1 tahun lalu · 1323 view · 5 menit baca · Pendidikan 80375.jpg
Masjid al-Azhar

Apa Enaknya Sekolah di al-Azhar?

Tahun ini adalah tahun kelima saya hidup di Mesir dengan berstatus sebagai mahasiswa Universitas al-Azhar. Saya pergi ke Mesir akhir tahun 2012, tepatnya pada tanggal 24 September. Sekitar setengah tahun yang lalu saya lulus. Dan kini saya memilih untuk tidak pulang dan tetap melanjutkan studi sampai selesai seperti yang dulu saya impikan.

Orang-orang Indonesia di sini pada umumnya mendalami studi-studi keislaman. Hampir jarang, atau bahkan mungkin tidak ada, yang mendalami ilmu-ilmu “keduniawian” seperti kedokteran, ekonomi, pertanian, ilmu komunikasi, dan lain-lainnya. Di kampus bagian keislaman ini setidaknya ada empat fakultas: Bahasa Arab, Ushuluddin, Syariah dan Dakwah.

Di sekolah pascasarjana, saya mengambil program studi Akidah-Filsafat di Fakultas Ushuluddin bersama 3 orang Indonesia lainnya. Mahasiswa Indonesia yang tercatat di jurusan ini, setahu saya, sekarang hanya ada 4 orang saja. Saya, kemudian satu teman seangkatan, dan dua lainnya adalah senior kami yang sudah masuk duluan dan sampai sekarang masih bertahan.

Yang meminati jurusan ini memang tidak banyak. Selain dikenal sulit, orang yang mendalami bidang ini juga prospek kedepannya, kata orang, tidak begitu jelas. “Emangnya nanti mau kerja apa kalau belajar filsafat? Mau jadi tukang mikir? Apa mau jadi dukun?” Itulah coletan orang yang sering kita dengar.

Tapi tidak halnya bagi saya dan teman-teman. Di Indonesia, jurusan filsafat kadang menjadi tempat “pembuangan” mahasiswa yang gagal diterima di jurusan lain. Karena memang peminatnya tidak banyak. Tapi di al-Azhar, jurusan ini justru punya keistimewaan. 

Banyak tokoh-tokoh besar al-Azhar yang pernah belajar di jurusan ini. Sulaiman Dunya, yang dikenal sebagai pentahqiq buku-buku filsafatnya al-Ghazali, Muhammad Ghallab, Abdul Mu’thi Bayyumi, Fathi Zughbi, Hamdi Zaqzuq, Ridwan Sayyid, bahkan, Grand Syekh al-Azhar yang sekarang juga dulunya mendalami studi filsafat di jurusan ini.

Karena itu, di tahun ketiga, saya memutuskan untuk masuk di jurusan ini. Ada banyak kelasan kenapa jurusan ini saya jadikan pilihan. Salah satunya karena saya cukup menyukai dan menikmati ilmu-ilmu rasional, sepeti Mantiq (logika), Ilmu Kalam, Filsafat dan lain-lain.  

Setelah lima tahun belajar di kampus tertua ini, sekarang saya ingin berbagi cerita kepada Anda tentang susah-enaknya belajar di al-Azhar. Eh, tapi lebih baik diceritakan sisi enaknya aja sih. Sisi pahitnya mungkin lebih baik nanti Anda sendiri saja yang merasakan.

Biaya Kuliah Gratis

Hal pertama yang memudahkan sekaligus menjadi keistimewaan di kampus ini ialah: kuliah yang gratis alias tidak bayar. Di strata satu, paling setahun Anda disuruh untuk membayar rusum yang kalau dirupiahkan tidak sampai 200 ribu rupiah.

Itupun tidak harus Anda bayar setiap tahun. Anda bisa bayar di akhir tahun ketika Anda mengambil ijazah kelulusan. Baik banget, kan?

Di sekolah pascasarjana bayarannya juga tidak terlalu mahal. Bahkan mungkin terbilang paling murah sedunia. Bayangkan, setiap tahun mahasiswa hanya diwajibkan membayar uang sekitar 1.525 LE, yang kalau dirupiahkan dengan kurs sekarang tidak akan lebih dari 1.500.000 rupiah. Dan itu untuk setahun penuh.

Selebihnya Anda hanya butuh uang untuk membeli buku, uang makan dan kebutuhan-kebutuhan lain yang saya kira tidak terlalu mahal.

Kalau soal uang makan, dengan bermodal uang minimal 700 ribu rupiah saja saya kira Anda sudah bisa bertahan hidup di sini. Kuliah tidak bayar. Apalagi lembaga-lembaga beasiswa juga banyak yang menyalurkan bantuan.

Kecuali kalau Anda berjenis kelamin perempuan. Biasanya, perempuan memerlukan kebutuhan lebih. Saya tidak tahu persislah kalau perempuan kebutuhannya apa saja. Cuma saya kira 1 juta juga cukup perbulan. Itupun kalau Anda mau hemat.

Yang pasti. Selama Anda bisa hemat, Anda bisa bertahan hidup di sini dengan modal uang saku yang tidak terlalu besar. Inilah keistimewaan yang saya nikmati selama lima tahun sampai saya lulus pada akhir tahun silam.

