Tak ada penolakan di kalangan orang-orang beriman bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu sebelum sesuatu itu benar-benar ada dan tercipta di alam semesta. Pengetahuan (ilmu) Tuhan itu sifatnya menyingkap, bukan memberikan dampak. 

Saya, misalnya, lahir tanggal 19 Desember 1994. Di satu kota bernama Sukabumi. Setelah itu pindah ke Tangerang, lalu tinggal di negara Mesir, dan sekarang kembali ke Indonesia.  

Sebelum  saya benar-benar terlahir, Tuhan sudah tahu—dengan ilmu-Nya yang azali—bahwa saya akan terlahir. Sebagaimana Tuhan juga sudah tahu bahwa suatu saat nanti saya akan berdiam di negeri Mesir. Semua yang terwujud dan terjadi di alam semesta ini sudah diketahui oleh Tuhan dengan pengetahuan-Nya yang azali.

Tuhan mengetahui segala sesuatu sebelum sesuatu itu tercipta. Tapi, yang menjadi pertanyaan kemudian ialah: sesuatu yang Tuhan ketahui itu sendiri—sebelum dia benar-benar ada—memiliki keberadaan atau tidak? 

Saya rubah redaksi pertanyaannya menjadi lebih jelas: Tuhan mengetahui saya sebelum saya benar-benar terlahir ke alam dunia. Lalu, pertanyaanya: sebelum saya terlahir, dalam ilmu Tuhan saya itu ada atau tidak ada?

Tak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Sebab, kalau Anda mengatakan bahwa saya ada, maka pandangan tersebut boleh jadi akan berkonsekuensi pada keyakinan akan adanya sesuatu yang qadîm selain Tuhan, yang dalam hal ini adalah saya. Sementara dalam keyakinan yang kita anut dinyatakan bahwa sesuatu yang qâdim itu hanyalah Tuhan. 

Tapi, kalau Anda mengatakan saya tidak ada—dengan ketiadaan mutlak—maka orang akan bertanya-tanya: Lalu bagaimana mungkin pengetahuan Tuhan berkaitan dengan sesuatu yang dia sendiri tidak ada?

Seolah-olah, dijawab ada salah, dijawab tidak ada juga salah. Tapi, kalau Anda memahami uraian saya sebelumnya, tentang keempat macam wujud, tak akan sulit bagi Anda untuk menjawab pertanyaan di atas. 

Dalam tulisan sebelumnya kita mengenal ada yang namanya wujûd khâriji (wujud eksternal) dan wujûd dzihni/wujud ‘ilmi (wujud rasional/wujud pengetahuan). Di sana dikatakan bahwa wujud yang hakiki itu hanyalah wujûd khâriji, karena hanya dia yang bisa melahirkan dampak-dampak.

Sebelum saya benar-benar diciptakan, Tuhan sudah mengetahui saya, dengan pengetahuan-Nya yang azali. Tapi, sekali lagi, apakah dalam pengetahuan Tuhan itu saya memiliki wujud? Jawabannya tergantung pada wujud apa yang dimaksud. Jika yang dimaksud dengan wujud tersebut ialah wujud eksternal (wujûd khâriji), maka jelas jawabannya tidak. 

Tapi jika yang dimaksud dengan wujud itu ialah wujud rasional (wujûd dzihni), maka jawabannya iya.  Singkatnya, dalam pengetahuan Tuhan, saya tidak memiliki wujud eksternal (wujûd khariji), tapi saya memiliki wujud rasional (wujûd dzihni/’ilmi). 

Karena itu, saya bisa dikatakan tidak ada (ma’dûm), dari sudut wujud eksternalnya, tapi saya juga bisa dikatakan ada (maujûd), kalau kita lihat dari aspek wujud rasionalnya.

Hanya saja, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, wujud rasional itu sendiri masih diperselisihkan, apakah dia bisa dikatakan wujud atau tidak? Para teolog menolak adanya wujud rasional itu. Tapi para filsuf mengakui keberadaannya.

Jika kita berada dalam barisan para teolog, kita akan menjawab bahwa saya itu—sebelum benar-benar diciptakan—tidak ada (dalam arti tidak memiliki wujud) dalam ilmu Tuhan. Karena kalaupun dikatakan ada/berwujud, wujud saya itu hanya wujud rasional saja, bukan wujud eksternal. Sementara wujud rasional bukan wujud yang sesungguhnya.

Namun, kendatipun saya tidak ada, saya termasuk sesuatu yang dimaksudkan untuk ada (al-Murâd îjaduhu), dan karena itu saya bersifat tetap (tsâbit) dalam ilmu Tuhan. Kata tetap adalah kata kunci yang harus kita pahami dari istilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini.

