Organisasi merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki maksud dan tujuan sama. Di dalamnya terdapat struktur hierarki yang mengatur dan mengikat setiap anggota kelompok agar berperilaku sesuai dengan norma-norma yang dipegang. Setiap anggota memiliki peran masing-masing guna melaksanakan usaha-usaha mencapai tujuan bersama.  

Organisasi timbul dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Mereka tidak dapat hidup tampa bantuan orang lain. Dalam kehidupan sehari-sehari misalnya, ketika kita sedang merasa lapar, kita akan mencari penjual makanan. Atau saat di perantauan, bekerja untuk hidup mandiri sekalipun, peran orang lain seperti atasan atau pembeli tidak bisa dilepaskan.

Sejak zaman berburu dan mengumpul, manusia hidup berorganisasi dalam kelompok. Terdiri dari beberapa keluarga dan memiliki pimpinan yang mengambil berbagai keputusan penting guna keberlangsungan hidup anggota kelompoknya, baik itu menentukan tempat tinggal baru, membagi hasil buruan, menyelesaikan konflik internal, atau berperang dengan kelompok lain.  

Perubahan zaman terjadi terus-menerus. Organisasi tidak hanya mengurusi hal seputar kebutuhan kelompoknya saja. Kini organisasi punya peran lebih kompleks yang lebih luas, dimulai keluarga hingga antarnegara, memengaruhi perubahan global. Tentu dengan perkembangan itu kita juga harus ikut berperan menentukan nasib sendiri. Sebab sadar atau tidak, kita sudah menjadi anggota dari organisasi.

Baca Juga: Mahasiswa Sesat

Mahasiswa dan Organisasi

Mungkin kita pernah mendengar kalimat, “Hanya ada dua maha, Maha Esa dan Mahasiswa.” Meski kata awalnya sama namun keduanya berbeda. Maha Esa mengartikan Tuhan itu satu dan agung, memiliki kekuasaan atas segala hal dalam kehidupan. Berbeda dengan Mahasiswa, mereka adalah kaum terpelajar, berintelektual, dan bisa berpikir kritis.

Bila diperhatikan secara cermat, status mahasiswa secara tersirat memberikan pesan kepada orang yang menyandangnya untuk bertindak sesuai dengan kedudukan tersebut. Dia bukan lagi seorang siswa yang hanya menerima semua pengajaran di bangku sekolahan secara kaku, tapi sekarang sudah harus mampu berpikir dan berbuat.

Organisasi hadir sebagai lokomotif yang mampu mewujudkan fungsi-fungsi sesungguhnya dari seorang mahasiswa. Keberadaannya menciptakan kontrol bagi pihak-pihak berkuasa yang tersesat dari hati nuraninya sendiri. Beberapa dari wujud fungsinya seperti, Gerakan Anti Kebodohan 1978, Malari, Reformasi 1998 dan banyak lagi.

Bayangkan saja jika organisasi kehilangan fungsi kontrolnya. Kita akan terkurung dalam kesewenang-wenangan pemegang otoritas, dan dikendalikan sesuai kemauannya. Kita pada akhirnya hanya diam, mengangguk-angguk mengaminkan.

Haluan Pergerakan

Di dalam lingkungan organisasi kemahasiswaan, ada slogan budaya yang selalu dilestarikan yaitu “Buku, Diskusi, dan Aksi”. Budaya tersebut membentuk karakter orang-orang di dalamnya, dan menjadi dasar tindakan mahasiswa yang sepenuhnya sadar saat melihat penyimpangan di lingkungannya.

Budaya membaca buku menjadi bahan mendapatkan kesadaran tersebut. Membaca menghasilkan banyak manfaat seperti, membentuk cara berpikir, analisis, menambah wawasan, dan berkomunikasi. Mirisnya, diketahui minat baca masyarakat Indonesia menempati rangking ke-2 dari bawah berdasarkan riset Central Connecticut State University tahun 2016.

Bila mahasiswa berada dalam kekosongan berpikir, dirinya akan lebih mirip robot dikendalikan untuk kepentingan tertentu. Maraknya Hoax di sosial media belakangan ini, bertujuan membangun opini negatif. Mereka yang sadar akan mampu memilah dan memverifikasi kabar-kabar semacam itu.     

Hal lain yang tak kalah penting yaitu berdiskusi. Kegiatan ini membangun kemampuan berargumen secara kritis guna memecahkan persoalan. Berdiskusi juga merupakan proses bertukar pendapat yang akan membuka sudut pandang baru.

Kemudian aksi sebagai implementasi dari semua proses sebelumnya. Kebanyakan orang menganggap aksi yang dilakukan mahasiswa identik dengan demonstrasi berujung tindakan-tindakan anarkis. Memang kita juga tidak menafikan adanya hal-hal tersebut, namun tidak bisa dijadikan ukuran, sebenarnya ada banyak kegiatan mahasiswa yang positif.

Mahasiswa tidak hanya bersuara menyampaikan protesnya tentang kebijakan yang merugikan saja, tapi juga turun langsung di tengah-tengah masyarakat. Baru-baru ini banyak mahasiswa berinisiatif melakukan penggalangan bantuan bagi korban bencana alam seperti yang terjadi di Palu, Donggala, Banten dan Lampung.

Gerakan-gerakan kemanusiaan merupakan agenda bagi banyak organisasi kemahasiswaan. Pada hakikat sebagai pelaku, mahasiswa merupakan orang intelektual yang mengamalkan pendidikan sebagai alat membantu rakyat di mana dia nanti kembali.

Hal yang juga Tan Malaka pernah katakan, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali."

Apa yang dilakukan oleh mahasiswa sangat menentukan dan penting, sebab di tangannya dititipkan masa depan sebuah bangsa, mereka adalah pengganti dari semua pemimpin saat ini. Mereka kiranya bisa meneruskan serta menjaga apa yang sudah diperjuangkan generasi-generasi sebelumnya di bawah bendera organisasi.

Sekarang organisasi kemahasiswaan menghadapi banyak tantangan. Radikalisme dan intoleransi semakin terang-terangan di mana-mana, bukan tidak mungkin potensi perpecahan bisa terjadi di dalam bangsa yang kaya perbedaan ini. Sudah menjadi tugas kaum terpelajar dan siapa pun untuk menjaga nilai-nilai Ideologi Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa.