Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas tentang khasshah (property), atau ‘aradh khassh. Kita tahu bahwa khasshah itu ialah mafhum kulliy yang berada di luar esensi sesuatu tapi ia masih menjadi kekhususan yang dimiliki oleh sesuatu itu.

Sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya, pada tulisan kali ini kita akan membahas tentang ‘aradh ‘am (accident). Perbedaan antara khasshah dengan ‘aradh ‘am sangat sederhana. Keduanya sama-sama berada di luar esensi sesuatu.

Tapi, bedanya, jika yang satu merupakan kekhususan, maka yang kedua bukan merupakan kekhususan. Jika yang pertama tidak dimiliki oleh sesuatu yang lain, maka yang kedua berlaku dan dimiliki oleh sesuatu yang lain.

Contohnya seperti tertawa dan berjalan yang dinisbatkan kepada manusia. Kita tahu—dari uraian sebelumnya—bahwa tertawa ini termasuk khasshah, karena dia merupakan kekhususan yang dimiliki oleh manusia. Tapi bagaimana dengan berjalan? Apakah dia juga termasuk kekhususan?

Jawabannya tentu saja tidak. Karena di luar sana kita melihat bahwa makhluk yang berjalan itu bukan hanya manusia. Kambing, singa, sapi, monyet, kuda, dan hewan-hewan lainnya juga berjalan. Dengan demikian, berjalan bukan kekhususan manusia, sekalipun dia termasuk sifat yang menyertai manusia.

Begitu juga dengan bernafas, makan, minum, berhubungan seks dan lain sebagainya. Ini semua termasuk ‘aradh ‘am, karena ia menyertai manusia, tapi tidak menjadi kekhususan manusia, apalagi membentuk esensi manusia.

Nah, karena dia tidak menjadi bagian dari esensi sesuatu, sebagaimana ia juga tidak menjadi kekhususan (khasshah) bagi sesuatu, maka dalam merangkai sebuah definisi, ‘aradh ‘am ini tidak punya fungsi yang signifikan, kecuali hanya sebagai penjelasan tambahan saja, kalau memang diperlukan.

Mengapa demikian? Karena, sekali lagi, dia tidak menjelaskan apapun dari esensi sesuatu yang hendak didefinisikan. Sementara dalam definisi yang paling kita butuhkan adalah penjelasan atas esensi. Karena itu, menurut Quthb al-Din al-Razi (w. 716 H), ‘aradh ‘am ini tidak masuk kedalam unsur ta’rif sama sekali. Karena dia tidak akan mampu menjadi titik pembeda, apalagi menjelaskan esensi sesuatu yang hendak didefiniskan.

Misalnya, sebagai contoh, Anda mendefiniskan manusia sebagai hewan yang berjalan. Kata hewan menjadi jins. Sedangkan berjalan menjadi ‘aradh ‘am. Pertanyaannya: Apakah ini bisa diterima sebagai sebuah definisi? Ya, bisa saja itu disebut sebagai definisi. Tapi itu definisi yang cacat. Karena setelah mengemukakan definisi tersebut, orang pasti akan kembali bertanya: Lalu kalau begitu apa bedanya manusia dengan kambing? Bukankah kedua-duanya sama-sama berjalan?

Sebagian ahli ilmu logika yang lain, seperti dosen penulis, Prof. Muhyiddin ‘Azb, memperbolehkan penggunaan ‘aradh ‘am ini, jika ia dirangkai dengan fashl, atau khasshah. Ketika ia dirangkai dengan fashl, maka ta’rifnya ketika itu masuk kategori hadd naqish. Tapi ketika ia dirangkai dengan khasshah, maka status ta’rifnya berubah menjadi rasm naqish.

‘Aradh ‘am ini hanya dibagi menjadi dua. Pertama, ‘aradh ‘am lazim. Kedua, ‘aradh ‘am mufariq. Apa perbedaan keduanya? Mari kita simak uraian sebagai berikut:   

Membedakan ‘Aradh ‘Am Lazim dan ‘Aradh ‘Am Mufariq

[1] ‘Aradh ‘Am Lazim

‘Aradh ‘am lazim adalah ‘aradh ‘am yang menyertai semua individu dalam setiap waktu. Contohnya seperti potensi berjalan bagi manusia. Ingat, potensi berjalan (masyin bilquwwah), bukan berjalan secara aktual (masyin bilfi’il). Anak kecil yang masih bayi, misalnya, memang belum bisa berjalan. Tapi dia punya potensi untuk berjalan (masyin bilquwwah). Dengan demikian, potensi berjalan yang dinisbatkan kepada manusia—baik itu anak kecil maupun orang dewasa—disebut sebagai ‘aradh ‘am lazim.

[2] ‘Aradh ‘Am Mufariq

‘Aradh ‘am mufariq adalah ‘aradh ‘am yang tidak menyertai semua individu di setiap waktu. Contohnya seperti berjalan yang dinisbatkan kepada manusia secara aktual (bilfi’il). Manusia tidak berjalan setiap waktu. Ia hanya berjalan dalam waktu-waktu tertentu.

Ketika manusia berjalan secara aktual, maka ketika itu berjalan yang dinisbatkan kepadanya masuk kategori mufariq. Tapi ketika ia tidak berjalan, maka kata berjalan yang dinisbatkan kepadanya masuk kategori lazim, karena sekalipun tidak berjalan secara aktual, setiap manusia, hatta bayi sekalipun, punya potensi untuk berjalan.

Kesimpulannya, ‘aradh ‘am adalah mafhum kulliy yang berada di luar esensi sesuatu tapi tidak menjadi kekhususan yang dimiliki oleh sesuatu itu. Ia dimiliki oleh sesuatu, tapi juga dimiliki oleh sesuatu yang lain. Dalam merangkai sebuah ta’rif, ‘aradh ‘am ini tidak punya peran yang signifikan. Karena dia tidak banyak memberikan penjelasan. Pembagiannya ada dua: Satu, lazim. Dua, mufariq.

Setelah menguraikan masing-masing dari kulliyyat khamsah, pada tulisan selanjutnya kita akan memasuki pembahasan mengenai ta’rif, qaul syarih, atau definisi. Karena penjelasan mengenai kulliyat khamasah ini tak lain hanya sebagai pengantar untuk memahami dan merangkai sebuah definisi dengan kaidah-kaidah yang tepat dan benar. Demikian. Wallahu ‘alam bi al-Shawab.