6 bulan lalu · 252 view · 5 menit baca · Filsafat 97996_87806.jpg
MercatorNet

Apa Itu Mushadarah 'Alal Mathlub?

Ada salah satu kesalahan berpikir yang selama ini sering kita saksikan, baik dalam diskusi-diskusi ilmiah maupun dalam percakapan sehari-hari kita, khususnya di tembok-tembok media sosial yang kita kenal sebagai sarangnya obrolan-obrolan tak berguna.

Kesalahan berpikir yang dimaksud ialah: seringkali orang berdialog, berdiskusi, atau berdebat untuk sampai pada kesimpulan tertentu. Tapi, tanpa mereka sadari, kesimpulan yang hendak mereka cari itu mereka sertakan pada bagian argumen yang sengaja mereka bangun untuk sampai pada kesimpulan itu.  

Misalnya, sebagai contoh paling sederhana, kita ingin berdiskusi tentang kelayakan bapak Jokowi untuk menjadi Presiden di tahun 2019. Pertanyaan yang bisa diajukan ialah: “Layakkah Jokowi menjadi presiden di tahun 2019? Jawabannya tentu bisa iya, bisa tidak. Tergantung pada premis seperti apa yang kita bangun.

Lalu, setelah pertanyaan itu diajukan, misalnya, salah satu mitra diskusi berkata:

Dalam hemat saya, kelayakan Jokowi sebagai presiden itu sudah tidak perlu diragukan. Dia sudah melakukan pembangunan secara maksimal dalam berbagai sektor. Di samping itu, orangnya juga rendah hati dan merakyat. Indonesia sangat butuh kepada tipe pemimpin yang seperti itu. Setiap pemimpin yang seperti itu sangat layak untuk dipilih. Karena itu, dia layak untuk kembali menjadi presiden di tahun mendatang.

Di mana letak kecacatan argumen ini? Jika Anda perhatikan pernyataan di atas secara seksama, jawabannya sangat jelas. Dalam pernyataan tersebut, yang bersangkutan sudah menarik kesimpulan—yang dijadikan sebagai klaim utama—kedalam premis-premis yang dikemukakan sebelumnya.

Pertanyaan yang hendak kita jawab bersama dalam diskusi di atas ialah: Apakah Jokowi layak untuk menjadi Presiden lagi atau tidak? Lalu, belum apa-apa, orang itu sudah menyebut kata kelayakan dalam salah satu bagian argumen yang diutarakannya.

Padahal, untuk memastikan layak atau tidaknya Jokowi menjadi presiden itu, yang harus disertakan di awal adalah premis-premis yang menjadi basis argumennya, bukan konklusinya.

Nah, penarikan suatu konklusi, yang dijadikan sebagai klaim utama, ke dalam premis itu, dalam bahasa Ilmu Logika, disebut dengan istilah mushadarah ‘alal mathlub (petitio principii/the fallacy of begging the question).

Dalam bahasa Arab, kata mushadarah itu sendiri bermakna “penarikan”. Sedangkan mathlub artinya ialah “sesuatu yang dicari”, yang dalam hal ini adalah konklusi atau kesimpulan.

Dalam proses pembuktian klaim yang benar, para logikawan klasik memperkenalkan apa yang disebut sebagai qiyas (silogisme). Qiyas itu terangkai, setidaknya, dari dua premis dan satu konklusi.

Dan konklusi itu harusnya diletakkan di bagian akhir, bukan di awal. Manakala ia kita letakkan di bagian awal, baik sengaja ataupun tidak, maka ketika itulah kita akan terjebak dalam kesalahan berpikir (logical fallacy).

Ketentuan ini terlihat sangat sederhana. Tapi, meski begitu, dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita menyaksikan orang-orang yang menyalahinya, baik secara sadar ataupun tidak.

Begitu juga dalam buku-buku ilmiah. Saya beberapa kali menjumpai argumen-argumen yang melanggar ketentuan tersebut. Dan itu kadang terlahir dari seorang filsuf besar, bukan orang biasa.

Kesalahan-kesalahan itu terlalu banyak untuk kita kemukakan dalam tulisan pendek ini. Untuk lebih memahami lagi, kita akan ambil contoh sederhana yang lain sebagai berikut:

Misalnya, saya dan Anda duduk bersama untuk menjawab pertanyaan: “Nissa Sabyan itu cantik atau tidak?” Saya bisa menjawab tidak, Anda bisa berkata iya. Tergantung premis seperti apa yang kita bangun memastikan kecantikan Nissa Sabyan itu.

Lalu, sebelum kesimpulan dihasilkan, Anda misalnya berkata: “Nissa Sabyan itu, di samping memiliki suara yang bagus, dia juga memiliki wajah yang indah. Setiap perempuan yang seperti itu layak disebut cantik. Kesimpulannya: Nissa Sabyan itu cantik.”

Kalau tidak jeli, Anda bisa saja mengiyakan argumen ini. Padahal, di sana ada konklusi yang ditarik ke dalam premis. Di bagian awal, yang bersangkutan sempat menyatakan bahwa Nissa Sabyan itu memiliki wajah yang indah. Padahal, wajah indah dengan cantik itu maknanya sama saja. Itu-itu juga.

