Kita sering melakukan kegiatan antre. Entah itu untuk urusan administrasi, sekadar menunggu giliran kamar mandi, atau ingin membeli atau membayar sesuatu, semua itu butuh antre. Berbagai hal sering kali perlu ditunggu sehingga antre adalah kegiatan yang jamak.

Antrean adalah pertemuan manusia yang punya satu tujuan namun berbeda sifat. Ada yang sama-sama ingin membayar di kasir toko swalayan, namun yang satu buru-buru ingin keluar yang satu keluar agak lama tidak apa-apa. Adalah wajar jika dalam antre konflik kepentingan adalah keniscayaan.

Saat emosi yang privat hadir di ruang publik seperti antre, dinamika yang terjadi sering kali menarik dibicarakan. Apalagi konflik ruang publik dan ruang privat di masyarakat selalu menarik—entah untuk ditonton, dikritik, atau dimanfaatkan sedemikian rupa.

Setiap hal punya hal baik dan buruk, tidak terkecuali antre. Banyak sekali kita jumpai antre yang tidak punya bentuk, acak, dan tidak punya tatanan yang jelas, meski antre yang tertib juga jamak. Meskipun begitu, kedua antre tidak hitam putih sifatnya; keduanya adalah gelanggang yang kaya dan selalu menarik dibicarakan.

Antre yang tertib adalah dambaan dan idaman banyak orang utamanya yang menghargai disiplin dan keteraturan. Di dalam antre yang tertib, ada berbagai simbol modernitas yang sangat penting bagi kelangsungan masyarakat kiwari yang sarat akan keberagaman. 

Barisan yang satu-satu dalam antre merupakan penghargaan pada ruang privat di mana ruang setiap individu jelas terpisah. Ruang ini mampu hadir di ruang publik dan keduanya dapat berinteraksi dengan harmonis, terbukti dengan gerakan mereka yang teratur ketika urusan orang terdepan selesai. 

Antre yang tidak berbaris namun dalam tatanan yang lebih bebas atau dengan berkendara juga memberikan gambaran akan keteraturan dengan tetap menghargai ekspresi diri. Setiap orang bebas berada dimanapun dan melakukan apapun selama masih ada di tempat yang benar sesuai ketentuan  yang ada. 

Kesamaan kepentingan mengikat mereka dan ruang serta waktu yang mereka tempati bersama dijaga agar tetap kondusif sehingga urusan cepat selesai—apalagi yang diharapkan saat antre kecuali urusan yang cepat selesai?

Namun kesamaan kepentingan ini—urusan cepat selesai—sebenarnya dangkal dan tidak punya nilai lebih apapun. Dengan keadaan masyarakat yang makin individualis, bisa saja keinginan agar urusan cepat selesai malah membuat potensi untuk mengenal hal baru hilang karena fokus hanya tertuju pada kegiatan antre saja.

Antre yang tertib pada dasarnya menjadikan manusia sebagai objek yang serupa. Dengan dalih efisiensi birokrasi, karakter mereka digolongkan dalam kategori yang memudahkan kerja administrasi dan ketika ada hal yang tidak biasa maka masalah timbul, berupa lamanya pelayanan atau kerja petugas yang kurang maksimal—yang bisa membuat orang lain dalam antrean meradang.

Kalau boleh jujur, sebenarnya antre yang acak dan awut-awutan menghargai ekspresi diri lebih baik daripada antre yang lurus. Meski terlihat tidak rapi, sebenarnya aturan antre tidak rapi muncul dari kesadaran ruang dan waktu.

Bentuk dari antre yang lurus menjadikan posisi seseorang dapat secara jelas didefinisikan dalam kerangka ruang dan waktu. Namun dalam antre yang acak, atribut ruang dan waktu seseorang dibangun bukan berdasarkan letak tubuh seseorang melainkan berdasarkan kesadaran komunal dari peserta antre. 

Kesadaran ini terbangun cepat dan setiap orang sadar dan faham akan apa yang harus dilakukan. Perlu kepekaan emosional yang tinggi dari setiap peserta dan kerendahan hati untuk mempersilakan orang lain mengambil gilirannya, meski bisa saja giliran orang itu diserobot.

Ruang yang baur juga menjadikan interaksi lebih cair dan persinggungan fisik benar-benar menuntut kesabaran dan kerendahan hati yang sadar lingkungan. Akan sulit mewujudkan keduanya pada antre yang lurus karena individualisme sebagai hasil dari modernitas mewujudkan kepedulian yang tidak interventif.

Namun demikian, dengan bertumpu pada kesadaran kolektif dan emosi komunal maka antre yang tidak berbentuk sebenarnya tidak cocok untuk masyarakat yang beragam dan tidak saling mengenal secara mendalam. Dengan anggota antre yang heterogen maka nilai yang dianut juga beragam sehingga kesadaran kolektif serta emosi komunal sulit terbangun.

Bahkan jika anggota antre ternyata punya latar belakang yang sama, konflik kepentingan bisa saja terjadi jika misalnya ada orang yang merasa mampu mendapatkan bagian lebih dengan cara melanggar pedoman umum dan memberikan dalih yang dapat diterima oleh komunitas antre.

Sampai di sini, kita bisa melihat bahwa kedua jenis antre punya karakter yang tidak hitam putih. Keduanya punya karakter unik masing-masing yang bisa jadi menguntungkan pada suatu keadaan dan merugikan pada keadaan lain. 

Kedua antre juga bisa jadi saling bertukar tempat karena alasan atau hal lain. Antre yang terlihat acak pada dasarnya rapi dalam alam pikiran. Keteraturan ada secara organik dan tumbuh karena solidaritas yang tidak perlu bentuk formal. 

Namun antre yang teratur bisa kacau juga jika misalnya nafsu menguasai dan menindas bertemu dengan longgarnya aturan atau pengawasan. Hasrat manusia untuk bertahan hidup secara kompetitif tidak pernah mati dan ketika hasrat itu kelewat kuat, apa yang bisa kita lakukan?

Pada akhirnya, memahami keadaan dan menikmati kebaikan sambil mencegah keburukan adalah kemampuan yang penting dalam menyikapi peristiwa.