Untuk waktu yang lama, ada satu misteri yang mengganggu, sangat sulit untuk memahaminya. Setiap orang berpikir tentang apa itu kebahagiaan. Mungkin setiap orang berusaha menjawab pertanyaan itu.  

Apa yang membuat kita merasa tenang? Kita mengumpulkan berbagai macam jawaban, sepanjang hidup, tahun demi tahun, rasanya tidak pernah tenang seakan ada kecemasan yang makin meningkat di dalam diri.

Kenapa seiring berjalan waktu, makin banyak dari kita yang kesulitan melewati hidup? Kita bisa banyak mengumpulkan informasi untuk mencari tahu apa yang membuat kita selalu merasa cemas, lalu bagaimana keluar supaya merasa sehat dan bahagia menjalani hidup.

Banyak tumpukan nasihat-nasihat primodial yang kita temukan. Misalnya, bekerjalah lebih keras lagi, fokuslah pada pekerjaanmu, dan capailah target dari setiap keinginanmu. Apakah ini cara menghindari kecemasan, lalu bisa merasa bahagia?

Kita diberi kesan seakan inilah yang harus kita kejar untuk menjalani hidup yang lebih baik. Sebaliknya, kita malah merasa jenuh, merasa ada yang salah dengan diri, merasa ada yang kurang, stres, panik, dan takut.

Ada banyak survei terkini yang menanyakan pada generasi milenial soal itu, apa tujuan terpenting dalam hidup. Lebih dari 80% menjawab, tujuan terpenting dalam hidup adalah menjadi kaya. 50% lainnya menjawab bahwa tujuan penting hidup adalah menjadi terkenal.

Para filosof sudah mengatakan ini selama ribuan tahun. “Jika kamu pikir hidup adalah tentang uang, status, dan pamer, kamu akan merasa seperti sampah.” Ini bukan kutipan persis Schopenhauer, tapi kira-kira itu intinya.

Anehnya, jarang yang ada menelitinya secara ilmiah. Salah satu Profesor Tim Kasser yang serius meneliti ini selama tiga puluh tahun. Penelitiannya menunjukkan beberapa hal penting.

Ada sembilan penyebab depresi dan kecemasan. Dua di antaranya ada di dalam tubuh kita. Ada faktor genetik, ada perubahan nyata di dalam otak ketika kita merasa cemas. Tapi sebagian besar faktor yang terbukti penyebab depresi dan kecemasan tidak ada dalam tubuh kita. melainkan faktor cara kita hidup.

Misalnya, jika kita kesepian, kita cenderung depresi. Ketika kita bekerja dan tak punya kendali atas pekerjaan kita, dan terus diperintah, kita juga cenderung depresi dan jika kita jarang keluar ke alam terbuka.

Menariknya, Tim Kasser menemukan kecenderungan kita menghindari kecemasan dengan cara memamerkan jalan keluar. Makin kita percaya kita bisa kembali dan memamerkan jalan keluar dari kesepian ke kehidupan lebih baik, kita malah cenderung merasa depresi dan cemas.

Di sisi yang lain, kita makin digerakkan oleh kepercayaan kelompok tentang keinginan kita. Kita ada di tengah tekanan iklan kebutuhan tentang keinginan, gaya hidup, keputusan yang ideal, bahkan orientasi masa depan kita, selalu intens dari luar diri kita. Katakan Instagram dan sebagainya. Makin kita memikirkanya, makin dicekoki.

Itu artinya, kita sudah terlatih mencari kebahagian di tempat yang salah. Itulah sebabnya kita selalu mengobati kesepian dengan solusi eksternal yang sok pamer.

Padahal kalau kita lihat lebih dalam, katakan saat menjelang ajal, tidak ada yang berpikir tentang sepatu merek apa yang kita beli, atau seberapa banyak like di Facebook dan retweet di Instagram.

Kita malah memikirkan momen cinta dan hubungan dalam hidup kita, masa-masa kecil, mengingat orang yang pernah baik dalam hidup kita. Ini persis seperti klise, yang pada tingkat tertentu kita semua tahu tentang hal ini.

Tapi kita melupakannya, kenapa kita tahu sesuatu yang begitu dalam tapi tidak menerapkanya, padahal pada intinya kebahagian itu adalah seberapa penting kita menjaga hubungan baik dengan orang lain, yang betul-betul intens dalam diri kita.

Studi Harvard  tentang perkembangan orang dewasa menunjukkan. Pertama hubungan sosial sangat baik untuk hidup kita, dan kesepian dapat membunuh. Orang yang lebih sering terhubung secara sosial, keluarga misalnya, teman, dan komunitas akan lebih bahagia, 

Secara fisik lebih sehat, dan hidup lebih lama dibandingkan dengan orang yang tidak terhubung dengan baik. Mereka yang cemas dan depresi cenderung memiliki hubungan yang tidak baik, merasa kesepian, dan ini sangat berbahaya. 

Orang yang terisolasi lebih lama, lebih dari yang mereka harapkan, merasa kurang bahagia, kesehatan memburuk di usia muda, fungsi otak menurun lebih cepat, dan hidup lebih singkat daripada orang yang tidak kesepian.

Kita tahu setiap orang bisa merasa cemas dan kesepian di tengah keramaian, bahkan bisa merasa kesepian di tengah-tengah keluarga, lalu merasa cemas dan depresi. Tapi bukan itu masalahnya, sudahkah kita berada di dalam hubungan yang baik.

Yang terus meningkat dan punya kualitas, misalnya kita butuh seseorang yang merasa punya tempat dalam hidupnya. Kita butuh kehidupan yang punya arti dan tujuan. Seberapa bahagia kita dengan hubungan yang kita miliki.

Hubungan terkadang berantakan dan rumit. Butuh kerja keras untuk merawat hubungan dengan keluarga dan teman, karena sifatnya pun seumur hidup tidak pernah berakhir.

Justru kardna itu, seperti kaum milenial dalam survei yang disebut di atas, orang sangat yakin bahwa ketenaran, kekayaan, dan pencapaian diri adalah hal penting yang orang butuhkan agar hidup bahagia,

Tapi penelitian dan studi menunjukan bahwa orang yang bahagia adalah yang menyandarkan diri pada hubungan yang baik dengan keluarga, teman, dan komunitas.

Bagaimana dengan kamu? Sudahkah kamu bahagia? Seberapa penting kamu menjaga hubungan baik dengan orang lain?