1 tahun lalu · 1091 view · 4 menit baca · Gaya Hidup 23171.jpg
Dokumen Pribadi

Apa Arti Menjadi Instruktur?

Serba-serbi MoT di HMI

            Konon, seorang revolusioner sejati sekalipun, akan mati jiwa revolusionernya sesaat setelah mendapat kekuasaan. Sebenarnya Aku malas ngomong pakai bahasa tinggi begini. Kayak apa gitu kesannya. Tetapi, ada kondisi-kondisi tertentu yang menuntut kita untuk bersikap bijak. Lebih tepatnya; sok bijak!

            Pasca mengikuti training Senior Course akhir tahun lalu di HMI Cabang Surakarta, secara otomatis Saya menjadi anggota BPL. Usai lulus training yang mencetak instruktur tersebut, Saya sebenarnya menjadi tidak yakin kalau diri Saya layak mendidik anak orang. Selain karena sifat Saya yang tidak ada bijak-bijaknya, Saya cenderung emosional, tidak sabaran dan mudah disulut. Tentu ini bukan contoh seorang guru yang baik.

            Dalam setiap pelatihan, ada pertemuan, lalu diikuti perpisahan. Puluhan orang dari seluruh Indonesia, jauh-jauh, dengan ongkos yang tidak sedikit, menaruh harapan besar pada kualitas pentrainingan yang diikuti. Lebih dari tujuh hari lamanya, momen demi momen ku arungi. Terkadang, serasa ada lembaran peristiwa yang berulang. Tapi tidak, sesungguhnya itu adalah kejenuhan yang berkomplot dengan sedikit kehampaan.

            Pada malam-malam, entah sudah memasuki dini hari atau belum. Biasanya lewat hari ketiga, Aku tiba-tiba merasa amat kesepian. Suasana hening, gelap nan sunyi, terkadang tidak mampu membiusku untuk segera mengakhiri terjaga. Entah objek imajiner macam apa yang mengganggu. Saat malam, seolah duniaku berubah menjadi idealis dan romantis. Pada dini hari, dunia seolah terasa hampa tiada berharga.

            Secara jasmaniah, Aku hampir tidak pernah sendiri. Selalu ada sahabat, rekan maupun teman yang berada dalam jangkauanku. Tetapi entah mengapa, saat dini hari tiba, ada bayangan kosong yang memenuhi pelupuk mataku. Seolah segalanya menjadi remang-remang, romantis, hampa dan kenyataan hidup terasa amat mengecewakan. Entah pilihan macam apa yang akhirnya melemparku ke dunia seperti ini.

            Rasa sunyi nan sepi, selalu menghampiri. Entah saat aksi, diskusi, kuliah, ngopi maupun di Masjid. Seolah ada sosok mata-mata yang sengaja membuntuti, tapi entah dengan misi apa dia mengganggu kesadaranku. Ya, dalam forum training sekalipun, kehampaan selalu datang merayap, menyergap dan menaklukan.

            Saya tidak percaya hukum. AD/ART, konstitusi, SK maupun aturan main, semua hanyalah alat politik. Saya menjadi Instruktur bukan atas dasar kode etik atau konstitusi. Bahkan, saya tidak tahu aturan main organisasi menyuruh kadernya untuk apa saja. Yang jelas, semua ini, semua jalan yang telah ku pilih, semua atas nama kesadaran, bukan aturan formal.

            Biar bagaiamana pun juga, Aku tidak pernah meminta apa-apa. Bahkan, merokok pun Aku tidak. Tapi, suatu hari nanti, akan ada titik dimana Aku melepas segala atribut yang hari ini aku bangga-banggakan. Akan ada suatu tangga, dimana dunia seperti ini menjadi hanya sekadar kenangan dan dengan tidak menyesal aku ucap ‘’Good Bye HMI..’’’.

            Dunia instruktur hari ini, kering metode pembelajaran. Kebanyakan, orang-orangnya bertahan karena memang sengaja menjadikannya batu loncatan. Entah rencana politik macam apa yang mengendap dimasing-masing kepala Instruktur yang ada. Yang jelas, cepat atau lambat, mereka akan meninggalkan BPL dan menyusun lembaran baru dalam pintu dunianya masing-masing.

            Ambisi mencetak sebanyak-banyak instruktur, bila tidak diikuti pembaruan metode dan peningkatan kualitas manusianya, hanya akan menimbulkan timbunan sampah pergaulan. Ada banyak orang dengan kualitas tidak memadai, tapi karena sudah terlanjur memiliki status ‘’MoT’’, akhirnya kita akan menjumpai hama yang berlindung dibalik jubah terhormat yang bernama ‘’Instruktur’’.

