Saya cukup rutin mengikuti berita-berita kriminal di beberapa media, baik cetak maupun elektronik, baik berupa tulisan maupun dalam bentuk suara dan gambar. Setiap kali saya mengikutinya, berita kriminal selalu meninggalkan kesan kepada saya. Kadang saya menjadi jengkel, kadang merasa miris, tapi tak jarang pula saya merasa geli. Kesan-kesan itu terutama disebabkan oleh diksi yang dipakai di dalam berita-berita tersebut.

Belakangan, entah karena populer digunakan atau karena kebetulan belaka, saya terngiang-ngiang oleh kata "gagah", "gagahi" (menggagahi), dan "digagahi" yang sering dipakai dalam berita-berita menyangkut pemerkosaan. Tapi senyata-nyatanya, kata tersebut memang sering digunakan dan oleh sebab itu, saya kira perlu disikapi lebih jauh.

Jika para pengguna kata "gagah" atau "gagahi" itu bermaksud untuk menghindari penggunaan kata "perkosa" karena dirasa terlalu kasar, benarkah kemudian bahwa di dalam setiap perilaku "perkosa" atau kegiatan "pemerkosaan" itu terkandung di dalamnya "kegagahan"? 

Akan menjadi bahaya yang tak bisa dianggap sepele apabila kemudian, dari distorsi pensubstitusian kata "perkosa" dengan "gagah" itu, muncul pertanyaan lanjutan, terutama dari anak-anak laki-laki: Apakah untuk memerkosa dibutuhkan kegagahan? Atau: apakah kalau gagah boleh melakukan pemerkosaan? Atau yang lebih gawat: perlukah memerkosa biar dianggap gagah?

Saya memerlukan mengecek Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk memastikan adakah kesamaan arti daripada kata "gagah" dengan "perkosa". "Gagah", sebagai kata dasar tanpa sufiks "i", sama sekali tak ada kesinonimannya dengan "perkosa". 

Di samping itu, "gagah" pada dasarnya adalah adjektiva (kata sifat), sedangkan "perkosa" adalah verba (kata kerja) -- meskipun keduanya bisa saja berubah fungsi ketika dipergunakan ke dalam kalimat, tergantung konteksnya.

Tetapi ternyata di sana memang ada kata "menggagahi" (verba) yang berarti sama dengan memerkosa: 1. menguasai dengan kekerasan; memaksa. Contoh: Kau jangan menggagahi orang lain untuk melakukan kehendakmu; 2. memperkosa.  Contoh: Ia dihukum karena menggagahi seorang gadis.

Dari hasil penelusuran ini, kita memang tak dapat menyalahkan media massa atau siapa saja pelaku pensubstitusian kata "perkosa" dengan "gagahi" itu. Namun, dalam konteks perhatian atas pengaruh kebahasaan, saya kira alangkah bijaksana jika para pelaku itu, terutama sekali media massa (wartawan, editor, dsb) tidak lagi menggunakannya. 

Eufemisme semacam ini perlu dihindari agar kita tidak semakin dicap (jika boleh dikatakan demikian) sebagai bangsa yang "munafik", yang sebetulnya berniat santun tetapi jatuhnya malah dianggap berlagak santun.

Memang, bukan perkara mudah untuk meng-eufemisme-kan kata-kata yang dianggap kasar dengan kata sopan yang pas. Tapi ini paling tidak bisa menjadi pekerjaan rumah bagi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang selama ini entah apa kerjanya -- terakhir kali saya lihat mereka cuma memajang spanduk imbauan untuk mengajak masyarakat berbahasa Indonesia yang baik dan benar serta santun di ruang-ruang publik, tanpa langkah atau kerja nyata. Dan itupun, jumlahnya tak banyak dan ukurannya terbenam oleh baliho-baliho iklan komersil dan wajah politisi yang lebih besar yang ada di sekelilingnya.

Sebaik-baiknya eufemisme, saya kira, adalah eufemisme yang benar-benar murni demi kehalusan tutur. Dalam kasus perkosa-perkosaan ini, masih ada kata yang lebih santun, semisal rudapaksa atau merudapaksa (jika bermaksud dijadikan sebagai kata kerja)--meskipun kata ini tadinya adalah bahasa Jawa, tapi ia kini telah dikukuhkan ke dalam bahasa Indonesia dan terhimpun dalam KBBI. 

Kita tentu tak mau kata "gagah", yang tercipta dan terdaftar dalam khazanah bahasa Indonesia dengan artinya yang begitu bajiknya (lihat KBBI, gagah: 1. kuat; bertenaga; 2. besar dan tegap serta kuat; 3. tampak mulia; megah; berani; perkasa), dipersamakan artinya dengan kata "perkosa" yang begitu menjijikkan.