87313_63581.jpg
Filsafat · 6 menit baca

Apa Itu Kulliyat Khamsah?
Ngaji Mantik Bag. 21

Pembahasan mengenai makna kulliy sudah kita terangkan pada tulisan yang lalu. Dari uraian sebelumnya kita tahu bahwa kulliy itu ialah mafhum universal dari suatu lafaz yang kalau kita imajinasikan maka akal kita tidak mencegah adanya keberbilangan. Sementara juziyy adalah mafhum parsial dari suatu lafaz yang kalau kita imajinasikan maka akal kita akan mencegah adanya perserikatan.

Paparan mengenai kulliy-juziyy pada beberapa tulisan yang lalu itu tak lain adalah pengantar untuk memahami kulliyat khamsah yang akan kita singgung pada tulisan kali ini. Dan pembahasan mengenai kulliyat khamsah ini juga pada dasarnya merupakan pengantar untuk memahami dan mengenal macam-macam ta’rif (definisi) yang menjadi salah satu pembahasan terpenting dalam ilmu mantik.

Kulliyyat khamsah merupakan unsur-unsur yang merangkai sebuah ta’rif, atau al-Qaul al-Syarih. Secara kebahasaan, kulliyat adalah bentuk jamak dari kata kulliy, sedangkan khamsah artinya lima. Dengan demikian, kulliyat khamsah artinya ialah kulliy yang lima.

Sampai di sini mungkin ada yang bertanya: Mengapa mafhum atau lafaz kulliy itu harus terbatas pada lima macam saja? Apa alasannya? Pertanyaan ini bisa kita jawab kalau kita sudah memahami apa perbedaan dzatiy dan ‘aradhiy yang sudah saya uraikan dalam tulisan yang lalu.

Secara umum, lafaz kulliy itu ada dua macam. Ada lafaz kulliy yang menjelaskan esensi sesuatu. Dan ada lafaz kulliy yang menjelaskan tentang hal yang berada di luar esensi sesuatu. Yang pertama disebut kulliy dzatiy, dan yang kedua disebut kulliy ‘aradhiy.

Yang menjelaskan esensi sesuatu ini dibagi kedalam tiga bagian. Pembagian tersebut didasarkan pada kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut:

Bisa jadi suatu lafaz kulliy itu menjelaskan esensi utuh dari sesuatu. Bisa jadi suatu lafaz kulliy itu hanya menjelaskan sebagian dari esensi sesuatu, tapi ia juga menyatukan sesuatu tersebut dengan sesuatu yang lain. Dan bisa jadi suatu lafaz kulliy itu menjelaskan sebagian dari esensi sesuatu, tapi dalam saat yang sama, ia juga membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain.

Dalam istilah ilmu mantik, yang pertama disebut nau’ (species), yang kedua disebut jins (genus), dan yang ketiga disebut fashl (difference).

Untuk memperjelas perbedaan antara ketiganya, kita ambil contoh yang sederhana, yakni kata manusia. Misalnya Anda ingin mengetahui esensi atau hakikat manusia. Ketika ada pertanyaan apa itu manusia? Maka tentu hal pertama yang harus Anda ketahui ialah “manusia ini jenis apa?”. Lalu, setelah itu baru Anda mencari tahu apa hal yang membedakan manusia dengan makhluk hidup yang lainnya.

Untuk menjelaskan jenis manusia, maka lafaz kulliy yang kita gunakan ialah jins. Karena manusia ini merupakan jenis hewan, maka kata yang pertama kali kita gunakan untuk mendefiniskan atau menjelaskan esensi manusia manusia ialah kata hewan.

Dengan demikian, sampai di sini kita bisa mengatakan bahwa manusia itu adalah hewan. Namun, kata hewan ini bukan hanya berlaku bagi manusia, tapi juga berlaku bagi makhluk hidup lain yang tergolong kedalam jenis hewan, seperti kuda, sapi, jerapah, kambing dan hewan-hewan lainnya. Dengan kata lain, kata hewan ini cakupannya masih umum.

Karena itu, kita butuh pada suatu lafaz kulliy lain yang sekiranya bisa memisahkan manusia dari makhluk hidup yang lainnya. Nah, untuk mencari titik pembeda antara manusia dengan makhluk hidup yang lain maka kita membutuhkan fashl. Fashl ini fungsinya ialah menjelaskan sebagian esensi manusia, sekaligus menjadi titik pembeda antara dia dengan makhluk yang lainnya.

Setelah kita telusuri, ternyata yang membedakan manusia dengan makhluk hidup yang lain itu ialah berpikir (nathiq). Karena faktanya kita tidak menemukan makhluk hidup yang mampu berpikir secara logis dan sistematis seperti yang dimiliki oleh manusia.

Maka, untuk melengkapi definisi kita tentang manusia, kita simpulkan bahwa manusia itu adalah hewan yang berpikir. Kata hewan adalah jins, sedangkan berpikir adalah fashl. Dan manusia itu sendiri adalah nau’.

