Bayangkan suatu ketika Anda menyalakan api kompor di dalam ruangan dapur. Lalu, setelah itu, Anda letakkan panci di atasnya untuk mendidihkan beberapa liter air. Selang beberapa waktu kemudian air itu akan mendidih. Setelah mendidih, kucurkanlah air itu ke muka Anda. Dan setelah itu, muka Anda akan rusak, bahkan mungkin berubah ke lain rupa. 

Melalui ilustrasi tersebut, kita bisa katakan bahwa api itu menjadi sebab di balik mendidihnya air. Dan air yang mendidih itu sendiri pada gilirannya menjadi sebab di balik rusaknya muka Anda. Dengan demikian, di sana ada sesuatu yang menjadi sebab, dan di sana juga ada sesuatu yang menjadi akibat.

Dalam filsafat Islam, sebab itu diistilahkan dengan kata illat, sedangkan akibat disebut sebagai ma'lûl. Adapun hukum yang menetapkan keduanya disebut dengan istilah qânûn al-'Illiyyah (law of causality/hukum kausalitas). Tidak begitu sulit untuk memahami hukum ini. Di mana ada akibat, pastilah di sana ada sebab. Sebagaimana adanya sebab juga meniscayakan adanya akibat.   

Api, dalam contoh di atas, menjadi illat (sebab), dan mendidihnya air—yang Anda letakkan di atas kompor—itu menjadi ma'lûl (akibat). Satu hal yang perlu Anda cermati bahwa ketika Anda mengatakan "api itu adalah sebab di balik mendidihnya air", maka itu artinya Anda memberlakukan konsep (mafhûm) universal bernama sebab kepada individu (mâshadaq) yang berada dalam cakupan kata air.

Dengan demikian, melalui kalimat tersebut, kita sebenarnya sedang memberlakukan sesuatu kepada sesuatu yang lain. Memberlakukan konsep universal bernama sebab ('illat), sebagai predikat (mahmûl), kepada individu yang berada dalam cakupan kata air, yang berposisi sebagai subjek (maudhu'). 

Sekarang, pertanyaannya: pemberlakuan konsep sebab kepada api itu terjadinya di mana? Di alam nyata—seperti halnya pemberlakuan konsep universal pertama (ma'qûl awwaliy), yang saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya—atau di dalam nalar kita? Untuk melahirkan jawaban yang tepat, kita perlu memiliki ketelitian yang cukup kuat.

Tapi, pada akhirnya harus kita katakan bahwa pemberlakuan konsep sebab kepada air itu hanya terjadi di dalam nalar kita. Ya, apinya memang ada di alam nyata. Tapi, harap diingat bahwa konsep sebab itu sendiri tidak ada wujudnya di alam nyata. Dia hanya ada di kepala.  Yang ada di alam nyata itu hanya api dan air.

Sedangkan sebabnya itu sendiri hanya berupa makna yang kita tangkap dari pertalian antara kedua hal itu. Manakala api memanas, dan panasnya api itu menjadi sebab di balik mendidihnya air, maka ketika itu lahirlah di kepala kita satu konsep universal bernama sebab ('illat).

Dengan demikian, dalam contoh di atas, konsep universal bernama sebab-akibat ('illat-ma'lûl) itu didasarkan pada konsep universal pertama (ma'qûl awwaliy), yang dalam hal ini adalah api dan air. Dia tidak terlahir pada pengamatan pertama, seperti halnya konsep-konsep universal yang saya terangkan dalam tulisan sebelumnya. Tetapi dia terlahir dari pengamatan kedua. Dan karena itulah dia didasarkan pada konsep universal yang pertama/primer.

Karena dia didasarkan pada konsep universal primer, maka dari sinilah para filsuf Muslim memperkenalkan istilah selanjutnya yang mereka sebut sebagai ma'qûlât tsânawiyyah/tsâniyah (konsep-konsep universal sekunder). Sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya, pada tulisan ini saya akan menguraikan tentang istilah itu beserta contoh-contohnya.

Penting dicatat bahwa terkait ma'qûlât tsânawiyyah ini mereka membaginya kedalam dua bagian: Pertama, ada yang mereka sebut sebagai ma'qûlât tsânawiyyah manthiqiyyah (konsep universal sekunder-logis). 

