Mahasiswa
3 bulan lalu · 64 view · 2 menit baca · Puisi 33372_20771.jpg
Gatholotjo.com

Apa Harus Menunggu Sembilu?

Memaknai Kemerdekaan

Semburat cahaya merah keemasan, namun bukan pertumpahan

Harmoni langit dan bumi bersatu dalam pijakan darah-darah perjuangan hingga hari bersejarah itu kembali tiba

Apa perlu, merayakan hari yang setiap tahunnya hanya berisi kenangan?

Tanpa kau lanjutkan itu dengan serbuk-serbuk perjuangan kawan?

Bukankah negri ini bisu?

Sesepuh-sesepuh tak bernyawa itu juga tidak sadar akan ketidak pedulian mu!

Lalu untuk apa, sorak soray penuh warna disepanjang jalan bangsa nan fana?

Kau juga tidak akan dikenang jika selama hidup mu tak menjalar

Dan setelah itu, berhenti saja memerah putihkan diri jika dalam akal sehat mu sudah tidak ada lagi makna kemerdekaan, pengorbanan, dan perjuangan para pahlawan..

Apa Harus Menunggu Sembilu?

Aku adalah aroma nusa bangsa tanpa singgasana, ingin sekali rasanya mengguncang raga dengan aroma yang penuh keapatisan itu

Pernahkah tetua mempertemukan kita dalam keruncingan bambu yang nyata? Itukah yang sedang kau tunggu?

Bilik-bilik yang kau bangun bersama dunia maya yang kau puja, menjadikan sumpah-sumpah yang semestinya terucap khidmat, hanya tinggal wacana selama 120 detik saja..

Tetesan peluh maya kah yang mengantarkan mu pada bumi yang tak lagi merodikan dan meromushakan generasi ini?

Bait-bait maya kah yang menyatukan mu dalam forum jiwa-jiwa yang tengah berkorbar, lalu menyebut diri kita sebagai pemuda dan pemudi bangsa?

Dimana kau saat ini? Kau sabdakan Sumpah Pemuda sembari mendengar earphone saja? Tanpa kau maknai semua hingga kau sadar, peran tiada membabulah yang mesti kau lakukan setelahnya..

Bukan membabu untuk maya, bukan membabu pada earphone mu semata, tetapi mengabdi untuk bangsa, karena kau lah generasi Zamrud Khatulistiwa yang sedang dinanti-nanti kelahirannya!

Bukan sekedar sumpah yang kau ucapkan sembari geleng kepala, bukan janji yang kau sembunyikan dibalik gerak bibir hitam mu saja, tetapi wujud dari sumpah mu sebagai seorang pemuda yang akan berjaya dan menjayakan bangsa Indonesia!

Apa harus menunggu Sembilu?

Untuk menjadi satu, menjadi identitas dan karakter bangsa mu?

Apa harus menunggu Sembilu?

Untuk tidak lupa siapa dirimu, dan seperti apa altar negaramu?

Apa harus menunggu Sembilu?

Untuk menikam keapatisan yang kau buat-buat mengisi ruang ego dalam diri mu itu?

Putra Putri Di Ranah Indonesia

Suryaloka tak selalu ingin mendengarkan musik mu, karena lantunan Indonesia Raya mu telah mengantarkan kau menjadi dambaan pribumi

Mayapada juga tak selalu ingin mendengarkan konotasi mu, karena sumpah setia mu telah menghentikan kehausan akan nasionalisme di negri ini

Antariksa kelak akan muak mendengar diksi mu, karena bahasa kesatuan mu telah mengantarkan kau menjadi pewaris peradaban yang tidak akan pernah goyah lagi

Bangsa ini sedang tidak butuh berpesta, tetapi yang dibutuhkan adalah sosok pemuda!

Pemuda yang tak goyah jika dihantarkan pada sajak-sajak purbawi

Pemuda yang tak goyah jika dipertemukan dengan segerombolan manjakani

Pemuda yang tak goyah jika didengarkan melody yang tiada berdiksi

Karena pemuda, adalah sosok yang tak renta, tak goyah ketika bangsa sudah tidak lagi berpesta!

Karena pemuda, adalah pilar utama, menjunjung tinggi harkat martabat negara dan menjaga nama baik para pemuda lainnya!

Selamat menjadi pewaris aset negara, kawanku!

Pertumpahan darah kita adalah pertumpahan darah pemuda

Bangsa kita adalah bangsa pemuda

Dan bahasa kita adalah bahasa pemuda

Karena kita adalah, putra dan putri di ranah Indonesia