Setelah bertahun-tahun belajar filsafat, bermacam keraguan menghantam. Salah satunya adalah: benarkah filsafat berasal dari Yunani?

Hampir sebagian besar buku sejarah dan filsafat selalu menjadikan Yunani sebagai titik pijak. Bermula sekitar abad ke-6 SM, dengan Thales dari Miletus sebagai tokoh perdananya lewat ucapan: segala sesuatu berasal dari air.

Tapi, apa benar begitu? Jikapun benar, mengapa 'harus' muncul dari Yunani? Kok bukan dari luar Yunani? Bukankah ada peradaban lain di sekitar Yunani Kuno? 

Kalau didorong lebih jauh ke belakang, bukankah ada peradaban sebelum peradaban Yunani Kuno? Apakah ada kemungkinan filsafat sudah lebih dulu muncul sebelum adanya peradaban Yunani Kuno? Jika ada, bagaimana cara melacaknya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi teka-teki tersendiri yang menarik untuk dipecahkan. Tapi, sebelum jauh ke sana, memang apa sih filsafat itu?

Sebenarnya pertanyaan ini sungguh berisiko. Sebab, dari dulu sampai kini pun para filsuf berbeda pendapat menyoal definisi pasti filsafat. Aliran-aliran filsafat kontemporer pun sudah beranekaragam banyaknya.

Tapi, mari coba mulai dari bentangan definisi umum filsafat itu sendiri: pecinta kebijaksanaan. Orang-orang Yunani Kuno sering dianggap sebagai yang 'memperkenalkan' istilah ini pertama kali. Tapi, mari coba telisik lebih dalam lagi.

Pecinta kebijaksanaan kerap dikaitkan dengan upaya seseorang dalam memahami segala yang ada lewat pikiran rasional. Singkatnya, secara esensial, filsafat adalah sebuah ikhtiar rasional. Orang yang melakukannya biasa disebut filsuf.

Jika kita beranjak dari definisi ini, maka sejatinya manusia cenderung bisa berfilsafat ketika struktur otaknya telah memadai untuk melakukan aktivitas rasional. Konsekuensinya, kemungkinan muncul aktivitas filsafat pada peradaban sebelum masa Yunani Kuno pun juga sangat besar.

Tapi, apa hubungannya antara peradaban dengan filsafat? 

Bertrand Russell, dalam bukunya, A History of Western Philosophy, menyebut filsafat sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat. Filsuf adalah akibat sekaligus sebab: akibat dari lingkungan sosial dan politik serta institusi zaman. Sebab dari kepercayaan-kepercayaan yang membentuk politik dan lembaga-lembaga era sesudahnya.

Dari argumen Russell dapat disimpulkan jika dinamika aktivitas filsafat bisa terpenuhi jika ada peradaban: masyarakat, politik dan pada dunia modern, negara. Dari argumennya itu, Russell coba memberi sudut pandang menarik: menampilkan kelahiran filsafat dengan melihat konteks sosial-lingkungannya.

Berbicara tentang aspek sosial-lingkungan, saya jadi teringat Jared Diamond, terutama dalam pemaparannya menyoal kebangkitan peradaban-peradaban manusia. Dalam buku Guns, Germs and Steel, Jared memaparkan syarat-syarat bangkitnya sebuah peradaban ditunjau dari aspek lingkungan geografisnya.

Menurut Jared, setidaknya ada 6 unsur dasar yang membentuk pola sejarah dalam kaitannya dengan kebangkitan sebuah peradaban. Keenam unsur itu adalah produksi pertanian, domestikasi hewan, orientasi sumbu benua, kuman, tulisan, dan teknologi.

Bersatunya keenam unsur itu menjadi sebab dasar berkembangnya dinamika peradaban. Sehingga bisa muncul sebuah masyarakat kompleks yang terdiri dari agama, ekonomi, politik, hukum dan negara.

Dari keenam unsur itu, produksi pertanian dan domestikasi hewan adalah tonggak pertama sebagai syarat berkembangnya peradaban yang maju dan mandiri. Sebab, inovasi penting lainnya sepeti tulisan, politik, agama, negara, teknologi, ilmu pengetahuan baru menyusul secara bertahap setelahnya.

Inilah betapa pentingnya arti lingkungan dalam menyediakan tempat bagi munculnya peradaban, yang pada perkembangannya, juga memengaruhi dinamika filsafat, kesusastraan, dan ilmu pengetahuan.

