotensi menciptakan gulma dan hama yang lebih kuat, dan kloning pada tumbuhan dan hewan yang membentuk keturunan yang seragam dapat mengurangi keanekaragaman hayati.

Atas kekhawatiran tersebut negara-negara di dunia yang tergabung dalam Convention on Biological Diversity (Konvensi Keanekaragaman Hayati) membentuk Kelompok Kerja Ad Hoc Terbuka tentang Keamanan Hayati yang bertujuan untuk mengembangkan rancangan protokol keamanan dengan fokus utama mengawasi perpindahan lintas batas benda GMO untuk meminimalisir terjadinya dampak negatif dari bioteknologi modern yang dapat berbahaya bagi kehidupan manusia serta konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati.

Kelompok Kerja Ad Hoc Terbuka tentang Keamanan Hayati mengadakan enam kali pertemuan. Pertemuan pertama diadakan pada Juli 1996 dan pertemuan terakhir pada Februari 1999 yang menghasilkan rancangan teks protokol. setelah pertemuan terakhir tepatnya pada tanggal 22 Februari 1999 diselenggarakan Conference of The Parties (Konferensi Para Pihak) pertemuan luar biasa pertama di Kota Cartagena, Kolombia untuk mempertimbangkan rancangan teks protokol dengan tujuan pengadopsian protokol keamanan hayati pada Convention on Biological Diversity.

Kekurangan waktu menyebabkan Conference of The Parties menangguhkan pertemuan luar biasa pertama dan bersepakat untuk menggelar pertemuan kedua. Pertemuan kedua dilaksanakan pada akhir Januari tahun 2000 di Kota Montreal, Kanada. Akhirnya Protokol Cartagena tentang keamanan hayati pada Convention on Biological Diversity diadopsi dalam Conference of The Parties dengan keputusan EM-I/3 dan disetujuinya pengaturan sementara sembari menunggu protokol berlaku. Dibentuklah ICCP (Intergoverment Committee for the Cartagena Protocol on Biosafety) yang bertugas mempersiapkan pertemuan pertama para pihak protokol.

Setelah tiga kali pertemuan ICCP, Protokol Cartagena resmi berlaku pada tanggal 11 September 2003 dengan pertemuan para pihak protokol yang dilaksanakan di Kota Kuala Lumpur, Malaysia. Hingga saat ini ada sekitar 130an negara di dunia yang menandatangani dan meratifikasi Protokol Cartagena.

Mengapa penting bagi suatu negara untuk meratifikasi Protokol Cartagena? Dikutip dari Jonathan A. Glass dalam jurnalnya yang berjudul Merits of Ratifying and Implementing the Cartagena Protocol on Biosafety, ia mengemukakan beberapa alasan mengapa penting bagi suatu negara untuk meratifikasi Protokol Cartagena yaitu:

  1. Pelepasan GMO secara sengaja di suatu negara  berpotensi mempengaruhi lingkungan negara tersebut bahkan lingkungan negara lain sehingga bisa menimbulkan masalah internasional.
  2. Protokol Cartagena membantu mengelola potensi risiko dari pelepasan GMO secara sengaja.
  3. Negara yang meratifikasi protokol akan mendapatkan informasi dari balai kliring yang merupakan badan pusat informasi mengenai GMO.
  4. Protokol memberikan standar pengaturan seragam yang  bermanfaat baik untuk negara pengimpor maupun perusahaan bioteknologi. Standar pengaturan seragam memungkinkan perdagangan transgenik aman ketika melewati perbatasan internasional, mengurangi biaya pemasaran sehingga konsumen global mudah untuk mendapatkan benda GMO.
  5. Dengan menerapkan protokol negara dapat menghentikan eksploitasi negara-negara yang regulasinya kurang ketat dan negara-negara tanpa regulasi.


Jadi, dengan meratifikasi Protokol Cartagena negara mendapatkan banyak manfaat seperti kemudahan mendapatkan informasi tentang GMO melalui balai kliring, dapat meningkatkan kualitas SDM dan kelembagaan pada bidang keanekaragaman hayati baik pusat maupun daerah, mendapatkan keuntungan dari penggunaan bioteknologi modern tanpa merugikan kehidupan manusia serta keanekaragaman hayati. dengan meratifikasi protokol ini negara turut berperan aktif dalam membantu mengawasi perpindahan lintas batas benda GMO, membantu menjaga keanekaragaman hayati, dan mencegah perdagangan ilegal benda GMO. 


Referensi:

Convention on Biological Diversity. About the Protocol. Diakses pada 10 Juli 2022, dari https://bch.cbd.int/protocol/background/

Fakultas Hukum Universitas Medan Area. Dampak Positif dan Negatif Bioteknologi bagi Kehidupan Manusia. Diakses pada 10 Juli 2022, dari https://hukum.uma.ac.id/2022/02/10/dampak-positif-dan-negatif-bioteknologi-bagi-kehidupan-manusia/

Glass, J. A. (2000). The Merits of ratifying and Implementing the Cartagena Protocol on Biosafety. Nw. J. Int'l L. & Bus, 21, 491.

Indonesia Biosafety Clearing House. Protokol Cartagena. Diakses pada 10 Juli 2022, dari https://indonesiabch.menlhk.go.id/protokol-cartagena/