11 bulan lalu · 567 view · 8 min baca menit baca · Filsafat 78544_40522.jpg

Apa Itu Jins?

Ngaji Mantik Bag. 23

Pada tulisan sebelumnya kita sudah menguraikan sekelumit pengenalan mengenai kulliyat khamsah. Kita tahu bahwa kulliyat khamasah itu adalah unsur-unsur yang merangkai sebuah ta’rif, atau definisi. Pada tulisan kali ini kita akan menguraikan salah satu macam dari kulliyat khamasah, yaitu jins (genus).

Dalam buku-buku mantik populer, uraian mengenai jins ini selalu diletakkan di awal karena biasanya dialah yang mengawali sebuah ta’rif. Lantas, apa itu jins? Bagaimana contoh-contohnya? Dan apa saja pembagiannya? Tulisan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pengertian

Dalam buku Mi’yar al-‘Ilm, al-Ghazali menjelaskan bahwa jins itu ialah “kulliy (mafhum yang bersifat universal) yang diberlakukan bagi individu yang banyak, yang berbeda hakikat dan dzatnya, dan ia berfungsi untuk menjawab pertanyaan: apa dia?” (Abu Hamid al-Ghazali, Mi’yar al-‘Ilm, hlm. 47)

Lebih jelasnya, jins itu ialah mafhum dari suatu lafaz kulliy yang diberlakukan bagi banyak individu, dan masing-masing dari individu yang tercakup oleh lafaz kulliy tersebut memiliki esensi atau hakikat yang berbeda-beda.

Contoh paling mudah, dan sering diulang-ulang, ialah kata hewan. Kata tersebut kulliy, karena ia berlaku bagi banyak individu. Di bawahnya ada kuda, singa, sapi, kambing, jerapah, dan juga tentunya manusia. Semuanya disebut hewan. Tapi esensi mereka berbeda-beda.

Esensi singa berbeda dengan esensi kuda, esensi kuda berbeda dengan esensi sapi, esensi sapi berbeda dengan esensi manusia, dan esensi manusia juga tentu berbeda dengan esensi hewan-hewan lainnya. Tapi semuanya disebut sebagai hewan. Dengan demikian, hewan termasuk kedalam jins. Karena ia jins, maka dalam merangkai sebuah definisi yang tepat ia sering diletakkan di awal.

Jins ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan yang berusaha untuk menyingkap esensi sesuatu. Karena itu, misalnya, ketika ada pertanyaan apa itu manusia? Maka lafaz kulliy yang pertama kali kita sebutkan adalah jins, yang dalam hal ini adalah hewan. Mengapa harus jins? Karena jins inilah yang menjelaskan separuh esensi sesuatu yang ingin kita ketahui itu.


Contoh lain: Kadang kita ribut soal Syiah. Kita mudah menyebut seorang ulama—yang dalam pandangan kita menyimpang—dengan sebutan Syiah. Pak Quraish Shihab sering dituduh sebagai ulama Syiah. Tapi ketika ditanya apa itu Syiah, kadang kita kebingungan.

Padahal, sebelum kita menghukumi seseorang dengan sebutan Syiah, mestinya kita tahu terlebih dahulu apa itu Syiah? Dan siapa saja orang yang layak disebut sebagai Syiah?

Nah, kalau kita ingin mendefinisikan Syiah, maka hal pertama yang harus kita ketahui terlebih dahulu ialah: Syiah ini termasuk jenis apa? Dia ini Agama, suatu kelompok dalam Agama, atau ajaran yang tidak beragama?

Kalau kita mendefiniskan Syiah sebagai “agama yang sesat”, atau “agama yang menuhankan Ali bin Abi Thalib”, atau “ajaran di luar Islam yang membolehkan nikah mut’ah dan mencaci maki sahabat”, misalnya, padahal Syiah ini merupakan salah satu kelompok dalam Islam, maka kita bisa pastikan bahwa definisi itu ngawur dan cacat.

Tapi faktanya kita sering menemukan orang-orang yang berpandangan seperti itu. Orang yang belajar ilmu logika tidak akan terjebak pada kesalahan berpikir semacam ini.

Kalau kita tahu bahwa Syiah itu adalah kelompok dalam Islam (firqah islamiyyah), maka jins yang kita cantumkan untuk mendefiniskan Syiah bukan Agama, melainkan kelompok. Atau lebih tepatnya, kelompok Islam. Dengan demikian, Syiah itu adalah kelompok Islam.