Sejarah mencatat, perubahan gaya hidup manusia dari pengumpul makanan (food gatherer) ke produksi makanan (food production) terjadi sekitar 9500-8500 SM. Para antropolog, arkeolog, dan sejarawan sepakat menyebut periode ini sebagai tonggak Revolusi Pertanian yang berperan penting dalam jalannya sejarah peradaban.

Timbul pertanyaan, di mana kegiatan pertanian itu pertama kali bermula, sehingga memunculkan peluang untuk mengembangkan peradaban pertama kali?

Berdasarkan bukti-bukti arkeologis, produksi pertanian muncul secara mandiri di berbagai belahan dunia kuno. Jared memaparkan, kegiatan pertanian pertama kali muncul di Asia Barat Daya (sekitar Mesopotamia) pada 8500 SM. Kemudian, menyusul di Cina 7500 SM. Setelah itu, Lembah Indus pada 7000 SM, Eropa Barat dan Mesir sekitar 6000-3500 SM.(hal. 128)

Gambar Bulan Sabit Subur (wikipedia.id)

Dengan melihat fakta sejarah itu, dapat disimpulkan bila Asia Barat Daya, Cina, Lembah Indus, Mesir, dan Eropa Barat adalah pusat-pusat peradaban maju pertama di dunia. Konsekuensinya, mereka berpeluang besar mengembangkan buah peradaban seperti tulisan, pemerintahan, politik, teknologi, hingga ilmu pengetahuan pertama kali. Terlihat jelas bahwa Yunani Kuno tak masuk daftar bagian yang mendapat kesempatan itu.

Jika kita kembali pada definisi awal filsafat tadi, dihubungkan kepada argumen Russell dan menyanggahnya dengan pemaparan dari Jared, maka kemungkinan muncul aktivitas filsafat di dunia Kuno sebelum masa Yunani sangatlah besar.

Masih mengikuti Russell, ia pun mengakui jika pada masa periode tumbuh peradaban Yunani Kuno, juga dibarengi oleh munculnya peradaban lain yang punya pengaruh setara: Konfusius dari Cina, Buddha dari Lembah Indus, dan Zoroaster dari Persia. (Hal. 15). 

Sampai di sini, barangkali ada yang berpendapat jika filsafat Yunani-lah yang memengaruhi munculnya perkembangan dinamika filsafat di peradaban lain yang sezaman, misalnya di Cina atau Lembah Indus. Sayangnya, pendapat itu tak punya dasar kuat selain hanya termakan oleh kekaguman berlebihan atas filsafat Yunani.

Bila kita berpijak pada pemaparan Jared, maka sebenarnya filsafat Yunani, Cina, dan peradaban lainnya yang sezaman, berkembang terpisah secara sendiri-sendiri. Bahkan, jika kita bertolak dari argumen produksi pertanian sebagai pra-syarat munculnya peradaban pertama kali, maka filsafat sangat mungkin lebih dulu berkembang di peradaban Cina daripada Yunani Kuno.

Adakah sanggahan lain yang meyakinkan terhadap hipotesis bahwa aktivitas filsafat muncul sebelum peradaban Yunani Kuno? Mari kita lihat bagaimana kemunculan tulisan awal hingga perkembangannya mencapai Yunani Kuno dan kondisi geografis Yunani Kuno itu sendiri.

Di bagian mana pun di seluruh dunia, tulisan merupakan pra-syarat berkembangnya sebuah pengetahuan yang mempermudah pertukaran informasi. Tulisan pertama yang tercatat sejarah, berasal dari Sumeria Mesopotamia sekitar 4000-3000 SM yakni huruf paku. Di sisi lain, ada anggapan lain bahwa tulisan juga berkembang secara mandiri di Mesir, yaitu hieroglif.

Namun, sementara ini kesimpulan yang paling mungkin di antara ilmuwan adalah bangsa Mesir 'terilhami' oleh bangsa Sumeria dalam hal menciptakan tulisan. Terlepas dari itu, bangsa Sumeria dan bangsa Mesir masuk dalam daftar utama bangsa yang pertama kali mengenal tulisan. Kemudian, tulisan yang berkembang di Sumeria dan Mesir menyebar ke daerah sekitarnya.