Segala sesuatu itu, baik itu yang bersifat mumkin ataupun mustahîl, itu tetap (tsâbit) dalam pengetahuan Tuhan. Jika Tuhan menghendakinya ada, maka dia akan diadakan dengan kuasa-Nya. Tapi jika Tuhan menghendakinya tidak ada, maka dia pun tidak akan menjadi ada. “Ketetapan” yang dimaksud adalah wujud rasional, atau wujud “pengetahuan” (wujûd dzihni/wujûd ‘ilmi) yang saya singgung tadi.

Sebelum benar-benar terwujud, dengan wujud eksternal, segala sesuatu itu tetap, dalam arti dia memiliki wujûd dzihni (wujud rasional) dalam pengetahuan Tuhan. Berangkat dari sinilah kaum ‘arifin memperkenalkan satu konsep yang mereka sebut dengan istilah al-’Ayân al-Tsâbitah (hakikat-hakikat yang bersifat tetap).

Apa itu al-’Ayân al-Tsâbitah? Kata al-‘Ayân merupakan bentuk jamak dari kata ‘ain. Kata ‘ain ini memiliki banyak makna. Tapi, dalam konteks ini, kita bisa mengartikannya sebagai hakikat (mâhiyyah). Sedangkan tsâbit bermakna tetap (bisa juga kita artikan dengan laten).

Dengan demikian, makna harfiah dari al-’Ayân al-Tsâbitah ialah hakikat-hakikat yang bersifat tetap. Hakikat yang dimaksud ialah mâhiyyât (esensi-esensi). Esensi-esensi itu dikatakan tetap karena dia memiliki fase “wujud” tertentu dalam pengetahuan Tuhan. Tapi bukan wujud eksternal (wujûd khâriji), melainkan wujud rasional (wujûd dzihni).

Pemahaman akan istilah ini sangat bergantung pada pemahaman kita akan wujud rasional (wujûd dzihni) yang pernah saya singgung dalam tulisan yang lalu. Dalam tulisan sebelumnya saya sudah kasih contoh bahwa yang dimaksud dengan wujud rasional itu ialah esens-esensi (mâhiyyât) yang berada dalam nalar kita. 

Sekarang, misalnya, saya menulis dengan menggunakan laptop. Ketika laptop ini tiada, bayangan saya tentang laptop masih ada di kepala saya. Wujud laptop di alam luar itu disebut dengan wujud eksternal (wujûd khâriji), sementara wujud laptop yang ada dalam pengetahuan saya disebut dengan wujud rasional (wujûd dzihni). 

Nah, sebelum alam semesta ini tercipta, semua yang ada dan tidak ada itu memiliki ketetapan dalam pengetahuan (ilmu) Tuhan. Artinya, sebelum benar-benar terwujud di alam luar, segala sesuatu itu memiliki wujûd dzihni dalam ilmu Allah. Dan setelah itu barulah Allah Swt mewujudkan hakikat-hakikat tetap itu dengan kuasa-Nya sehingga mereka memiliki wujud eksternal di alam luar.  

Sekarang, misalnya, kita melihat ada pohon, kayu, meja, batu, air, api, manusia, monyet dan beruang. Dan semuanya berwujud dengan wujud eksternal. Pertanyaannya: sebelum mereka benar-benar ada, mereka itu ada atau tidak dalam pengetahuan Tuhan? 

Jawabannya seperti yang saya sebutkan tadi. Mereka ada dari aspek wujud rasionalnya, tapi tidak ada dari aspek wujud eksternalnya. Karena itu mereka disebut sebagai hakikat-hakikat yang tetap/laten. Dan itulah yang dimaksud dengan al-’Ayân al-Tsâbitah.

Keyakinan akan al-’Ayân al-Tsâbitah ini tentu tak berkonsekuensi pada keyakinan akan adanya sesuatu yang qadîm (tak berawal) selain Tuhan. Karena kalaupun dikatakan berwujud, hakikat-hakikat yang bersifat tetap itu hanya memiliki wujûd dzihni saja, bukan wujûd khâriji. Hanya memiliki wujud pengetahuan, tapi tidak memiliki wujud eksternal.

Meskipun, kalau kita bertanya apakah dia (al-’Ayân al-Tsâbitah) itu benar-benar ada atau tidak? Jawabannya dia tidak ada. Karena sesuatu itu bisa dikatakan ada—dengan makna keadaan yang sesungguhnya—kalau dia memiliki wujud eksternal (wujud khariji), sementara dia hanyalah wujud rasional (wujud dzihni), yang ada dalam pengetahuan Tuhan. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.