Definisi ini tentu belum sempurna. Karena kita masih membutuhkan pada kata atau mafhum lain yang bisa membedakan antara Syiah dengan kelompok Islam yang lain. Tapi penggunaan kata “kelompok Islam” itu sudah tepat. Karena ia menjelaskan sebagian dari hakikat Syiah.

Nah, dalam bahasa ilmu mantik, mafhum kelompok Islam yang menjelaskan sebagian dari esensi Syiah itu, namanya jins. Karena mafhum kelompok Islam itu bersifat universal. Ia berlaku bagi individu yang banyak, dan masing-masing dari individu yang tercakup oleh kata tersebut memiliki hakikat atau esensi yang berbeda-beda.


Esensi Syiah berbeda dengan esensi Khawarij, esensi khawarij berbeda dengan esensi Murjiah, esensi Murjiah berbeda dengan esensi Muktazilah, dan esensi Muktazilah juga pasti berbeda dengan esensi kelompok-kelompok Islam yang lain. Tapi semuanya tercakup oleh mafhum kelompok Islam, yang dalam hal ini menjadi jins.

Membedakan Jins Qarib dengan Jins Ba’id

Berdasarkan hubungannya dengan esensi (mahiyah), jins dibagi dua: Satu, jins qarib. Dua, jins ba’id. Yang pertama artinya “jins yang dekat”, sedangkan yang kedua artinya ialah “jins yang jauh”. Apa perbedaan antara keduanya? Mari kita lihat uraiannya melalui pohon phorpyrius dan penjelasan sebagai berikut:

 

[1] Jins Qarib

Definisi: “jins yang berfungsi sebagai jawaban atas esensi sesuatu dan seluruh individu yang menyatu dengannya dalam cakupan mafhum jins tersebut.” Lebih jelasnya, jins qarib adalah jins yang menjelaskan esensi sesuatu sekaligus menjelaskan esensi sesuatu yang lain yang masih berada dalam cakupan yang sama.

Misalnya kata hewan yang dinisbatkan kepada manusia. Kata hewan mencakup jerapah, kuda, singa, sapi, kambing, dan juga manusia itu sendiri. Kata tersebut dapat dijadikan jawaban untuk menjelaskan esensi manusia, tapi ia juga bisa dijadikan jawaban untuk menjelaskan esensi makhluk lain yang masih tercakup oleh kata hewan. Ini namanya jins qarib. Ia dikatakan qarib karena memang posisinya dekat.

Jins qarib adalah jins yang terletak di bawah beberapa jins, tapi di bawahnya tidak ada jins lagi, yang ada hanya nau’. Contohnya seperti kata hewan tadi. Di atas hewan ada jismun namin, jism, dan jauhar. Tapi di bawah kata hewan itu sendiri sudah tidak ada lagi jins, dan yang ada hanya nau’, yakni manusia, kuda, onta, kambing, singa, dan hewan-hewan lainnya.

[2] Jins Ba’id

Definisi: jins yang berfungsi sebagai jawaban atas esensi sesuatu dan juga sebagian individu yang menyatu dengannya dalam cakupan jins tersebut. Contohnya seperti jismun namin (jism yang tumbuh) yang dinibatkan kepada manusia.

Kata jismun namin menjelaskan sebagian dari esensi manusia, sekaligus menjelaskan esensi bunga, tembakau, padi, gajah, kuda, sapi, singa, dan segala makhluk hidup yang tumbuh lainnya.

Lalu apa perbedaan antara yang pertama dengan yang kedua? Bedanya, jika pertama menjelaskan esensi sesuatu dan semua individu yang tercakup oleh jins tersebut. Sedangkan yang kedua menjawab pertanyaan mengenai esensi sesuatu dan sebagian dari individu yang tercakup olehnya.

Dengan demikian, jika ada pertanyaan apa itu manusia, singa, sapi, dan kuda? Maka jelas jawabannya menggunakan jins qarib, yaitu hewan. Tapi jika ada pertanyaan apa itu manusia, tumbuhan, dan singa? Maka jawabannya tentu bukan hewan, melainkan jismun namin, atau makhluk hidup yang tumbuh.

Nah, penisbatan jismun namin kepada manusia itu masuk dalam kategori jinsun ba’id. Mengapa dikatakan ba’id? Karena posisinya yang agak jauh. Tidak dekat seperti jins yang pertama.


Mengacu pada pohon phorpyrius di atas, jins ba’id adalah jins yang menaungi beberapa jins di bawahnya. Seperti kata jism, yang dibawahnya adalah jismun namin dan hayawan. Begitu juga dengan jauhar yang sering disebut sebagai jins al-Ajnas.