Kedua, ma'qûlât tsânawiyyah falsafiyyah (konsep universal sekunder-filosofis). Bagaimana kita membedakan kedua istilah ini? Jawabannya bisa kita temukan dalam uraian sebagai berikut:

Ma'qûlât Tsânawiyyah Manthiqiyyah (Konsep Universal Sekunder-Logis)

Dalam tulisan sebelumya sudah saya terangkan bahwa yang dimaksud dengan kata ma'qûlât itu ialah konsep-konsep universal (kulliyyât). Jika yang pertama dinamai sebagai konsep-konsep universal primer, maka yang kedua ini kita sebut sebagai konsep-konsep universal sekunder. Yang pertama dinamai primer (awwaliy) karena terlahir dari pengamatan pertama kita terhadap individu-individu tertentu yang ada di alam nyata.

Sedangkan yang kedua dinamai sekunder (tsânawiy) karena konsep-konsep universal yang kedua ini didasarkan pada konsep-konsep universal yang diperoleh melalui pengamatan pertama. Dalam tulisan yang lalu saya memberi contoh dengan kata laptop. Laptop itu masuk kategori konsep universal primer (ma'qûl awwaliy). Karena dia diperoleh melalui pengamatan pertama kita terhadap individu-individunya yang berada di alam nyata.

Tapi sekarang bagaimana kalau ada ungkapan yang bunyinya seperti ini: Laptop itu universal (kulliy). Perhatikan kalimat tersebut dengan baik. Di sana ada kata laptop, dan ada juga kata universal. 

Kita memberlakukan konsep universal kepada laptop. Kata laptop itu universal, dan kata universal itu juga universal. Lalu apa bedanya? Bedanya, yang satu masuk kategori konsep universal primer, sedangkan yang kedua masuk kategori konsep universal sekunder.  

Jika ingin kita perjelas lebih jauh lagi, ungkapan tersebut sebenarnya ingin menyatakan bahwa makna laptop itu merupakan konsep yang bersifat universal. Kenapa dikatakan universal? Karena dia berlaku bagi banyak individu. Berlaku untuk Dell, Acer, Asus, Lenovo dan individu-individu laptop yang lain, seperti yang sudah saya terangkan dalam tulisan sebelumnya.  

Dalam contoh tersebut, kata laptop menjadi maudhû' (subjek), dan kata universal—yang dalam ilmu logika disebut dengan istilah kulliy—menjadi mahmûl (predikat). Artinya, di sana kita memberlakukan konsep (mafhûm) dari kata universal, kepada sesuatu yang kita sebut sebagai laptop. Dan yang kita maksud dengan laptop itu bukan individunya, yang ada di alam nyata, melainkan maknanya, yang wujudnya hanya ada di kepala.

Merujuk pada uraian sebelumnya, konsep universal bernama laptop itu kita peroleh dari pengamatan pertama kita terhadap inidivid-individu partikular yang berada di alam luar, melalui suatu proses yang oleh para logikawan disebut dengan istilah tajrîd.  

Lalu bagaimana dengan kata universal, yang menjadi predikat dalam kalimat tersebut? Dari mana konsep universal itu kita peroleh? Jawabannya bukan dari alam luar, melainkan murni berasal dari nalar. Makna universal (kulliy) itu murni berasal dari akal kita. 

Oleh karena itu, ketika kita katakan bahwa laptop itu universal, pemberlakuan konsep universal kepada laptop itu hanya terjadi di dalam nalar, sebagaimana penyifatannya juga terjadi di dalam nalar. 

Dari sini, apa yang disebut sebagai mafâhîm manthiqiyyah (konsep universal logis) itu bisa kita artikan sebagai "konsep-konsep universal yang pemberlakuannya di dalam nalar, dan penyifatannya juga terjadi di dalam nalar" (mâ kânat 'urûdhuha fi al-Dzihn, wa ittishâfuhâ fi al-Dzihn).

Singkat kata, mafâhim manthiqiyah itu ialah konsep-konsep universal yang kerap digunakan dalam pembahasan-pembahasan ilmu logika, seperti tashawwur-tashdîq (konsepsi-propsosisi), dharûriy-nazhariy (aksiomatik-spekulatif), kulliy-juziyy (universal-partikular), mafhûm-mâshadaq (intensi-ekstensi), 'aks mustawi (konversi), tanâqudh (kontradiksi), dan konsep-konsep universal lainnya.

