Dalam hidup ini, semua orang berjuang untuk mempertahankan yang baik dalam dirinya, entah perbuatan, perkataan, relasi dengan Tuhan dan sesama, dan hal yang menyangkut sikap diri lainnya. Sejak kecil, kita juga sudah dididik, entah keluarga, guru di sekolah, dan juga para tokoh agama supaya hidup kita terarah pada hal-hal yang baik demi kebaikan relasi kita pula dengan orang lain sebagai makhluk sosial. 

Dalam hal ini, segala sesuatu yang bernilai baik itu selalu kita perjuangkan dan pertahankan. Kata ‘nilai’ menjadi kata kunci bagi kita menentukan setiap berpikir dan bertindak. Oleh karena, tidak jarang tindakan manusia demi sebuah nilai yang ia perjuangkan, misalnya nilai persahabatan, nilai kesetiaan, nilai kekudusan, nilai keberanian, dan lain sebagainya.

Namun, tahukah kita bahwa banyak orang mengartikan nilai hanya terbatas pada angka, sehingga berpikir bahwa dari nilai angka tersebut seakan ia memiliki kualitas yang mumpuni? Dalam hal ini dapat kita saksikan dalam dunia akademis. Seseorang yang memiliki kemampuan akademis tinggi sudah pasti ia akan menjadi juara di kelasnya karena nilai yang diperolehnya selalu tinggi dari teman-temannya yang di bawah rata-rata.

Dalam hal ini, terkadang kita tidak sadar bahwa orang yang pintar dengan nilai tertinggi ini hidupnya tidak sesuai dengan prestasi yang diraihnya. Bahkan lewat pengalaman yang ada banyak orang yang demikian jatuh pada kesombongan dan mendewakan bahwa nilai yang berbentuk angka ini adalah ukuran untuk kemapanan hidupnya di masa depan. 

Dalam hal ini, kerap kali orang yang demikian mengabaikan aspek-aspek kehidupan lainnya yang juga berguna bagi dirinya. Sebaliknya, hal itu terkadang bertolak belakang dengan orang-orang yang akademisnya di bawah rata-rata. 

Orang-orang yang tidak terlalu menonjol ini lebih tinggi sikap moralnya. Ia lebih terbuka untuk segala kemungkinan yang berguna bagi kehidupannya. Alasannya, karena ia sadar bahwa dirinya memiliki keterbatasan. 

Oleh karena itu, mereka lebih rajin, tekun, rendah hati. Dalam hal ini, tidak bermaksud menyudutkan mereka yang benar-benar memiliki kemampuan, karena tidak semua bersikap yang demikian. 

Banyak juga yang pintar makin rendah hati dan terbuka bahkan berpengaruh besar. Banyak pula yang di bawah rata-rata jatuh dan tidak berdaya sama sekali. Namun, penulis hanya mengajak bagaimana kita untuk kembali menyikapi makna nilai yang sesungguhnya.

Ada seorang anak yang memiliki prestasi cemerlang selama duduk di bangku sekolah sampai kuliah. Ia sangat memiliki kemampuan yang cepat dalam menangkap setiap materi yang diberikan oleh guru maupun dosen selama proses belajar-mengajar. Setiap nilai yang ia dapat saat ujian mulai dari angka 80 sampai 100. 

Dalam dunia pertemanan, ia  cukup disukai karena bisa diandalkan dalam setiap kerja kelompok. Demikian kemampuannya menganalisis sangat tajam, kritis, dan mendalam.

Si anak ini telah dititpkan orang tuanya sejak SMP sampai kuliah di sebuah asrama guna menjadi pribadi yang lebih baik dengan didikan guru dan dinamika asrama yang ia alami. Akan tetapi, satu hal yang menjadi kebiasaan tidak baik dari anak ini yang dijumpai teman-teman dan pembina asramanya, yakni malas, jorok, dan antisosial. 

Hal ini seakan membalik kemampuannya saat bisa diandalkan ketika di sekolah, tetapi nyatanya antisosial dan selalu mengunci kamar. Setiap jam kerja ia tidak pernah hadir, tiap jam makan kerap kali minta diantarkan di kamar dengan berbagai alasan. Sudah dinasihati dan ditegur teman, namun ia tidak menunjukkan perubahan. 

Akhirnya, setelah sekian lama dipertahankan oleh pembina asrama dan disabari oleh teman-temannya, si anak ini dikeluarkan secara baik-baik dari asramanya dengan tujuan lebih baik lagi saat bersama-sama dengan keluarga di rumah. Dalam hal ini, asrama bukan saja mencetak pribadi yang pintar, tetapi lebih dari itu pribadi yang dewasa, peka, berbudi luhur, pekerja keras, dan sesuai tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

Dari pengalaman ini, ingin menyiratkan bahwa hidup itu perlu keseimbangan antara hati dan pikiran, antara perkataan dan tindakan, antara prestasi dan sensasi, antara kuantitas dan kualitas, dan sebagainya. 

Ada istilah mengatakan: Non Scholae Sed Vitae Discimus yang artinya sekolah bukan untuk mencari nilai semata, tetapi untuk kehidupan. Artinya, jika sekolah hanya jatuh pada pencarian nilai dan prestasi, maka itu hanya terbatas sejak kita sekolah saja. 

Selesai sekolah, tidak akan ada yang kita perbuat atau yang kita terapkan dari ilmu yang kita dapatkan. Sementara jika kita menjadikan sekolah sebagai jalan untuk mematangkan kehidupan, maka nilainya akan melampaui nilai angka yang selalu menjadi ukuran ketika kita menempuh pendidikan. Nilainya dapat dirasakan oleh banyak orang dengan segala sikap yang kita bawa.

Kisah seorang anak yang diceritakan di atas menandakan bahwa sebenarnya ia masih jatuh pada kebanggaan bahwa ia pintar dan bisa mendapat nilai tinggi yang ukurannya hanya angka. Namun, ia tidak melihat bahwa nilai kerja, nilai kebersamaan juga sangat berguna bagi hidupnya. Dalam hal ini, justru tindakan konkret itulah nilai yang sesungguhnya.

Ia membuat kita tidak kaku dalam mengadapi dunia ini. Dalam hal ini, nilai itu bukan tujuan tetapi sarana untuk mencapai tujuan yang lebih baik, yakni mengarahkan tindakan dan pikiran untuk menjalani kehidupan ini.