The further back you go, the more history taught in schools look like some kind of faerie story (Graham Bruce Hancock - British Writer and Journalist)

Di banyak tempat di negeri ini, jawaban atas segala misteri jamak terkubur di gunung, jeram, gua, sesekali bukit. Tuhan menulis rahasia diam-diam di mana-mana. Di punggung setinggi 885 meter di atas pemukaan laut ini, kemegahan antediluvian batuan andesit adalah arloji pelintas zaman.

Dari tanah Pasundan yang membentang bermil dari Selat Sunda di Barat hingga Timur. Tanah di mana hamparan gunung, lembah, dan air sambung-menyambung memeluk tubir luruh jauh menjadi riak di Utara. Pak Ajip Rosidi berujar: ke mana pun berjalan, terpandang daerah ramah di sana, ke mana pun ngembara, kujumpa manusia hati terbuka mesra menerima.

Hari itu matahari jelang sepenggalahan. Di antara gelombang pucuk teh berbalut sisa kabut yang terlambat pulang, mesin sepur busik terantuk di Stasiun Lampegan. Motor yang kami tumpangi sengaja berkelok ke sana.

Pada zamannya, jalur kereta Lampegan, di Desa Cibokor, Cianjur ini adalah lalu-lintas penting bagi pertukaran hasil perkebunan dari Bogor-Sukabumi-Bandung. Juga sebaliknya.

Juga ganjil rasanya jika stasiun kereta sisa kolonial ini tak dihuni cerita mistis penghidup obrolan warung kopi. Akang ojek berkisah tentang Sang Ronggeng: Nyi Sadea yang raib di tengah puncak ketenarannya. Secara tiba-tiba.

Alkisah di era 1800-an, entah kapan persisnya. Kala itu pejabat kolonial Belanda berpesta tengara diresmikannya terowongan rel kereta Lampegan. Panitia mengundang penari ronggeng paling tenar dan tentu berparas jelita Sunda: Nyi Sadea.

Sejak dimulai ketika matahari tenggelam kemeriahan peresmian terowongan skalanya terus menanjak. Bahkan hingga malam mengklimaks. Para pejabat Belanda dan menak-menak Priangan larut dalam buai alkohol kolonial dan liuk lampai tubuh berbalut kain ketat si primadona pesta.

Jelang akhir keriaan, seorang opsir Belanda berbirahi diam-diam memaksa Nyi Sadea melipir ke balik terowongan. Gulita nirsinar. Bukit Kancana di atasnya pun sama sekali tak tampak wujudnya. Entah apa yang diperbuat di tengah dingin luar biasa pekat. Cuma hingga pagi meringkik si opsir nakal dan Nyi Sadea tak jua kembali. Hingga kini, keduanya adalah misteri.

Misteri itu tak hanya di Stasiun Lampegan, sepelemparan batu dari sana teka-teki lain lebih besar dan membuat geger dunia. Berjarak 8 km dari Stasiun Lampegan situs Gunung Padang berada. Persisnya di perbukitan Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka.

Bila sejarah tentang hal-hal gadungan yang terlanjur dipercaya, mungkinlah Gunung Padang akan membongkarnya. Di pucuk bukit itu, seseorang asyik meniup karinding. Karinding adalah alat musik tiup yang terbuat dari sayat bambu. Suara karinding beresonansi mengusik tidurnya N.J Krom di alam sana.

Dialah peneliti Belanda yang kali pertama mengendus keberadaan situs misterius ini pada 1914. Karena terletak tak jauh dari Gunung Melati, saat itu Krom menyebutnya sebagai Situs Gunung Melati. Warga lokal mengenalnya sebagai petilasan Prabu Siliwangi.

Situs Gunung Padang serupa Machu Picchu di Peru. Secara arkeologis dan kultur keilmuan lainnya, peradaban pendukung Gunung Padang diduga lebih tua dari Mesopotamia atau Piramid Giza di Mesir. Usianya antara 2.500 hingga 4.000 tahun SM.

Luas area Situs Gunung Padang sekitar 30 hektare dan tinggi bukitnya 110 meter. Untuk hinggap di puncaknya, siapa pun harus menapaki 400 anak tangga berkemiringan 45 derajat. Dari sini kita sadar, keahlian nenek moyang menghasilkan karya dengan segala kerumitannya jauh mengesankan dari yang diduga.

Situs Gunung Padang terdiri dari lima teras yang dibatasi andesit lainnya. Di setiap meter, ada jeda lapisan tanah yang bila digali terdapat struktur batu lain di bawahnya. Keberadaan situs selain untuk ritual pastinya ada dukungan keahlian arsitektur sophisticated kala itu.

Punden berundak yang berada di atapnya memiliki lima teras. Menurut penuturan juru kuncen, ini menunjukkan lima tahapan spiritual. Gunung Padang adalah tempat meditasi, pertapaan, penyucian diri. Entah, barangkali pesugihan.

Kata padang pada Gunung Padang yang dalam bahasa Sunda berarti terang atau cahaya diasosiasikan dengan Jabal Nur yang di Arab Saudi sana. Untuk itulah sebelum menaiki Gunung Padang, pengunjung dianjurkan bersuci di sumber mata air Cikahuripan atau air kehidupan yang ada pada anak tangga pertama.

Meski pernah berpayung polemik keberadaan situs Gunung Padang yang ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara sedikit banyak turut mengerek kehidupan ekonomi masyarakatnya. Penggiat spiritual menjadikan Gunung Padang sebagai destinasi pilihan.

Batu besar bertingkat yang adalah bagian dari budaya megalitik kita tak hanya memaksa generasi memikirkan ulang akar peradaban masa silam, juga kesadaran akan perlunya memberi provokasi agar mengikuti asas keberlanjutan. Karena situs ini air kehidupan yang perlu mengalir hingga rantai generasi berikutnya.

Hanya beberapa meter saja dari Gunung Padang aktivitas penambangan emas masih dilancarkan. Mungkin diam-diam. Suatu ketika, aktivitas itu akan merangsek mengancam kelestarian makam raksasa bertingkat itu yang konon di dalamnya kuintalan emas peninggalan rezim Padjadjaran tertimbun berkilau sinau.

Ref: