Sewaktu mondok saya pernah menerima surat cinta dari seorang wanita yang secara terus terang ingin menjadi pacar saya. Sebagai bocah yang masih culun, kala itu, sayapun tak begitu menghiraukan isi surat itu. Singkat cerita, "penawaran" itupun saya tolak. Bukan karena saya jual mahal, tetapi karena saya masih awam dalam urusan asmara.   

Sampai batas tertentu terkadang saya agak menyesali penolakan itu. Mengingat bahwa setelah beranjak dewasa perempuan yang dulu saya tolak itu tumbuh dengan paras cantik, manis, aduhai dan mempesona. Di saat saya terkapar dalam kejombloan, perempuan itu justru sudah merasakan indahnya mahligai pernikahan.

Namun, setelah menjalani hidup di Kairo, saya berjumpa lagi dengan perempuan lain yang tak kalah mempesona dari perempuan sebelumnya. Tapi kali ini kisahnya terbalik.  Kalau dulu saya ditembak, sekarang saya diberi kesempatan untuk menembak. 

Dan akhirnya, tanpa banyak negosiasi, perempuan itupun menerima cinta saya. Hanya saja, selang beberapa bulan kemudian, kisah cinta itu berujung dengan kegagalan, yang di samping menyisakan rasa sakit, juga meninggalkan segudang nestapa dan air mata kesedihan.

Begitulah hidup. Kadang pilihan kita berbuah kebahagiaan. Tapi tak jarang juga pilihan kita menyisakan kesedihan dan penderitaan. Hidup kita hanyalah perputaraan antara kedua hal itu. 

Apa yang saya kemukakan di atas hanyalah ilustrasi sederhana untuk memahami satu istilah filsafat yang hendak saya jelaskan dalam tulisan ini. Untuk memahami istilah yang dimaksud, sekarang mari kita perhatikan kembali ilustrasi tersebut dengan cermat.

Dalam kasus pertama, ada perempuan yang mengutarakan rasa suka kepada saya melalui surat yang saya baca. Dan sebagai respon balik, ketika itu saya memberikan penolakan. Tapi, sebelum memutuskan untuk menolak, sebenarnya saya punya dua pilihan yang kemungkinan dua-duanya bersifat setara.

Saya mungkin menolak, dan saya juga mungkin menerima. Itu dua kemungkinan yang pada mulanya bersifat setara. Dengan kata lain, kemungkinan yang satu tidak lebih unggul dari kemungkinan yang lain.

Namun, pada akhirnya, saya memutuskan untuk menolak. Dengan demikian, setelah diambilnya suatu keputusan, kemungkinan yang satu menjadi unggul dari kemungkinan yang lain. Dua sisi yang tadinya setara itu jadi berat sebelah. Mengapa? Karena kehendak saya memutuskan untuk menolak.

Yang jadi pertanyaan adalah: mungkin tidak ada dua kemungkinan yang pada mulanya bersifat setara, lalu sisi yang satu menjadi lebih unggul dari sisi yang lainnya, tapi keunggulannya itu sendiri tidak disebabkan oleh apa-apa?

Pertanyaan yang sama bisa kita ajukan kepada ilustrasi yang kedua. Di sana saya mengutarakan cinta kepada seorang perempuan. Padahal, sebelum mengutarakan perasaan, saya memiliki dua pilihan yang kedua-duanya bersifat setara. Mungkin mengutarakan, dan mungkin tidak. Lalu saya memberanikan diri untuk mengambil pilihan pertama.

Lagi-lagi, di sana ada dua sisi yang tadinya bersifat setara. Tapi, setelah diambil suatu keputusan, sisi yang satu menjadi lebih berat dari sisi yang lain. Pertanyaannya: mungkinkah keunggulan sisi yang lebih berat itu terwujud tanpa adanya sebab? Betapapun lamanya Anda menjawab, selama nalar Anda sehat, Anda akan berkata tidak.

Tidak mungkin ada dua sisi kemungkinan yang bersifat setara, lalu yang satu lebih unggul dari yang lain, tapi keunggulannya itu sendiri tidak didasari oleh suatu sebab. Akal yang sehat tetap akan menuntut adanya sebab.

Contoh sederhana lainnya ialah timbangan. Pergilah ke pasar, lalu perhatikanlah timbangan yang memiliki dua sisi. Dan kedua sisi itu berada dalam posisi setara; yang satu tidak lebih berat dari yang lain.

