Konon, dunia hanyalah panggung sandiwara
Lalu, siapakah aku yang ada,
Sutradara ?
Pemain utama ?
Penulis cerita ?
Lakon cerita ? Atau,
Penonton dibalik layar kaca ?

Aah...
Tak peduli sebagai apa, yang penting melakukan yg terbaik dan memberi yg terbaik pada sesama...

Konon, dunia hanyalah fatamorgana
Lalu, bagaimana kehidupan ini ?
Penuh luka ?
Duka nestapa ?
Haru bahagia ?
Rangkaian dusta ? Atau,
Tingkah jenaka ?

Aah...
Tak peduli kata mereka, toh akulah yang memilih makna... .
Konon, dunia adalah perebutan harta dan tahta ?
Lalu, aku merebutkan apa ?
Intan permata ?
Cinta kaum wanita ?
Besarnya nama ? Atau,
Mahkota kuasa ?

Aah...
Sudahlah semua hanya pemuas nafsu belaka...

Dunia itu ketidakpastian, 

Dunia itu penuh tipu daya,

Dunia itu tak berujung, 

Dunia itu tentang kehidupan,

Dunia itu tempat adu kuasa, 

Dunia itu panggung sandiwara, 

Begitulah kabarnya.... 


Di dunia ini, akan ada yang saling berebut kuasa

Di dunia ini, akan ada yang saling bantu sesama

Adapula yang tak pernah puas menumpuk harta

Mengeruk, mengumpulkan semua sumber daya alam yang tersedia

Adapula yang berupaya menjaga kelestarian hidup penghuni semesta ... 


Di lain sisi, ada yang berlomba mendagangkan tragedi, kemiskinan, isak tangis haru mereka yang terdampak bencana, atau ratapan pilu saudara kita yang harus mengubur cita...

Sebagian lagi ada yang menebar kebencian, sedang lainnya berupaya melestarikan cinta dan kasih saya... 

Dunia terus melipat waktu dan dilipat masa... 

Selama itu, bisa jadi kita sibuk mencaci maki, ribut mengikuti opini para politisi, berbondong menghakimi realita, ada juga yang sibuk gali lubang tutup lubang fakta dengan memunculkan berita perihal fenomena di sini, dengan di sana,,,

Konon, setiap masa di dunia akan ada tokoh manusia yang dianggap berpengaruh. 

Dan setiap tokoh tersebut akan memiliki masanya.

Nietzsche dalam "Sabda Zarathustra", bercerita tentang Tokoh Zarathustra. 

Seorang filsuf yang keluar dari pertapaannya dalam goa, setelah sekian lama berdiam diri lalu berseru lantang di depan kerumunan orang, layaknya utusan Tuhan. Kira-kira ia berkata: 

"Dan apa yang kalian sebut sebagai dunia, seharusnya terlebih dahulu diciptakan oleh kalian ialah : nalar kalian, rupa kalian, kehendak kalian, untuk menjadi cinta kalian sendiri! 

Dan sebenarnya, untuk kesucian kalian, wahai kalian makhluk yang mengetahui !"

Terlintas dalam pikir, 

Entah bagaimana arti dunia bagi ratusan bahkan ribuan keturunan adam yang masih berada di goa 

Yang masih menikmati banyak buku dan mendengar ceramah dari ratusan pengajar 

Atau, entah bagaimana dengan mereka yang sudah keluar dari berbagai goa penempaan karakter dan mental setelah mempelajari ribuan teori dan mengamati fenomena 

Apa yang akan mereka katakan tentang dunia ?

Entah juga apa yang akan kita katakan. 

Atau entah apa yang kita maknai tentang dunia?  Dan apa yang akan kita lakukan setelah mengeja berbagai fenomena berdialektika ? 

Kiranya begitulah sedikit kisahnya... 

Hidup itu sederhana, susah senang, miskin atau kaya، duka nestapa, haru bahagia hanyalah kamus dalam pikiran manusia dan rekontruksi makna,
akulah yang memilih rasa dan memberikan makna,
Bung Rendra pernah berkata, bahwa Perjuangan adalah tindakan dari lidah kita.

Sering kali sebagian besar dari kita ras manusia, merasa lebih nyaman memperoleh informasi yang punya tendensi pada keyakinan yang sudah dimiliki sebelumnya.

Sering kali kita cenderung mempertanyakan atau bahkan langsung menolak atas informasi yang tidak sejalan dengan apa yang diyakini...

Dari itu, perlunya ada campur tangan pendidikan, literasi (belajar bagaimana memperoleh, mengolah, menggunakan dan mendistribusikan) untuk membangun kemampuan berpikir kritis, analitis, solutif dan inovatif, dan berlaku.
Sering kali kita cekatan dalam menjumlah, mengalikan, dan lamban dalam mengurangi dan membagi, Menuntut hak tapi mengabaikan hak yang lain, menuntut kewajiban yang lain, lalai akan kewajiban pribadi... 

Sering kali juga kita tak mampu mengkonversi apa yang dianggap kebenaran di belakang layar, menjadi kebaikan yang ditampilkan pada layar utama,,,

Lalu pandangku, bahwa Pengorbanan adalah memberikan makna pada sesama ciptaan-Nya..
Sebab kita adalah milik-Nya,
aku dicipta oleh-Nya,
Dan pasti kembali pada-Nya, maka
Wajiblah untuk memohon pada-Nya,
Tak pula sekedar berprasangka baik
Tentang segala kehendak-Nya,


Lebih dari itu,

Percaya dan yakin bahwa Ia memang Maha Baik dan Segalanya

Menjadi Way of Life terbaik merengkuh cita, cinta dan harapan... 

"Laku kawula pancen berliku, liku-liku lakune kawula, laku likune kadose tetep kawula"