Halaqah Keilmuan yang Melimpah

Di luar kampus, ulama-ulama al-Azhar sering membuka halaqah (lingkaran) pengajian di berbagai tempat. Ada yang di masjid al-Azhar, dan ada juga yang membuka pengajian di masjid dan tempat-tempat lain.

Melalui halaqah-halaqah tersebut, kita bisa mendalami berbagai disiplin keilmuan Islam dari mulai ilmu-ilmu al-Quran, Hadits, Fikih, Bahasa Arab, Tasawuf, Ilmu Kalam dan sebagainya.

Para pengampunya kebanyakan adalah ulama-ulama besar. Lain halnya dengan para pengajar di lingkungan kampus. Para pengajar di kampus, sejauh yang saya amati, kebanyakan adalah para akademisi, bukan “ulama” dalam pemaknaan khusus. Meskipun ada juga sih ulama-ulama besar yang mengajar di kampus. Terutama di sekolah pascasarjana.

Tapi, setahu saya, umumnya para ulama besar banyak membuka pengajian di luar. Dan pastinya Anda bisa mengikuti pengajian-pengajian mereka secara gratis alias tidak bayar. Coba bayangkan, sudah kuliah gratis, mengaji di luar gratis pula. Enak, kan?

Buku-buku yang Murah Meriah

Kalau Anda termasuk penggila dan penikmat buku, saya pastikan bahwa Mesir akan menjadi surga bagi Anda. Meskipun Anda termasuk golongan hamba-hamba Allah yang kere, jangan kuatir, buku di sini murah-murah. Kalau tidak mampu membeli buku asli, cari saja buku bekas.

Saya termasuk mahasiswa yang hobi mencari buku bekas. Bagi saya, buku bekas punya keunikan tersendiri. Buku bekas adalah cerminan dari keprihatinan. Dengan membaca buku bekas, kadang kita dibuat sadar dengan keterbatasan material yang kita miliki sehingga kita terdorong untuk bersungguh-sungguh dalam mengais ilmu pengetahuan.

Prof. Hamdi Zaqzuq, yang sekarang menjadi Anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar, pernah bercerita kalau Gus Dur, ketika kuliah di Mesir dulu, suka mencari buku bekas. Jadi lumayanlah. Setidaknya kalau Gus Dur pernah melakukan itu, dengan menjadi pemburu bekas kita gak hina-hina amat kan? Haha.

Tidak Ada Skripsi

Menjelang akhir semester, kewajiban untuk membuat skripsi kadang sering membuat kepala kita retak dan menjadi penghambat kelulusan. Tapi itu di Indonesia. Sementara di sini, Anda hanya hanya diwajibkan untuk mengikuti ujian tulisan dan lisan. Jika Anda lulus pada ujian tersebut, maka Anda akan menjadi sarjana dan bisa segera melangsungkan perkawinan (eh, maksudnya mengambil ijazah kelulusan). 

Saya sendiri tidak tahu apakah ini merupakan sebuah keistimewaan atau kekurangan. Sepertinya dua-duanya sih. Di satu sisi, tidak adanya kewajiban membuat skripsi itu sebenarnya memiliki sisi negatif karena tidak mengasah kemampuan akademis mahasiswa. Tapi di sisi lain, dengan tidak adanya kewajiban tersebut, paling tidak kita bisa lebih tenang untuk memikirkan masa depan pernikahan setelah meraih ijazah kelulusan. Bhahaaha.

Karena tidak ada kewajiban menulis skripsi, maka saya putuskan untuk rajin menulis. Hanya dengan cara inilah saya berupaya untuk menutupi kekurangan itu. Hasilnya lumayan. Setidaknya saya bisa menulis sekalipun masih acak-acakan. Karena itu, kalau nanti Anda ditakdirkan ke sini, saya sarankan Anda untuk rajin menulis. Karena dengan menulislah kita dapat membagi dan mengabadikan apa yang kita dapatkan selama di al-Azhar.

Tidak Ada Aturan     

         Jika Anda pernah sekolah di pesantren, saya yakin Anda merasa jengkel dengan yang namanya nizham atau aturan. Kemana-mana harus izin. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Jam segini harus melakukan ini, mengerjakan itu dan lain-lain. Nah, di sini, Anda akan hidup seperti burung terbang. Anda bebas. Tidak ada aturan kecuali aturan Agama yang berasal dari Tuhan. Bahkan, absensi kuliah saja baru muncul belakangan.

Tapi sayang, di satu sisi, justru kebebasan itulah yang cenderung melalaikan banyak mahasiswa sehingga lupa tujuan. Namun, pada akhirnya, semua itu kembali kepada Anda. Karena Anda sendiri yang mengatur dan menentukan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi gambaran singkat bagi Anda-anda yang ingin sekolah di al-Azhar. Sejujurnya di balik itu semua ada juga sisi pahitnya sih. Tapi sisi pahit itu akan tetap saya simpan. Biar nanti Anda sendiri yang merasakan. 

Kairo, Saqar Quraish, 9 Juli 2017.