Penulis
1 bulan lalu · 681 view · 3 min baca menit baca · Agama 28831_83701.jpg
Foto: natursymphonie

Apa Derita Dunia bila Agama Mundur?

Terlepas apakah mungkin seorang ateis betul-betul bisa menjadi “kafah” keateisannya, rupanya tak sedikit bukti yang menunjukkan bahwa ateis dapat hidup secara bermoral. Ia mampu berdampingan dengan orang lain secara damai, menghormati perbedaan, memperlakukan tetangga dengan baik, dan menempatkan manusia sebagai manusia.

Berkaca dengan ini, tradisi Barat lalu meyakini sekularisasi sebagai jalan yang “menjanjikan” menuju rumah masa depan. Setidaknya ini yang digambarkan oleh Charles Taylor dalam buku A Secular Age

Tak heran bila di Barat (Eropa) ada gereja yang dijual dijadikan museum, atau dibeli muslim kaya utuk diubah menjadi masjid. Dan nyatanya, meski perlu penjelasan yang panjang proses kausalnya, Barat dapat berkembang dan maju secara sosial. Atau setidaknya, kita saat ini sedang berlomba ingin seperti Barat secara sosial.

Sebaliknya, pada beberapa kasus, seorang pemeluk agama tak henti-hentinya mengusik ateis, alergi dengan perbedaan, fobia dengan simbol-simbol, dan bahkan sadisnya menjadikan manusia lain termasuk dirinya sebagai alat memuaskan egoisme keagamaannya. Ini yang dipertontonkan oleh pelaku pembunuhan dan bunuh diri atas nama agama.

Beberapa masyarakat, tidak semua, yang menyatakan berbasis pada agama kocar-kacir kehidupan sosialnya, ya korupsi, ya menipu, memersekusi, mempraktikkan instrumentalisasi agama. Juga, anggota masyarakatnya yang berselimut agama begitu mudah diadu domba justru dengan atas nama agama. 

Agama di tangan mereka “kurang berhasil” sebagai jalan keselamatan, kemerdekaan, kemenangan, dan kemanusiaan. Barangkali realitas ini yang kita cermati belakangan di kawasan Timur Tengah, atau mungkin sedikit di Asia Tenggara, Indonesia dan Myanmar, misalnya.

Tak berlebihan jika kemudian Abdullahi Ahmed An-Naim, murid Muhamed Toha, pendiri Republikan Brotherhood (persaudaraan republik) di Sudan, menulis Islam and The Secular State: Negotiating the Future of Shari’a. Dia menyatakan bahwa situasi sekuler justru dibutuhkan untuk berkembangnya agama (termasuk Islam) agar syariat-syariatnya dapat dijalankan dengan sepenuhnya.


Peristiwa-peristiwa yang dijadikan kasus di atas bukan dalam rangka membandingkan Timur (Tengah) dengan Barat, melainkan ini sudah kesadaran umum. Karena itu, Hasan Hanafi juga menegaskan telah menemukan Islam tanpa muslim di Barat, dan menemukan muslim tanpa Islam di timur. 

Interpretasi kasarnya atas diktum tersebut ialah ateis minus agama tetapi (moralnya) seperti beragama dan agamais plus agama tetapi (moralnya) seperti tak beragama.

Artinya, ateisme tidak seperti tuduhan agamais, yang selalu buruk dan minus moral. Ateisme seperti agamaisme juga menyediakan realitas moral, yang membuat ateis memiliki potensi sebagai suatu jalan yang mungkin bagi kehidupan sosial yang baik di masa depan. 

Maka dengan ini, pertanyaan pentingnya (secara sosiologis, mungkin juga teologis) adalah apa derita dunia bila agama mundur? Toh atheis bisa hidup tak kalah “agamisnya” dengan yang beragama.

Inilah pertanyaan yang mesti dijawab oleh kita semua yang masih mengikatkan diri pada tali agama. Tentu saja bukan jawaban egois, melainkan objektif dan universal yang dapat diterima oleh semua baik yang beragama pun ateis.

Sebagai stimulasi awal atas pertanyaan tersebut, bisa diawali dari peristiwa modernisasi di kebudayaan Barat. Modern adalah lompatan besar bagi “tragedi” beragama di Barat. Betapa tidak, bila di abad tengah kehidupan yang baik adalah terikat pada beragama, berserah pada agama, lalu berubaha secara diametral menjadi hidup yang tenang adalah tanpa agama: atheis. Yang kemudian disebut sekularisasi.

Sekularisasi di Barat, menurut Taylor, merambat pada empat hal: pertama, sekularitas publik, yaitu agama tidak lagi boleh menampilkan tariannya di ruang publik. Ia dialihkan ke domain privat. Agama di ruang publik selamanya “dikutuk” terjebak pada praktik instrumentalisasi agama, yang paling menonjol ialah politisasi agama.

Kedua, sekularitas sosiologis yang meyakini bahwa agama akan hilang dengan sendirinya berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semuanya bisa dijelaskan oleh ilmu sebagai ganti agama. Keyakinan ini diorasikan orang macam August Comte, Sigmund Frued, Richard Dawkin. Dan mungkin belakangan Yuval Noah Harari lewat dua set bukunya: Homo Sapiens dan Homo Deus.


Ketiga, sekularitas teologis, mengeklaim secara tegas bahwa memang dari awal agama tidak dibutuhkan, atau tidak ada. Agama tidak hakiki, melainkan pelarian manusia dari penderitaannya. Keyakinan ini ada sejak era Epikurus, di zaman Yunani klasik. 

Keempat, sekularitas filosofis, yaitu kajian-kajian filsafat yang anti-metafisika, melihat metafisika sebagai senja kala di ujung senja. Ide-ide ini dinyatakan tokoh-tokoh pemikir materialistik (mekanik). Begitulah proses sekularisasi di Barat.

Rupanya ini tidak memuaskan. Lalu belakangan muncul kajian post-sekularisme. Kajian ini berbeda dengan de-sekularisasi. Jika de-sekularisasi melawan sekularisme, maka post-sekularisme merasa bahwa sekularisme kurang berhasil membaca manusia. 

Ada banyak enigma dan misteri pada manusia yang diabaikan oleh sekularis. Karena itu, mereka mencoba kembali mengurai hal-hal yang tersembunyi pada diri manusia, yaitu spritualitas.

Hanya saja, apakah spritualitas ini berarti agama berikut lembaganya? Atau tidak, sehingga ada keyakinan bertuhan tanpa agama? Atau spritualitas itu cukup berupa kepuasan batin seperti saat kita mendengarkan musik, pergi wisata, chat dengan kekasih, update status, duduk dengarkan ceramah agama? Atau apa? Mari kita renungkan.

Artikel Terkait