8 bulan lalu · 569 view · 8 menit baca · Filsafat 63465_77777.jpg

Apa Itu Fashl?

Ngaji Mantik Bag. 24

Ketika kita ingin menjelaskan hakikat sesuatu, maka setidaknya ada dua hal yang harus kita perhatikan terlebih dahulu. Pertama, jenis (jins) sesuatu yang ingin kita jelaskan hakikatnya itu. Kedua, pemisah (fashl) antara sesuatu yang ingin kita ketahui itu dengan sesuatu yang lain.

Kaidah ini, saya kira, sangat masuk akal. Karena kita tidak mungkin memahami hakikat sesuatu dengan tepat dan benar kecuali setelah kita mengetahui jenis sesuatu yang ingin kita pahami hakikatnya itu sekaligus kata pemisah yang membedakan antara sesuatu itu dengan sesuatu yang lain.

Pada tulisan yang lalu kita sudah membahas tentang jins, yang fungsinya sesuai dengan arti harfiahnya, yakni menjelaskan jenis sesuatu. Pada tulisan kali ini kita akan menjelaskan bagian kedua dari kulliyat khamsah yang fungsinya ialah melengkapi esensi sesuatu sekaligus membedakan sesuatu tersebut dengan sesuatu yang lain.

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, lafaz atau mafhum kulliy yang fungsinya sebagai pembeda itu, dalam ilmu mantik, dinamai fashl. Apa itu fashl? Apa saja contoh-contoh dan pembagiannya? Dua pertanyaan itulah yang akan menjadi fokus utama kita dalam tulisan ini.

Pengertian

Fashl ialah “kulliy yang diberlakukan bagi banyak individu yang hakikatnya sama dan ia berfungsi untuk menjawab pertanyaan: dia itu apa dalam substansinya?” Maksud lebih jelasnya ialah: fashl itu berfungsi untuk menjawab pertanyaan yang berusaha untuk memperjelas esensi sesuatu, sekaligus menerangkan unsur pembeda antara sesuatu itu yang sesuatu yang lain.

Misalnya ketika ada orang bertanya apa itu manusia? Kata pertama yang kita cantumkan tentunya adalah hewan, karena hewan menjadi jins, yang menjelaskan sebagian dari esensi manusia. Atau menjelaskan sebagian dari hakikat manusia.

Tapi karena kata hewan ini masih umum—sehingga tidak memisahkan manusia dari makhluk hidup yang lain yang menyandang nama hewan—maka kita butuh pada fashl agar kita mengetahui perbedaan mendasar antara manusia dengan makhluk hidup lainnya.

Baca Juga: Apa Itu Jins?

Kita tahu bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya itu ialah berpikir. Tak ada yang bisa berpikir secara logis dan sistematis di dunia ini kecuali manusia. Dengan demikian, untuk merangkai sebuah definisi yang tepat mengenai manusia, maka kita katakanlah bahwa manusia itu adalah hewan yang berpikir (hayawan nathiq). Kata hayawan menjadi jins. Sedangkan kata nathiq (yang berpikir) menjadi fashl.

Kata hayawan—sebagai jins—menjelaskan sebagian dari esensi manusia, dan kata nathiq—sebagai fashl—menjelaskan sebagian esensi manusia yang lain. Kata hayawan menyatukan manusia dengan makhluk hidup lain yang berjenis hewan, sedangkan kata nathiq memisahkan manusia dari makhluk hidup lain yang sama-sama berjenis hewan. 

Conton lainnya ialah kata Syiah, seperti yang sudah kita singgung pada tulisan yang lalu. Sebelum kita menghukumi Syiah itu sesat atau tidak, tentu kita harus mampu menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Syiah.

Kita tahu bahwa Syiah itu adalah salah satu kelompok dalam Islam. Tapi adakah satu doktrin mendasar yang membedakan Syiah dari kelompok Islam yang lain? Jawabannya tentu ada. Nah, jika kita sudah menemukan unsur pembeda tersebut, maka unsur pembeda itulah yang kita jadikan sebagai fashl.

Dalam al-Milal wa al-Nihal, misalnya, al-Syahrastani (w. 548 H) mendefiniskan Syiah sebagai:

Kelompok yang mengikuti Ali bin Abi Thalib secara khusus, dan mereka meyakini keimamahan dan kekhilafahannya baik melalui teks maupun melalui wasiat. Mereka juga meyakini bahwa kepemimpinan itu tak akan keluar dari garis keturunannya. Di samping mereka juga meyakini bahwa imamah itu merupakan persoalan pokok, bukan hanya persoalan maslahat.”

Penting dicatat bahwa definisi yang dikemukakan al-Syahrastani ini hanya salah satu definisi tentang Syiah dari beberapa definisi yang terserak dalam buku-buku doksografi Islam. Di luar sana ada ulama-ulama lain yang mengemukakan definisi berbeda.