Bila dilihat secara geografis, Yunani Kuno tak jauh-jauh amat dari kedua tempat munculnya tulisan perdana itu. Sehingga memungkinkan pendistribusian tulisan secara signifikan.

wol.jw.org

Sebagaimana layaknya di seluruh dunia kuno, tulisan atau informasi bisa saling tukar akibat adanya aktivitas perdagangan dan perniagaan. Dari bukti peninggalan tulisan yang ditemukan di Uruk, Sumeria, isi tulisan kebanyakan berisi soal barang-barang yang dibayarkan, pekerja yang diberi jatah makan dan produk tani yang diedarkan.

Di Yunani Kuno, aktivitas perdagangan dipelopori dari pulau Kreta. Berdasarkan bukti arkeologis, orang-orang di pulau Kreta terlibat aktivitas perdagangan dan perniagaan yang intens dengan bangsa Mesir. Karena aktivitas intens ini, muncullah budaya yang maju di pulau Kreta bernama budaya Minoa. Kita bisa menduga, pergaulan dengan bangsa Mesirlah yang mendorong kebudayaan di Kreta bisa sedemikian maju.

Banyak pengaruh unsur kesenian bangsa Mesir yang ditemukan di pulau Kreta. Puncak perdagangan dan perniagaan di antara keduanya terjadi sekitar 1500 SM. Orang-orang di pulau Kreta pada akhirnya dapat mengenal tulisan dan mengembangkan sistemnya sendiri (Linear A dan Linear B).

Walaupun begitu, menurut Russell, secara garis besar dalam hal tulis menulis, bangsa Yunani Kuno banyak kena pengaruh dari bangsa Fenisia. Di masa kini, lokasi geografis bangsa Fenisia di sekitaran Lebanon dan Suriah.

Bangsa Fenisia sendiri mengenal tulisan karena pengaruh bangsa Mesir dan terutama, Babilonia (Mesopotamia). Jika dilihat lagi, bangsa Mesir dan Babilonia masuk dalam daftar bangsa yang pertama kali memproduksi pertanian. Bangsa Yunani secara menyeluruh baru mengenal seni tulis menulis sekitar 1000 SM. Dan pada perkembangannya, muncullah alfabet Yunani.

Akibat bangsa Yunani mengenal tulisan dan menciptakan alfabet, akhirnya terciptalah karya mahsyur Iliad dan Odyssey sekitar 850 sampai 550 SM. Bagaimanapun, karya Iliad dan odyssey oleh Homerus, masuk bagian terpenting dalam perkembangan pendidikan di Yunani Kuno.

Russell pun mengakui jika interaksi dengan seni tulis menulis berperan besar pada bangkitnya peradaban Yunani. (Hal.11). Dengan demikian, penemuan tulisan hingga distribusinya ke Yunani, berandil besar pada kemunculan filsafat Yunani.

Kita telah menyaksikan jika tulisan perdana muncul di tempat yang juga pertama kali mengembangkan produksi pertanian. Jika peradaban Yunani Kuno yang 'hanya' mengadopsi tulisan saja bisa mengembangkan filsafat, bagaimana dengan tempat yang pertama kali menciptakan tulisan?

Sementara, menurut Jared, menciptakan tulisan pertama kali jauh lebih susah ketimbang sekadar mengadopsi. Barangkali, dari sudut pandang ini, aktivitas berfilsafat bisa saja ada sebelum muncul peradaban Yunani Kuno.

Thales sendiri konon pernah melakukan perjalanan ke Mesir dan Babilonia. Ia mengadopsi ilmu perbintangan, khususnya dari bangsa Babilonia dan mengenalkannya ke Yunani. Thales berasal dari Miletus.

Pada masa Thales, Miletus sudah maju layaknya pulau Kreta: ditandai dengan pertumbuhan ekonomi dan politik yang pesat. Secara geografis, Miletus sangat dekat dengan Mesir dan Babilonia.

Pendek kata, besar kemungkinan filsafat Yunani tak akan pernah ada jika tak ada bangsa dan peradaban lain di sekitarnya.

Referensi:

  • Diamond, Jared. Guns, Germs and Steel: Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2013.
  • Harari, Y. Noah. Sapiens: Sejarah Singkat Umat Manusia. Jakarta: PT Pustaka Alvabet. 2017.
  • Russell, Bertrand. A History of Western Philosophy. London: George Allen and UNWIN LTD. 1946.