Selanjutnya, setelah kita mengetahui esensi manusia, yakni sebagai hewan yang berpikir, kita juga memerhatikan adanya hal-hal yang menyertai manusia, tapi tidak mencerminkan esensi manusia. Sesuatu yang berada di luar esensi manusia itu ada dua macam: Ada yang menjadi kekhususan manusia dan tidak dimiliki oleh makhluk yang lainnya, tapi ada juga yang tidak menjadi kekhususan manusia sehingga dimiliki juga oleh makhluk hidup yang lainnya.

Dalam istilah ilmu mantik, sesuatu yang menjadi kekhususan sesuatu, tapi bukan bagian dari esensi sesuatu tersebut, itu namanya khasshah (property), atau ‘aradh khassh. Sedangkan yang tidak menjadi kekhususan sesuatu, tapi menyertai sesuatu tersebut, itu namanya ‘aradh ‘am (accident).

Dalam konteks manusia, contohnya seperti tertawa dan berjalan. Tertawa adalah kekhususan manusia, yang tidak dimiliki oleh hewan yang lainnya. Sedangkan berjalan bukan merupakan kekhususan manusia, tapi dia menyertai manusia. Dengan demikian, tertawa itu termasuk khasshah. Sementara berjalan tergolong kedalam ‘aradh ‘am. Inilah yang disebut kulliyat khamsah, atau kulliy yang lima, yang terdiri dari jins, fashl, na’u, khasshah, dan ‘aradh ‘am.

Untuk lebih memperjelas, kita ambil contoh yang lain. Misalnya kata khamar. Kita tahu bahwa dalam Islam khamar itu diharamkan. Alasannya karena khamar itu memabukkan. Tapi, sebelum kita berkesimpulan bahwa khamar itu haram, tentu kita butuh pada definisi untuk menjelaskan apa itu khamar. Karena kita tidak mungkin menghukumi sesuatu, kecuali setelah kita mengetahui gambaran utuh mengenai sesuatu yang ingin kita hukumi itu.

Untuk menjelaskan esensi khamar, maka lafaz kulliy pertama yang harus kita gunakan adalah jins, sama halnya seperti dalam contoh manusia tadi. Sekarang kita lihat. Khamar ini jenis apa? Kita tahu bahwa khamar adalah jenis minuman. Dengan demikian, untuk mendefiniskan khamar, maka kata yang pertama kali kita cantumkan adalah kata minuman. Khamar itu adalah minuman. Tapi apakah definisi ini sudah jelas? Tentu saja belum. Karena kata minuman itu sifatnya masih umum, dan mencakup berbagai macam minuman, bukan hanya khamar.

Karena itu, setelah kita mengetahui jenis khamar, kita perlu mengetahui apa yang menjadi titik pembeda antara khamar dengan minuman yang lain. Ternyata, yang membedakan antara khamar dengan yang lainnya itu, misalnya, ialah “memabukkan”. Suatu minuman bisa dikatakan khamar kalau dia bisa memabukkan. Kalau tidak memabukkan, maka dia bukan khamar.

Setelah mengetahui dua unsur di atas, barulah kita bisa menyimpulkan bahwa khamar itu ialah “minuman yang memabukkan”. Kata minuman itu namanya jins, sedangkan memabukkan itu namanya fashl. Dan khamarnya itu sendiri disebut na’u.

Lalu bagaimana dengan hal-hal yang menyertai khamar, tapi tidak menjelaskan esensi khamar? Sama halnya dengan contoh manusia di atas. Jika sesuatu yang berada di luar esensi khamar itu menjadi kekhususan khamar, dan tidak dimiliki oleh minuman yang lain, maka ia disebut khasshah, atau ‘aradh khassh. Tapi jika dia bukan termasuk kekhususan khamar, sehingga dimiliki juga oleh minuman yang lain, maka itu namanya ‘aradh ‘am.

Kaidah yang sama berlaku ketika kita ingin mendefiniskan komunisme, sosialisme, materialisme, idealisme, atheisme, pluralisme, sekularisme, liberalisme, dan isme-isme lainnya. Untuk menjelaskan ideologi-ideologi tersebut, kita perlu jelaskan terlebih dahulu mereka itu termasuk jenis apa? Dan yang membedakan antara satu ideologi dengan ideologi lainnya itu apa? Dengan kaidah itulah kita bisa mendefiniskan sesuatu dengan tepat.

Kesimpulannya, kulliyat khamsah itu artinya ialah kulliy yang lima. Dia berguna untuk merangkai sebuah ta’rif atau definisi. Jika ia menjelaskan sebagian dari hakikat sesuatu, sekaligus menyatukan sesuatu tersebut dengan sesuatu yang lain, maka itu namanya jins. Tapi jika ia menjelaskan sebagian dari hakikat sesuatu, dan dalam saat yang sama ia juga membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain, maka itu namanya fashl.

Selanjutnya, jika lafaz atau mafhum kulliy itu menjelaskan esensi utuh dari sesuatu, maka itu namanya na’u. Contohnya seperti kata manusia, yang menjelaskan esensi Zaid, Ali, Khalid, Udin dan manusia-manusia lainnya. Tapi jika ia menjelaskan hal yang berada di luar esensi sesuatu, maka itu namanya ‘aradh khassh, jika ia merupakan kekhususan, dan ‘aradh am, jika ia bukan merupakan kekhususan. Uraian rinci mengenai kulliyat khamsah ini, insyaAllah, akan kita bahas pada tulisan mendatang.