Namun, dari sekian banyak definisi yang dikemukakan itu, satu hal yang bisa kita jadikan fashl atau pembeda antara Syiah dengan kelompok-kelompok Islam lainnya ialah soal imamah. Orang-orang Syiah meyakini bahwa imamah atau kepemimpinan itu masuk kedalam ranah yang fundamental, bukan partikular, seperti halnya pandangan kaum Sunni. Bukan di sini tempatnya untuk menguraikan persoalan tersebut.

Poin utama yang perlu kita catat baik-baik ialah: kita harus tahu bahwa menyematkan satu istilah tertentu kepada satu individu atau kelompok tertentu itu tidak boleh sembarangan. Karena bisa jadi kita menyematkan satu sebutan tertentu kepada seseorang atau satu kelompok, sementara makna dari sebutan itu sendiri tak berlaku bagi orang atau kelompok yang kita sematkan kepadanya sebutan itu.   

Artinya, dalam konteks Syiah, misalnya, sebelum kita menghukumi seorang ulama dengan sebutan Syiah, maka harus kita tentukan dulu, definisi mengenai Syiah yang mana yang akan kita jadikan rujukan?

Jika kita merujuk pada suatu definisi, dan kemudian yang bersangkutan tidak termasuk kedalam definisi yang kita jadikan rujukan itu, maka itu artinya orang yang kita sebut sebagai Syiah itu sebenarnya bukan Syiah.

Ketentuan yang sama berlaku sebelum kita melabeli orang yang berbeda pendapat dengan sebutan sekuler, liberal, kafir, dan lain sebagainya. Sekarang kita melihat betapa banyaknya orang-orang yang meneriakkan kata-kata tersebut, tapi mereka sendiri kadang tidak tahu apa definisi yang tepat dari istilah-istilah yang mereka teriakkan itu.

Dari sinilah pentingnya belajar ilmu mantik. Dalam ilmu ini kita diajarkan untuk mendefiniskan sesuatu dengan tepat dan benar. Selain menggunakan jins—yang sudah kita terangkan pada tulisan yang lalu—sebuah definisi yang akurat harus menyantumkan fashl, yang maknanya sudah penulis uraikan di atas. 

Membedakan Fashl Qarib dengan Fashl Ba’id

Sama halnya dengan jins, berdasarkan kaitannya dengan nau’, fashl dibagi dua: Satu, fashl qarib. Dua, fashl ba’id. Yang pertama artinya fashl yang dekat, sedangkan yang kedua artinya ialah fashl yang jauh. Apa perbedaan antara keduanya? Mari kita lihat uraiannya sebagai berikut: [Lihat kembali pohon phorpyrius yang sudah penulis cantumkan dalam tulisan sebelumnya]

[1] Fashl Qarib

Definisinya: fashl yang membedakan sesuatu dengan individu yang tercakup oleh jins qarib dari sesuatu itu. Maksudnya, fashl qarib adalah fashl yang berfungsi untuk memisahkan antara sesuatu dengan seluruh individu yang tercakup oleh jins-nya yang dekat.

Contohnya seperti kata nathiq yang dinisbatkan kepada insan. Kita tahu bahwa insan itu, kalau didefinisikan, ialah hayawan nathiq (hewan yang berpikir). Nah, kata nathiq itu fungsinya membedakan manusia. Dengan apa? Dengan seluruh individu yang tercakup oleh jins qarib-nya kata manusia, yaitu hayawan (hewan).

Dengan demikian, kata nathiq membedakan manusia dari seluruh individu yang tercakup oleh kata hewan, sebagai jins-nya yang dekat. Karena dia membedakan manusia dengan individu jins-nya yang dekat, maka ketika itu ia dia dinamai fashl qarib, yang artinya ialah pembeda yang dekat.

[2] Fashl Ba’id 

Definisinya: fashl yang membedakan sesuatu dengan seluruh individu yang tercakup oleh jins ba’id dari sesuatu itu. Maksudnya, jika fashl yang pertama membedakan sesuatu dari sesuatu lainnya yang tercakup oleh jins qarib, maka yang kedua ini membedakan sesuatu dengan sesuatu lainnya yang tercakup oleh jins ba’id.

Contohnya seperti kata namin (tumbuh) yang dinisbatkan kepada manusia. Perhatikan. Ketika kita mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk yang tumbuh, atau jisim yang tumbuh (jismun namin), maka ketika itu kata “tumbuh” membedakan manusia dari seluruh individu yang tercakup oleh kata jism—sebagai jins ba’id dari kata manusia.

Dengan demikian, kata namin adalah fashl. Tapi fashl-nya bukan fashl qarib, melainkan fashl ba’id. Mengapa? Karena ia hanya membedakan manusia dari individu yang tercakup oleh jins yang jauh, bukan jins yang dekat. Karena itu, dalam merangkai sebuah ta’rif, fashl ba’id ini tidak tepat untuk digunakan. Yang biasanya digunakan dalam ta’rif itu ialah fashl qarib, bukan fashl ba’id. Fashl yang dekat, bukan fashl yang jauh.  