Kalau tiba-tiba sisi yang satu menjadi lebih berat dari yang lain, mungkinkah terberatkannya sisi yang satu itu terwujud tanpa adanya sebab? Tidak mungkin. Pastilah di sana ada sebab. Soal sebabnya itu apa, itu soal lain. Yang jelas akal kita menuntut adanya sebab.

Nah, sebab itulah yang dalam bahasa filsafat disebut dengan istilah murajjih. Kata murajjih itu, secara harfiah, artinya "yang memberatkan", atau "yang menguatkan", terambil dari kata kerja rajjaha-yurajjihu.

Itu sebabnya, dalam dunia fikih, jika ditemukan perbedaan pendapat dalam persoalan tertentu, kita kerap mendengar istilah qaul râjih, untuk pendapat yang argumennya lebih kuat, dan qaul marjûh, untuk pendapat yang argumennya terlihat lemah.

Dalam filsafat, murajjih itu adalah sebab yang menjadikan salah satu sisi dari dua kemungkinan—yang pada mulanya berada dalam posisi setara—lebih berat dan lebih unggul ketimbang sisi yang lainnya. Keberadaan murajjih ini menjadi hal yang niscaya manakala kemungkinan yang satu mengalahkan kemungkinan yang lain. 

Karena itu, kalau ada dua sisi kemungkinan yang tadinya bersifat setara, lalu yang satu menjadi lebih berat dari yang lain, tapi terberatkannya salah satu sisi itu tidak didasarkan pada satu sebab yang jelas, para filsuf menyebutnya dengan istilah tarjîh bilâ murajjih, atau rujhân al-Syai bidûni murajjih. Dan itu tidak mungkin, alias mustahil.   

Mengapa tidak mungkin? Karena akal sehat kita menolak itu. Terlepas dari apapun sebab yang kita sebutkan, yang jelas, manakala ada dua kemungkinan yang bersifat setara, kemudian yang satu lebih unggul dari yang lainnya, maka pastilah di sana ada sebab.

Dalam ilmu kalam, istilah ini sering dikemukakan dalam berbagai macam pembahasan, salah satunya, misalnya, dalam pembahasan mengenai penciptaan alam. Kita percaya bahwa alam semesta ini ada dari ketiadaan. Itu artinya, sebelum alam ini ada, dia itu tiada. Sisi ketiadaan, ketika itu, lebih berat dari sisi keadaan.

Sekarang anggaplah bahwa sebelumnya alam semesta ini mungkin ada, dan mungkin tidak ada. Dan dua kemungkinan itu bersifat setara. Manakala dia ada, maka pastilah di sana ada sebab yang menghendakinya ada. Dan ketika dia tiada, juga pasti di sana ada sebab yang menghendaki ketiadaannya.

Karena, sekali lagi, tidak mungkin ada dua sisi yang tadinya setara, kemudian yang satu lebih unggul dari yang lainnya, tapi keunggulannya itu sendiri tidak disebabkan oleh apa-apa.

Pada akhirnya, baik orang beriman maupun orang Ateis, akan "dipaksa" untuk percaya bahwa keberadaan alam semesta ini memiliki sebab. Sebabnya apa? Itulah yang menjadi perdebatan keras di antara mereka.

Baca Juga: Apa Itu Tajrid?

Orang beriman akan mengatakan bahwa yang menjadi sebab itu adalah Tuhan. Sementara kaum materialis akan berkata bahwa yang menjadi sebab itu adalah materi. Tetapi apa itu materi? Dan mungkinkah dia menjadi sebab bagi keberadaan alam semesta ini? Dua pertanyaan ini saja sudah melahirkan diskusi panjang di kalangan para filsuf.  

Terlepas dari itu, yang jelas, apapun sebabnya, akal yang sehat akan menuntut adanya sebab. Kalau ada orang yang berkata bahwa alam semesta ini muncul sekonyong-konyong, dengan dirinya sendiri, tanpa adanya sebab, maka jelas pandangan seperti ini sangat sulit untuk kita terima.

Itulah yang dimaksud dengan ungkapan tarjîh bilâ murajjih, atau, rujhân al-Syai bidûni murajjih. Maknanya seperti yang saya singgung di atas, yakni terberatkannya salah satu sisi dari sisi yang lain tanpa didasarkan pada suatu sebab. Dan itu mustahil.

Kesimpulannya, jika ada dua kemungkinan yang bersifat setara, kemudian sisi yang satu menjadi unggul dari sisi yang lainnya, maka pastilah keunggulan tersebut meniscayakan adanya sebab. Dan sebab itulah yang dalam filsafat Islam disebut dengan istilah murajjih. Demikian, wallahu 'alam bisshawâb.