8 bulan lalu · 387 view · 5 menit baca · Filsafat 86597_20288.jpg
www.agreek.com

Apa Itu Nau'?

Ngaji Mantik Bag. 25

Ketika Anda bertanya apa itu manusia? Maka jawabannya seperti yang sudah saya jelaskan pada tulisan yang lalu bahwa ia adalah hewan yang berpikir. Kata hewan menjadi jins, dan kata berpikir menjadi fashl. Tapi ketika Anda bertanya: Apa itu Zaid, Muslim, Udin, dan Khalid, maka jawabannya tentu mereka adalah manusia. Karena mereka merupakan individu yang tercakup oleh kata manusia. Dan hakikat mereka sama dalam aspek kemanusiaannya.

Contoh lain: Ketika Anda bertanya apa itu khamar? Maka jawabannya ialah minuman yang memabukkan (syarab muskir). Kata minuman menjadi jins—yang menyatukan dia dengan jenis minuman yang lain—dan kata memabukkan menjadi fashl, karena dia membedakan khamar dari minuman-minuman yang lain.

Tapi ketika pertanyaannya berkaitan dengan individu yang tercakup oleh kata khamar, seperti pertanyaan apa itu vodka, wiski, brendi, gin, rum, dan tequila? Maka jawabannya adalah khamar. Karena mereka semua adalah individu atau afrad yang tercakup oleh kata khamar. Dan hakikat mereka sebagai khamar itu sama, tidak berbeda.   

Nah, dalam istilah ilmu mantik, kata manusia dan khamar yang mencakup individu-individu yang hakikatnya sama itu disebut sebagai na’u. Setelah menguraikan jins dan fashl, pada tulisan kali ini kita akan menguraikan bagian ketiga dari kulliyat khamsah, yaitu nau’. Apa itu nau’? Apa saja pembagiaan dan contoh-contohnya? Dua pertanyaan itu akan kita jawab secara tuntas dalam tulisan ini.

Pengertian

Nau’ adalah kulliy yang diberlakukan bagi banyak individu yang hakikatnya sama dan berfungsi untuk menjawab pertanyaan: apa dia? Dari satu sisi, nau’ sama dengan jins, yakni sebagai kulliy yang berfungsi untuk menjawab pertanyaan yang menyingkap hakikat sesuatu. Tapi, di sisi lain, ia berbeda dengan jins.

Apa bedanya? Bedanya, jika jins diberlakukan untuk banyak individu yang hakikatnya berbeda, sedangkan nau’ diberlakukan untuk individu yang hakikatnya sama.

Sekarang coba Anda perhatikan kata hewan dan kata manusia. Kata hewan berlaku bagi individu yang banyak. Dan kata manusia juga berlaku bagi individu yang banyak. Tapi, kata hewan diberlakukan bagi banyak individu yang hakikat atau esensinya berbeda.

Baca Juga: Apa Itu Fashl?

Esensi monyet berbeda dengan esensi kuda, esensi kuda berbeda dengan esensi singa, dan esensi singa juga berbeda dengan esensi manusia. Meskipun semuanya dikatakan sebagai hewan.

Ini berbeda dengan nau’ yang diberlakukan untuk individu yang hakikat atau esensinya sama. Contohnya seperti manusia yang diberlakukan untuk Zaid, Udin, Khalid, Umar, dan Ahmad. Mereka semua adalah manusia. Dan esensi mereka sebagai manusia itu sama, tidak berbeda. Dengan demikian, kata manusia, jika dinibatkan kepada individu-individunya adalah nau’.

Membedakan Nau’ Idhafiy dengan Nau’ Haqiqiy

Ada dua macam nau’ yang harus kita ketahui, yaitu nau’ haqiqiy dan nau’ idhafiy. Untuk mengetahui perbedaan keduanya, lihat kembali pohon phorpyrius yang sudah penulis cantumkan pada tulisan yang lalu. Selanjuntya simak penjelasan sebagai berikut:

[1] Nau’ Haqiqiy

Definisinya: kulliy yang diberlakukan untuk banyak individu yang hakikatnya sama. Penjelasannya sudah kita terangkan di atas. Dengan pengertian lain, nau’ haqiqiy ialah nau’ yang terletak di bawah jins qarib, dan di bawahnya hanya ada afrad (individu).

Contohnya seperti kata insan yang terletak di bawah kata hewan, dan di bawahnya ada Ahmad, Ali, Zaid, dan Udin. Kata insan disebut nau’ haqiqi—atau sering juga disebut nau’ al-Anwa’—karena di bawahnya hanya ada afrad (individu), bukan nau’, juga bukan jins.

