1 bulan lalu · 141 view · 5 menit baca · Filsafat 59853_88743.jpg

Apa Itu Ma'qulat Awwaliyyah?

Dalam salah satu tulisansaya pernah menerangkan konsep tajrîd sebagai salah satu teori yang menjelaskan tentang proses manusia dalam melahirkan konsep-konsep universal (mafâhîm kulliyyah).

Kata-kata seperti pulpen, meja, gelas, mobil, panci, manusia, monyet, kuda, ular, pohon, kebun, dan sejenisnya, adalah konsep-konsep universal yang diperoleh melalui suatu proses, yang dalam logika Aristotelian disebut dengan istilah tajrîd (abstraksi).

Saya perlu tegaskan sekali lagi bahwa apa yang disebut sebagai konsep universal (mafhûm kulliy) itu hanya ada sebagai sebuah ide di kepala kita. Yang ada di alam nyata itu hanyalah individu-individu yang diberlakukan kepadanya konsep-konsep universal yang ada di kepala kita itu.

Di sana saya memberikan contoh sederhana tentang mobil. Yang Anda lihat di jalan raya itu sebenarnya bukan mobil, melainkan individu-individu yang diberlakukan kepadanya suatu konsep universal bernama mobil.

Mobilnya itu sendiri, sebagai sebuah konsep universal, tidak ada di alam nyata. Lalu di mana adanya? Adanya di kepala kita. Karena dia hanya berupa makna, yang diberlakukan kepada individu-individunya secara merata.

Konsep universal yang bernama mobil itu terlahir dari pengamatan kita terhadap benda-benda yang ada di alam nyata, sebagaimana ia juga diberlakukan kepada sesuatu—yakni individu-individunya—yang wujudnya berada di alam nyata.

Singkat kata, dia berasal dari alam nyata, mendarat di kepala, dan diberlakukan lagi kepada sesuatu yang berada di alam nyata. Lalu, dalam filsafat, konsep universal yang seperti itu dinamai apa?

Para filsuf Musim menyebutnya dengan istilah ma'qûlât awwaliyyah. Lantas apa itu ma'qûlât awwaliyyah? Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut dengan sejelas-jelasnya.  

Pengertian

Kata ma'qulât merupakan bentuk jamak dari kata ma'qûl, yang secara harfiah bermakna "yang dinalar" atau "yang diketahui". Lebih jelasnya, yang dimaksud dengan kata ma'qûlât itu ialah konsep-konsep universal (kulliyyât) yang diketahui dan ditangkap oleh akal kita.

Karena itu, dalam beberapa buku dia juga sering diistilahkan dengan kata mafâhîm, bentuk jamak dari kata mafhûm (konsep). Sedangkan kata awwaliyyah bisa kita artikan sebagai "yang bersifat primer" atau "utama".

Dengan demikian, terjemahan harfiah dari istilah ma'qûlât awwaliyyah/mafâhîm awwaliyyah  itu ialah konsep-konsep universal yang bersifat primer. Lalu definisinya apa? Definisi yang dikemukakan oleh para filsuf memang terlalu rumit untuk dijelaskan di sini.

Tapi, secara sederhana bisa kita artikan bahwa yang dimaksud dengan ma'qûlât awwaliyyah itu ialah konsep-konsep universal (umum) yang terlahir pertama kali dari pengamatan kita terhadap individu-individu partikular (afrâd juziyyah) yang berada di alam luar, yang pemberlakuan dan pengatribusiannya juga terjadi di alam luar.

Contoh paling dekat adalah laptop yang sekarang saya gunakan ini. Laptop itu merupakan konsep universal (mafhûm kulliy) karena dia berlaku bagi banyak individu (yashduq 'ala katsîrîn); dia berlaku untuk Lenovo, HP, Asus, Acer, Sony, Dell, dan aneka macam laptop yang lain.

Apa yang saya gunakan sekarang ini, dan yang ada di hadapan Anda sekarang—kalau memang ada—sebenarnya bukan laptop, tapi dia adalah sesuatu yang diberlakukan kepadanya konsep universal bernama laptop.

Laptonya itu sendiri, sebagai sebuah makna universal, hanya ada di kepala, tapi dia terlahir dari pengamatan kita terhadap benda-benda partikular yang ada di alam nyata, sebagaimana dia juga diberlakukan bagi sesuatu yang wujudnya berada di alam nyata.

Dari sini, saya tegaskan sekali lagi bahwa yang dimaksud dengan ma'qûlât awwaliyyah itu ialah konsep-konsep universal yang terlahir pertama kali dari pengamatan kita terhadap individu-individu partikular yang ada di alam nyata, yang pemberlakuan dan penyifatannya juga terjadi di alam nyata.