Artinya, klaim yang hendak kita buktikan kebenarannya sudah ditarik duluan ke dalam premis, dengan pilihan kata yang berbeda, tapi maknanya sama. Itulah yang disebut dengan istilah mushadarah ‘ala mathlub, yaitu “proses menjadikan konklusi sebagai bagian dari premis”.

Menurut al-Tahawani, penulis buku Kassyâf Ishthilâhât al-Funûn, mushadarah ‘alal mathlub ini bisa kita temukan dalam empat bentuk. Apa saja empat bentuk yang dimaksud? Penjelasannya sebagai berikut:

Bentuk pertama: menjadikan suatu klaim sebagai dalil itu sendiri. Contoh: saya mengklaim bahwa Indonesia itu adalah negara yang maju. Lalu apa dalilnya? Dalilnya ya karena Indonesia adalah negara yang maju. Atau, dalilnya ialah karena Indonesia bukan negara yang terbelakang.

Orang waras mana pun di dunia ini pasti akan tertawa dengan jawaban tersebut. Tapi, dalam percakapan sehari-hari, secara sadar atau tidak, kita kadang terjebak pada kesalahan yang satu ini. Kita mengklaim sesuatu, tapi sesuatu yang kita klaim itu sendiri kita jadikan sebagai dalil untuk membuktikan kebenaran klaim yang kita kemukakan itu. Dan ini jelas keliru.

Bentuk kedua: menjadikan klaim sebagai bagian dari dalil. Contoh: saya mengklaim bahwa menikung itu termasuk perbuatan haram. Lalu, untuk membuktikan klaim tersebut, saya berkata: “Menikung itu adalah perbuatan terlarang, setiap perbuatan yang terlarang itu adalah perbuatan haram. Kesimpulannya: menikung itu adalah perbuatan haram.”

Cara berdalil seperti ini juga keliru. Karena di sana kita menjadikan konklusi sebagai bagian dari premis. Atau menjadikan klaim sebagai bagian dari dalil. Karena pernyataan saya bahwa “menikung itu adalah perbuatan terlarang” itu sama saja dengan klaim saya di awal yang menyatakan bahwa “menikung itu adalah perbuatan haram.”

Bentuk ketiga: menggantungkan kesahihan suatu dalil pada klaim itu sendiri. Contoh: saya mengklaim bahwa Wahabi itu adalah mazhab yang menyimpang dari ajaran Ahlussunnah. Lalu, untuk mengukuhkan klaim tersebut, saya meyertakan dalil yang kebenarannya juga bergantung pada klaim tadi.

Misalnya saya berkata: “Bukti bahwa Wahabi itu menyimpang karena mazhab ini telah menyebarkan doktrin-doktrin yang bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah.”  

Cara berdalil seperti ini juga salah. Tidak boleh kita membuktikan kebenaran suatu klaim dengan suatu dalil, sementara kebenaran dalil itu sendiri bergantung pada kebenaran klaim tersebut.

Saya mengklaim bahwa Wahabi itu adalah mazhab yang menyimpang dari ajaran Ahlussunnah. Tapi, dalil saya yang mengatakan bahwa “Wahabi itu menyebarkan doktrin-doktrin yang bertentangan dengan Ahlussunnah”, kesahihannya bergantung pada klaim saya yang menyebutkan bahwa “Wahabi itu adalah mazhab yang menyimpang dari ajaran Ahlussunnah”.

Bentuk keempat: menggantungkan kesahihan sebagian dalil kepada klaim itu sendiri. Bedanya dengan bentuk sebelumnya ialah: jika dalam bentuk sebelumnya yang bergantung pada klaim itu seluruh dalil, maka dalam bentuk yang terakhir itu yang bergantung pada klaim itu hanya sebagian dalil.

Contoh: saya mengklaim bahwa suara Nissa Sabyan itu bagus. Lalu, untuk mengukuhkan klaim tersebut, saya berkata bahwa: “Suara Nissa Sabyan itu banyak dinikmati orang, dan setiap suara yang banyak dinikmati orang itu bagus. Kesimpulannya: suara Nissa Sabyan itu bagus.”

Dari argumen tersebut, terlihat bahwa kesahihan premis pertama sangat bergantung pada kesahihan dari klaim sebelumnya. Tapi premis kedua yang menyatakan bahwa “setiap suara yang banyak dinikmati orang itu bagus” tentu kesahihannya tidak bergantung pada klaim yang menyatakan bahwa suara Nissa Sabyan itu bagus. Artinya, kesahihan yang satu bergantung pada kesahihan klaim tadi, sedangkan yang satu lagi tidak.

Inilah empat bentuk musadharah ‘alal mathlub yang dikenal dalam Ilmu Logika. Intinya, dalam berdalil, kita tidak boleh menarik konklusi—yang kita jadikan sebagai klaim (da’wa/mudda’a)—ke dalam premis (muqaddimah). Karena premis itulah yang seharusnya melahirkan konklusi, bukan sebaliknya. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.