[2] Nau Idhafiy

Definisinya: kulliy yang diberlakukan untuk banyak individu, baik yang hakikatnya sama, maupun hakikatnya berbeda, dan berfungsi untuk menjawab pertanyaan apa dia.

Lebih jelasnya, na’u idhafi mencakup nau’ haqiqi—jika dinisbatkan kepada jins di atasnya—juga mencakup jins, jika dinisbatkan pada jins di atasnya lagi. Contohnya seperti insan. Insan itu nau’ haqiqiy, jika dinisbatkan kepada afrad-nya. Tapi dia menjadi nau’ idhafi, jika dinisbatkan kepada hewan.

Baca Juga: Apa Itu Jins?

Kata hewan juga menjadi jins qarib, jika dinisbatkan pada kata insan. Tapi ia menjadi nau’ idhafiy jika dinisbatkan pada jismun namin yang berada di atasnya. Kata jismun namin juga menjadi jins jika dinisbatkan pada kata hewan. Tapi dalam saat yang sama ia juga menjadi nau’ idhafiy jika dinisbatkan kepada jism sebagai jins yang berada di atasnya.

Dengan demikian, nau’ idhafiy mencakup nau’ haqiqiy dan juga jins. Perbedaannya hanya penisbatan saja. Jika dia dinisbatkan ke bawah, maka dia menjadi jins. Tapi jika dia dinisbatkan ke atas, maka dia menjadi nau’. Nau’-nya bukan nau’ haqiqiy, melainkan nau’ idhafiy.

Pembagian Nau’ Haqiqiy

Berdasarkan penisbatana nau’ kepada afrad-nya, nau’ haqiqiy dibagi dua: Ada nau’ haqiqiy munfarid, dan ada nau’ haqiqiy ghair munfarid.

[1] Nau’ Munfarid

Definisinya: Nau’ yang tidak berada di bawah jins, tapi di bawahnya ada afrad. Contohnya seperti kata nuqthah (titik) dan ‘aql (akal).

[2] Nau’ Ghair Munfarid

Definisinya: Nau’ yang terletak di bawah jins, dan di bawahnya ada afrad haqiqiy. Contohnya seperti kata insan. Ia terletak di bawah kata hewan. Tapi di bawahnya hanya ada individu yang tercakup oleh kata insan, yakni Zaid, Udin, Khalid dan Ali, misalnya.

Pembagian Nau Idhafi

Berdasarkan ada atau tidaknya afrad sebuah nau’, nau’ idhafiy dibagi kedalam tiga bagian. Apa saja yang tiga itu? Mari kita simak uraiannya sebagai berikut:

[1] Nau’ Safil

Definisinya: nau’ yang berada di bawah jins, dan di bawahnya hanya ada afrad. Singkatnya, nau’ safil adalah nau’ yang berada di bagian paling bawah. Contohnya seperti kata insan yang di bawahnya Zaid, Ali, Khalid dan manusia-manusia lainnya.

[2] Nau’ Mutawassith

Baca Juga: Apa Itu Dalalah?

Definisinya: nau’ yang berada di bawah jins, dan di bawahnya masih ada nau’ idhafiy. Contohnya seperti jismun namin yang berada di bawah jins, yakni jism, dan di bawahnya bukan ada afrad, melainkan nau’ idhafiy, yaitu hewan. Dan dia juga menjadi jins, jika dinisbatkan kepada insan. Pendeknya, nau’ mutawassith adalah nau’ yang berada di tengah.

[3] Nau’ Ali

Definisinya: nau’ yang berada di bawah jins ‘ali (jinsul ajnas), dan di bawahnya ada beberapa nau’ idhafiy. Contohnya seperti kata jism. Dia berada di bawah jinsun ‘ali, yakni jauhar, dan di bawahnya ada beberapa nau’ idhafiy, yaitu jismun namin, dan hayawan. Dengan kata lain, nau’ ‘ali adalah nau’ yang berada di bagian paling atas, tepatnya di bawah jinsul ajnas, yaitu jauhar.

Kesimpulannya, nau’ adalah kulliy (mafhum universal) yang diberlakukan bagi banyak individu yang memiliki hakikat yang sama dan dia berfungsi untuk menjawab pertanyaan apa dia. Ia terbagi dua. Satu, haqiqiy. Dua, idhafiy. Masing-masing dibagi lagi. Nau’ haqiqiy ada yang munfarid, dan ada yang ghair munfarid. Sementara nau’ idhafi terbagi tiga, yaitu nau’safil, nau’ mutawassith dan nau’ ali. Demikian. Wallahu ‘alam.