Laptop, mobil, meja, kulkas, kursi, pulpen, manusia, kambing, monyet, kuda, dan konsep-konsep universal sejenisnya itu masuk dalam apa yang disebut sebagai ma'qûlât awwaliyyah ini. Coba Anda perhatikan kembali contoh laptop tadi. Misalnya saya berkata bahwa barang ini adalah laptop.

Manakala saya berkata bahwa barang ini adalah laptop, sebetulnya secara lebih jelas saya ingin mengatakan bahwa barang yang ada di hadapan saya ini adalah benda yang diberlakukan kepadanya konsep universal bernama laptop. Dengan demikian, kata laptop ketika itu menjadi predikat (mahmûl), dan kata barang menjadi subjek (maudhû).

Saya memberlakukan makna universal dari kata laptop kepada barang tertentu yang ada di hadapan saya. Sekarang saya mau tanya: konsep universal bernama laptop itu kita peroleh dari mana? 

Kalau Anda paham dengan uraian saya yang sebelumnya, mengenai konsep tajrîd, jawabannya jelas, bahwa konsep tersebut terlahir dari pengamatan saya terhadap benda-benda tertentu yang ada di alam nyata.

Yang saya gunakan ini mereknya HP, warnana silver, beratnya mungkin sekitar 3 kilo, ukurannya sedang, dan harganya saya kurang tahu pasti. Dan di luar sana ada sekian banyak benda lain dengan merek berbeda, warna berbeda, harga berbeda, dan berat yang berbeda pula.

Tapi, uniknya, akal kita bisa menangkap adanya ciri-ciri tertentu yang merekatkan mereka semua sehingga lahirlah satu konsep universal bernama laptop yang diberlakukan kepada semuanya secara merata, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang melekat dalam diri mereka.

Hal yang sama terjadi ketika kita melahirkan konsep-konsep universal bernama gelas, piring, sendok, pohon, kebun, kurma, kipas, gayung, sabun, dan lain sebagainya. Semua itu terlahir dari pengamatan kita terhadap sesuatu yang berada di alam luar.     

Dengan demikian, konsep universal bernama laptop itu terlahir dari pengamatan kita terhadap benda-benda tertentu yang berada di alam luar. Dan pemberlakuannya terhadap individu-individunya juga terjadi di alam luar.

Mengapa bisa begitu? Coba Anda perhatikan kembali contoh kalimat tadi. Kalimat tersebut menyatakan bahwa barang ini adalah laptop. Itu artinya, melalui kalimat tersebut, kita memberlakukan konsep universal bernama laptop kepada barang tertentu yang ada di hadapan kita.

Sekarang saya mau tanya: pemberlakuan itu terjadinya di mana? Di alam nyata atau di dalam kepala belaka? Jelas di alam nyata. Karena sesuatu yang diberlakukan kepadanya konsep universal bernama laptop itu juga berada di alam nyata.

Nah, dalam bahasa filsafat Islam, kata laptop itu bisa kita sebut sebagai ma'qûl/mafhûm awwaliy (konsep universal primer). Kadang apa yang disebut sebagai mafhûm awwaliy ini juga sering disebut dengan istilah mafhûm mâhawiy. Dari kata mâhiyyah, yang berarti esensi.

Bentuk jamaknya ialah mafâhîm mâhawiyah. Dinamai demikian karena kata laptop—dan kata-kata universal serupa lainnya—menjelaskan esensi (mâhiyyah) dari individu-individu yang berada dalam cakupannya.

Kalau ada yang bertanya apa itu Dell, Lenovo, Asus, dan Acer, maka jawabannya hanya ada satu, yaitu laptop. Dan kata laptop itu menjelaskan esensi dari individu-individu yang berada dalam cakupannya itu. Karena itu ia disebut sebagai mafhûm mâhawiy (konsep esensialis).   

Jadi, apa yang disebut sebagai ma'qûlât awwaliyyah, mafâhîm awwaliyyah, dan mafâhîm mâhawiyyah itu merujuk pada satu makna yang sama, yakni konsep-konsep universal yang terlahir dari pengamatan kita terhadap individu-individu tertentu yang ada di alam nyata, dan pemberlakuan konsep-konsep tersebut terhadap individu-individunya juga terjadi di alam nyata.

Ini berbeda halnya dengan konsep universal lain yang oleh para filsuf Muslim disebut dengan istilah ma'qûlât tsânawiyyah/mafâhîm tsânawiyyah. Lalu apa itu ma'qûlât tsânawiyyah? Jika sempat, jawabannya akan kita kemukakan dalam tulisan mendatang. Demikian, wallahu 'alam bisshawâb. 

Artikel Terkait