            Menjadi instruktur, bukan soal gengsi intelektual dan gaya-gayaan. Tapi lebih kepada apakah seseorang tersebut sudah paham betul belum soal semua ini untuk apa? Apakah dia sadar arti penting keberadaan Instruktur? Sehingga perlu diberi wadah sendiri yang namanya Badan Pengeloa Latihan (BPL). Master of Training bila masih tersinggung saat didebat peserta didik, berarti metode pendidikannya masih belum revolusioner.

            Seorang revolusioner, tidak pernah menjadi pengecut. Manusia progresif selalu menyukai tantangan, karena disitulah letak apakah perubahan bakal datang atau tidak. Instruktur yang berjiwa revolusioner, harus akrab dengan keterlampauan dirinya sendiri. Seorang yang hari ini mampu melampau capaian dirinya hari kemarin, akan menjadi manusia yang insan kamil.

            Instruktur adalah seorang yang bercita-cita mendidik kader untuk melampaui dirinya. Lalu dikemudian hari, kadernya yang berhasil melampaui, harus juga mendidik kader dibawahnya lagi untuk lebih melampauinya lagi. Lagi, dan lagi, dan terus seperti itu seterusnya sepanjang kehidupan ini masih ada. Artinya mereka yang siap menjadi instruktur, adalah sosok yang siap dikalahkan. Dia selalu siap mendorong orang (peserta) untuk mengalahkan dirinya.

            Melampaui berarti peningkatan eksistensi. Seorang pendidik terbaik, dilihat dari apakah muridnya mampu menandingi dirinya atau tidak. Bila mampu, maka pendidikan yang dia selenggarakan adalah berhasil. Pendidikan, pelatihan dan transformasi nilai, tujuannya untuk membebaskan akal manusia. Bagi mereka yang katanya mendidik, tapi kenyataannya malah membelenggu, maka sesungguhnya dia telah menghianati peran serta kedudukannya.

            Seorang instruktur di HMI sangat berbeda dengan dosen di Unversitas atau guru di sekolah. Sekolah atau kampus, sengaja didirikan bukan untuk merawat kreativitas murid, tapi untuk mendominasi dan membentuknya menjadi budak-budak dunia kerja. Di dunia ini, hampir tidak ada sekolah yang orientasinya adalah pemerdekaan nalar siswa. Siswa sengaja dijinakkan, dirancang untuk diam saja ketika diatur dan dikelabuhi.

            Sifat sekolah atau Universitas, semuanya seperti itu. Karena bila ada kampus mendidik mahasiswa untuk kritis, melawan ketika diperalat, protes ketika diperah dan berteriak lantang ketika dikomodifikasi, maka yang ada kampus menjadi sasaran pertama perlawanan. Sejauh yang kita sadari, justru lembaga pendidikan yang katanya wadah penyadaranlah yang sebenarnya menjadi sarang kemunafikan. Seorang Instruktur harus melawan semua itu.

            Tidak ada kampus atau sekolah yang mendidik siswanya menjadi kritis, karena lembaga pendidikan menang tidak berniat mencetak manusia merdeka. Mereka hanya peduli pada kesinambungan, dan berharap akan ada terus anak-anak manusia yang diperbudak secara intelektual. Karena memang dari sanalah sumber pendapatan mereka. Bila ada banyak siswa yang kritis, eksistensi lembaga menjadi terancam.

            Berangkat dari kesadaran bahwa sekolah adalah seringkali mencitrakan dirinya sebagai sarang pembodohan, maka disitulah instruktur HMI hadir mengisi kekosongan. Peserta atau kader, harus diposisikan sebagai manusia berpengetahuan. Dia mungkin pernah tidak dianggap di dunia asalnya. Dia berimu, tapi tidak sempat diberdayakan idenya, entah kampusnya miskin kreatvitas atau memang tidak berniat mencerdaskan mahasiswanya.

            Tugas instruktur sebenarnya tidak berat. Dia hanya berkewajban memastikan ke peserta training, bahwa kalau ada kader yang ditindas dan diperalat, dia harus mengajarinya cara melawan. Bila ada kader yang tidak tahu apa-apa, dia wajib bagaimana caranya kader tersebut sadar dirinya bodoh, lalu dari situ selalu merasa kurang dan bersemangat untuk terus membaca serta mencari lmu. Mengkader adalah tentang mengajari caranya melawan.