Pembagian Jins Berdasarkan Penisbatannya Kepada Nau’

[1] Jins Safil

Definisinya: jins yang berada di bawah jins dan di bawahnya lagi hanya ada nau’. Contohnya seperti hewan. Di bawah kata hewan tidak ada lagi jins, tapi yang ada hanya nau’ yaitu manusia, rusa, singa dan lain-lainnya. Tapi di atas kata hewan itu ada jins, yaitu jismun namin. Karena di bawah kata hewan ini tidak ada lagi jins, dan yang ada hanya nau’, maka ia dinamai jins safil. Safil artinya “di bawah”. Dengan demikian, jins safil adalah jins yang posisinya berada di bawah.

[2] Jins Mutawassith

Definisinya: jins yang berada di bawah jins, dan di bawahnya ada jins lagi. Contohnya seperti jismun namin. Dia berada di bawah jismun, yang juga merupakan jins. Dan di bawahnya juga ada jins lagi, yaitu hewan dan tumbuhan. Karena baik hewan maupun tumbuhan, keduanya adalah jism yang tumbuh.

Lalu apa bedanya dengan yang pertama. Keduanya sama-sama berada di bawah jins. Bedanya, jika di bawah jins yang pertama, yakni jins safil, tidak ada jins lagi, dan yang ada hanya nau’. Maka jins yang kedua ini, selain berada di bawah jins, di bawahnya dia juga masih ada jins lagi.

Singkatnya, jika yang pertama berada di bawah, maka jins yang kedua ini berada di tengah. Karena itu ia dinamai mutawassith, yang berarti menengahi. Karena posisinya yang berada di tengah. 

[3] Jins ‘Ali/Jinsul Ajnas

Definisinya: jins yang menaungi beberapa jins, tapi di atasnya tidak ada jins lagi. Singkatnya, jins ‘ali adalah jins paling atas. Karena posisinya yang berada di urutan paling atas, maka di atasnya dia tidak ada jins lagi. Tapi justru dialah yang menaungi jins-jins yang lain.

Jins ‘ali juga kadang dinamai jinsul ajnas. Contohnya seperti jauhar. Di atas jauhar tidak ada lagi jins, tapi di bawahnya ada banyak jins, dari mulai jism, jismun namin, dan hewan, yang merupakan jins terakhir.

[4] Jins Munfarid

Definisinya: jins yang di bawahnya ada nau’, tapi dia sendiri tidak terletak di bawah jins sama sekali. Dengan kata lain, jins yang satu ini berdiri sendiri, karena itu ia dinamai munfarid, yang berarti menyendiri.

Para ahli ilmu mantik mencontohkan jins yang satu ini dengan nuqthah (titik) dan ‘aql (akal). Di atas kata nuqthah tidak ada lagi jins. Tapi di bawahnya ada nau’. Kata titik mencakup titik di awal, titik di tengah, titik di akhir dan titik-titik lainnya.

Kesimpulannya, berdasarkan hubungannya dengan esensi sesuatu, jins terbagi dua: ada jins qarib, dan ada jins ba’id. Dan berdasarkan keterkaitannya dengan nau’, ia dibagi tiga: Pertama, jins safil. Kedua, jins mutawassith, dan ketiga jins ba’id. Sedangkan jins itu sendiri artinya ialah “kulliy yang diberlakukan bagi banyak individu yang memiliki perbedaan hakikat dan berfungsi untuk menjawab pertanyaan: “apa dia? (ma huwa?)”

Dalam rangkaian sebuah definisi, keberadaan jins tidak akan mampu menyingkap esensi sesuatu secara utuh. Ketika kita mengatakan bahwa manusia itu adalah hewan, misalnya, akal kita pasti akan bertanya: Lalu apa bedanya manusia dengan monyet, kambing, dan sapi kalau memang ia hanya sekedar hewan?  

Sama halnya ketika kita mengatakan bahwa Syiah itu adalah salah satu kelompok Islam, pada tahap selanjutnya kita akan bertanya: Lalu apa hal mendasar yang menjadi titik pembeda antara Syiah dengan kelompok Islam yang lain?

Dari sinilah kita membutuhkan lafaz kulliy lain yang fungsi utamanya ialah memberi titik pembeda antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam istilah ilmu mantik, kulliy yang fungsinya demikian itu dinamai fashl. Apa itu fashl? Uraian mengenai istilah itu, insyaAllah, akan dibahas pada tulisan mendatang.

Artikel Terkait