Dua Macam Fashl yang Lain

Berdasarkan hubungannya dengan nau’ dan jins, fashl dibagi dua: Satu, fashl muqawwim. Dua, fashl muqassim. Yang pertama ialah fashl yang membentuk esensi sesuatu, sedangkan yang kedua ialah fashl yang melahirkan pembagian dari sesuatu. Penjelasan mengenai keduanya ialah sebagai berikut: 

[1] Fashl Muqawwim

Kata muqawwim merupakan bentuk ism fail dari kata kerja qawwama-yuqawwimu, yang artinya “membentuk”. Dengan makna harfiah ini, kita bisa mengartikan fashl muqawwim sebagai fashl yang di samping menjelaskan keunikan sesuatu, ia juga membentuk esensi sesuatu itu. Suatu fashl dikatakan muqawwim kalau dia dinisbatkan kepada nau’. Contohnya seperti kata nathiq (berpikir) yang dinisbatkan kepada kata insan.

Ketika kita mengatakan bahwa manusia itu adalah hayawan nathiq (hewan yang berpikir), maka jelas bahwa kata nathiq yang kita sebutkan itu membentuk esensi manusia. Tanpa adanya nathiq, atau berpikir, esensi utuh dari kata insan tidak akan pernah tergambar. Karena itu, ia dinamai fashl muqawwim. Mengapa? Karena dia membentuk esensi sesuatu. Dan hal itu bisa terjadi kalau ia dinisbatkan kepada nau’.

Baca Juga: Apa Itu Dalalah?

[2] Fashl Muqassim

Kata muqassim merupakan bentuk ism fa’il dari kata kerja qassama-yuqassimu, yang berarti “membagi”. Dari makna harfiah ini kita bisa mengartikan fashl muqassim sebagai fashl yang membagi atau “melahirkan pembagian” dair sesuatu. Suatu fashl dikatakan muqassim kalau ia dinisbatkan kepada jins, bukan kepada nau’. Contohnya seperti kata nathiq tadi, yang dinisbatkan kepada kata hayawan (hewan).

Ketika kita menyandingkan kata nathiq dengan kata hayawan, maka yang terjadi bukan kata nathiq itu yang menjelaskan esensi hewan, atau membedakan hewan dari makhluk hidup lain, tapi kata nathiq itu justru “melahirkan pembagian” dari kata hewan, yaitu manusia. Karena hanya manusia yang bisa disebut sebagai hayawan nathiq. Ini beda dengan fashl yang pertama. Jika yang pertama dinisbatkan kepada nau’, maka fashl yang kedua ini dinisbatkan kepada jins.

Empat Kaidah yang Perlu Kita Ketahui

Setelah mengetahui perbedaan muqawwim dengan muqassim, selanjutnya kita perlu mengetahui empat kaidah yang berkaitan dengan dua macam fashl tersebut. Kaidah yang dimaksud ialah sebagai berikut:

Pertama, fashl muqawwim bagi na’u ‘ali (nau’ paling atas) bisa menjadi fashl muqawwim bagi na’u mutawassith dan nau’ safil. Contohnya seperti kata hassas (sensitif). Kata tersebut membentuk esensi yang di bawahnya, yakni hewan dan manusia.

Kedua, fashl muqawwim bagi nau’ safil tidak bisa menjadi fashl muqawwim bagi na’u mutawassith juga nau’ ‘ali. Contohnya seperti kata nathiq yang dinisbatkan kepada hayawan. Ketika dinisbatkan kepada kata hayawan, kata nathiq tidak menjadi fashl muqawwim, karena dia tidak membentuk esensi hewan, tetapi dia menjadi fashl muqassim.

Ketiga, fashl muqassim bagi jins safil bisa menjadi fashl muqassim bagi jins mutawassith dan jins ‘ali. Contohnya seperti kata nathiq yang dinisbatkan kepada kata hayawan, dan jins lain yang berada di atas kata hayawan. 

Keempat, fashl muqassim bagi jins ‘ali tidak bisa menjadi fashl muqassim bagi jins safil. Contohnya seperti kata hassas (sensitif). Kata tersebut bisa menjadi fashl muqassim bagi tumbuhan, tapi tidak bisa menjadi fashl muqassim bagi hewan.

Ringkasnya, hubungan antara fashl muqawwim dengan muqassim adalah hubungan terbalik. Muqawwim bagi yang di atas berlaku bagi yang di bawah. Tapi muqawwim yang di bawah tidak berlaku bagi yang di atas. Muqassim yang di atas tidak berlaku bagi yang di bawah. Tapi muqassim yang di bawah berlaku bagi yang di atas.

Kesimpulannya, berdasarkan hubungannya dengan jins dan nau’, fashl ada dua: ada fashl muqawwim dan ada fashl muqassim. Fashl muqawwim adalah fashl yang dinisbatkan kepada nau’. Sedangkan fashl muqassim ialah fashl yang dinisbatkan kepada jins. Dan fashl itu sendiri ialah kulliy yang berlaku bagi individu yang banyak yang hakikatnya sama, dan ia berfungsi untuk menjawab pertanyaan, “dia itu apa dalam substansinya?”