Konsep-konsep tersebut diberlakukan kepada subjeknya di dalam nalar, sebagaimana penyifatannya juga hanya terjadi di dalam nalar. Ini berbeda dengan konsep universal sekunder lainnya yang oleh para logikawan disebut dengan istilah mafâhîm falsafiyyah (konsep universal filosofis).  

Ma'qûlât Tsânawiyyah Falsafiyyah (Konsep Universal Sekunder-Filosofis)

Perbedaan istilah ini dengan istilah sebelumnya sebenarnya sangat tipis. Tapi, untuk membedakan keduanya, dibutuhkan ketelitian yang cukup dalam. Sekarang perhatikan definisinya baik-baik. 

Di atas dikatakan bahwa yang dimaksud dengan mafâhîm manthiqiyyah itu ialah konsep-konsep universal yang pemberlakuannya di dalam nalar, dan penyifatannya juga terjadi di dalam nalar. Contohnya sudah saya kemukakan di atas.

Sedangkan mafâhîm falsafiyyah ialah konsep-konsep universal yang pemberlakuannya terjadi di dalam nalar, adapun penyifatannya terjadi di alam luar (mâ kânat 'urûdhuhâ fi al-Dzihn wa ittishâfuhâ fi al-Khârij). Yang saya sampaikan di pembukaan, terkait konsep sebab-akibat (illat-ma'lûl) itu masuk kategori yang kedua ini. Pemberlakuannya terjadi di dalam akal, tetapi penyifatannya terjadi di alam luar.

Kita kembali pada contoh yang pertama tadi. Api menjadi sebab bagi mendidihnya air. Sedangkan mendidihnya air menjadi sebab di balik rusaknya muka. Ketika kita mengatakan bahwa api adalah sebab di balik mendidihnya air, itu artinya kita memberlakukan konsep universal bernama sebab kepada sesuatu yang kita sebut sebagai api.

Pemberlakuannya terjadi di mana? Jawabannya seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya. Karena konsep sebab itu murni berasal dari akal, maka pemberlakuannya kepada subjeknya pun hanya terjadi di dalam akal. 

Tapi, sesuatu yang diberlakukan kepadanya konsep universal bernama sebab itu wujudnya ada di alam nyata, yang dalam hal ini adalah api. Karena itu, kendatipun pemberlakuannya terjadi di dalam akal, tetapi penyifatannya terjadi di alam luar.

Mengapa? Karena yang kita maksud dengan api itu ialah individunya, bukan konsepnya. Dan individunya ada di alam nyata, bukan hanya sekedar makna. Karena itu penyifatannya pun terjadi di alam nyata. 

Berbeda halnya kalau nanti saya berkata begini: Api itu adalah konsep (tashawwur). Api menjadi subjek (maudhû'), dan konsep menjadi predikat (mahmûl). Artinya, dalam kalimat tersebut, kita memberlakukan makna dari kata konsep kepada makna—sekali lagi makna—dari sesuatu yang kita sebut sebagai api.

Dengan demikian, pemberlakuannya terjadi di dalam akal, tetapi penyifatannya juga terjadi di dalam akal, karena yang kita maksud dengan api dalam kalimat tersebut adalah maknanya, bukan individunya. 

Dan konsep universal yang seperti ini masuk dalam kategori mafâhîm manthiqiyyah (konsep universal logis), bukan mafâhîm falsafiyyah (konsep universal filosofis). Karena yang disebut sebagai mafâhîm falsafiyyah itu ialah konsep-konsep universal yang pemberlakuanya terjadi di dalam akal, sedangkan penyifatannya terjadi di alam luar.

Jika yang pertama sering digunakan dalam pembahasan logika (manthiq), maka konsep universal yang kedua ini sering digunakan dalam pembahasan-pembahasan filsafat. Konsep-konsep seperti wujûd, tsubut, dharûrah, imkân, imtinâ', illat-ma'lûl, dan lain sebagianya, masuk dalam kategori mafâhîm falsafiyyah ini. Karena pemberlakuan konsep-konsep tersebut kepada subjeknya terjadi di dalam akal, sedangkan penyifatannya terjadi di alam luar. Demikian, wallahu 'alam bisshawâb.