Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sering melihat petunjuk dari yang sesuatu yang berada di sekeliling kita, baik itu dari buku yang kita baca, suara yang kita dengar, gerak yang kita lihat, bau yang kita cium, isyarat yang kita tangkap, dan lain sebagainya.

Alam ini sendiri sejatinya adalah sebuah petunjuk. Apa yang kita baca, kita dengar, dan kita lihat di alam semesta ini pada dasarnya menunjukan sesuatu, meskipun kita tidak selamanya memahami petunjuk dari sesuatu yang ada di sekeliling kita itu.

Di saat Anda melihat teman Anda berawajah murung, Anda akan berkesimpulan bahwa teman Anda sedang sedih dan galau. Ketika Anda menatap wajah pacar Anda yang mulai memerah, Anda akan sadar bahwa pacar Anda sedang murka dan marah.

Tatkala Anda melihat lampu merah di pinggir jalan, Anda tahu bahwa itu adalah isyarat agar kita menghentikan kendaraan. Banyak contoh yang bisa kita ambil dari petunjuk-petunjuk yang ada di sekeliling kita.

Dalam bahasa Arab, penunjukan sesuatu atas sesuatu yang lain itu namanya dalalah (signification). Atau bisa juga dibaca dilalah, dan dulalah. Tiga-tiganya boleh. Cuma yang lebih fasih ialah dalalah.

Pembahasan mengenai dalalah ini adalah lanjutan dari pembahasan dua jenis pengetahuan yang sudah di singgung pada tulisan yang lalu. Kita tidak mungkin memperoleh pengetahuan dari sesuatu, baik yang berbentuk tashawwur maupun tashdiq, kecuali jika sesuatu yang kita ketahui itu menunjukan makna tertentu.

Kata sajadah, misalnya. Apa makna yang bisa kita tangkap dari kata tersebut? Biasanya, ketika disebut kata sajadah, makna yang pertama kali mendarat di kepala kita ialah kain yang biasa digunakan sebagai alas salat. Dalam hal ini, kata sajadah menjadi penunjuk, dan alas salat menjadi makna yang ditunjuk. Inilah yang dimaksud dengan dalalah

Jadi, intinya, dalalah itu ialah penunjukan sesuatu atas sesuatu yang lain. Atau, dengan pengertian lain, dalalah itu ialah proses memahami sesuatu dari sesuatu.

Penting untuk diketahui bahwa bahasan mengenai dalalah ini bukan hanya ada dalam Ilmu Mantik, tapi juga ditemukan dalam Ilmu Tafsir, Ilmu Ushul Fikih dan disiplin keilmuan Islam yang lain.

Namun, dalalah versi ahli ilmu logika dengan dalalah versi para ulama tentu memiliki aturan yang sedikit berbeda. Kita akan mengetahui perbedaan tersebut setelah nanti masuk kedalam pembahasan inti. Sebelum kita masuk lebih jauh, ada baiknya kita jelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan dalalah.

Makna Kebahasaan dan Istilah

Secara kebahasaan, dalalah bisa diartikan petunjuk (al-Hidayah) atau penunjukan. Terambil dari kata kerja dalla-yadullu yang berarti “menunjukan”. Dalam pembahasan dalalah ini kita akan mengenal dua istilah kunci. Pertama, apa yang disebut sebagai dâl (signify/yang menunjuk). Kedua, madlûl (signified/yang ditunjuk).

Untuk memahami dua kata kunci tersebut, kita akan ambil contoh lain yang sangat sederhana. Misalnya suatu ketika Anda berjalan sendirian di tengah hutan. Tiba-tiba, di pertengahan jalan, Anda menemukan bekas perkemahan dan sisa-sisa perbekalan makanan, padahal di sana tidak ada orang.

Mata Anda memang tidak melihat adanya orang. Tapi, petunjuk yang Anda dapatkan dari sisa-sisa bungkusan makanan tersebut bisa menjadi bukti bahwa tempat tersebut sudah dilalui orang. Akal Anda akan mengatakan bahwa tidak mungkin makanan itu datang dengan sendirinya ke tengah hutan. Pasti ada yang bawa.

Nah, perbekalan makanan yang menjadi petunjuk itu, dalam bahasa Arab, namanya dâl, karena dia menunjukan sesuatu. Sedangkan makna atau gambaran yang terlintas dalam benak Anda setelah melihat adanya dâl itu namanya madlûl (yang ditunjuk). Dan penunjukan itu dinamai dalâlah.

Dari sini, dalalah biasanya diartikan sebagai “proses memahami sesuatu dari sesuatu” (fahmu amrin min amrin). Sesuatu yang diketahui atau dipahami itu namanya madlûl, sedangkan yang sesuatu yang menjadi penunjuk dan memberikan pemahaman itu namanya dâl.

Ada definisi lain yang agak sedikit panjang. Dalalah itu ialah: “kaunu al-Syai’i bi hâlatin yalzamu min al-‘Ilmi bihi al-‘Ilmu bisyain âkhar” (Keberadaan sesuatu dalam suatu kondisi atau keadaan tertentu, yang dengan mengetahui sesuatu tersebut kita akan mengetahui sesuatu yang lain). Sesuatu yang pertama disebut dâl, dan sesuatu yang kedua disebut madlûl.

Selanjutnya, dalalah atau signifikasi ini terbagi dua: ada yang disebut dalalah lafzhiyyah (signifikasi verbal), kemudian ada yang disebut dalalah ghair lafziyyah (signifikasi non-verbal). Mengapa hanya ada dua? Karena segala petunjuk yang ada di sekeliling kita tidak akan lepas dari dua jenis petunjuk tersebut.

Masing-masing dari dua jenis dalalah ini kemudian dibagi menjadi tiga, yaitu ‘aqliyyah (rasional), thabi’iyyah (natural), dan wadh’iyyah (kontekstual). Para ahli ilmu logika biasanya hanya mengambil jenis dalalah yang ketiga ini, yakni dalalah lafzhiyyah wadh’iyyah. Karena hanya dalalah yang ketiga inilah yang bisa memberikan makna yang jelas.

Jenis dalalah yang lain tidak dianggap, atau, dalam bahasa Arabnya, ghair mu’tabar. Ilmu Mantik tidak berurusan dengan dalalah lain selain dalalah lafzhiyyah wadh’iyyah. Karena selain tidak jelas, jenis-jenis dalalah yang lain tidak bersifat tetap—dalam arti tidak berlaku sepanjang waktu—dan tidak berlaku bagi semua orang.

Dalalah jenis ketiga ini kemudian dibelah lagi menjadi tiga, yaitu muthâbaqiyyah, tadhammuniyyah dan iltizâmiyyah. Meskipun dalalah yang dijadikan dasar hanya ada satu, tapi penjelasan mengenai macam-macam dalalah ini, insya Allah, akan dibahas satu-persatu.

Kesimpulannya sekarang, dalalah itu ialah penunjukan sesuatu atas sesuatu yang lain. Atau, “proses memahami sesuatu dari sesuatu”. Sesuatu yang dipahami itu namanya madlûl (signified), sedangkan yang memberikan petunjuk atau pemahaman itu namanya dâl (signify). Dan penunjukannya itu dinamai dalalah (signification).