Aktivis Sosial
1 tahun lalu · 1386 view · 5 menit baca · Politik 78681.jpg
cerianews.com

Tsamara dan Perjuangan Generasi Millennial

Menyaksikan tayangan diskusi  Indonesia Lawyer’s Club (ILC) semalam (11/7/2017) muncul sebuah pertanyaan besar yang secara langsung memberi inspirasi menulis artikel ini.

Diskusi yang mengambil tema “DPR Vs KPK: Semakin Meruncing” setidaknya mampu menyita perhatian seluruh pemirsa karena tingkat aktualitas tema  yang dibahas sedang “hot-hotnya”.

Belum lagi para narasumber yang diundang bukanlah orang sembarangan.

Mulai dari Pimpinan KPK (diwakili Laode), Jubir KPK, anggota DPR-RI (anggota Pansus Angket), Ahli Hukum Tata Negara, pengamat politik serta sejumlah pegiat hukum tanah air, nampak di layar kaca sebagai peserta diskusi.

Namun bukan ILC namanya jika tidak mengundang sejumlah“kontroversi” di setiap tayangannya.

Salah satu sisi menarik yang sempat “menyita” perhatian pemirsa yang menonton TVOne semalam adalah kehadiran seorang wanita muda di dalam forum ILC yang “konon” katanya dihadirkan secara langsung untuk menantang debat salah satu Pimpinan DPR-RI, Fahri Hamzah.

Nama bekennya Tsamara. Beberapa waktu ini namanya mencuat di media, khususnya di media sosial. Tsamara mencuat lantaran keberaniannya menantang debat politisi kawakan asal PKS, Fahri Hamzah.

Sedikit mengulas bagaimana cerita Tsamara vs Fahri menjadi bahan perbincangan warga Netizen.

Kisah persinggungannya dengan Fahri bermula ketika mantan Aktivis 98 ini mencuitkan soal isu KPK. Dalam cuitan yang diunggah melalui akun pribadinya,  Fahri kerap mengkritisi keberadaan KPK. Khususnya terkait kasus E-KTP yang dinilainya tidak akan “tuntas” diselesaikan KPK.  

Tsamara “panas” dan terpancing dengan cuitan yang sering dilontarkan Fahri soal KPK. Akhirnya wanita bernama lengkap Tsamara Amany Alatas ini naik pitam. Twit yang dicuitkan Fahri soal KPK dibalas olehnya dengan sindiran, bantahan serta “nyiyiran”.

Tak sampai di situ saja. Wanita muda kelahiran tahun 1996 ini pun mengajak Fahri berdebat terbuka dengannya. Gayung pun bersambut. 

Melihat “warga netizen” antusias menunggu debat antara Tsamara dan Fahri, dengan lincahnya Karni Ilyas, sang Pembawa Acara sekaligus “otaknya ILC” menangkap gejala ini. Diundanglah Fahri sekaligus Tsamara. Akhirnya, Fahri dan Tsamara bertemu di forum ILC, tadi malam.

Kemunculan “twitwar” memang seolah menjadi hal biasa di tengah gencarnya media sosial digunakan untuk memberikan komentar kepada penguasa. Di balik twitwar Tsamara dan Fahri terselip sebuah daya tarik tersendiri khususnya bagi generasi millennial.

Pasalnya, Tsamara adalah anak muda yang berada dalam “kepungan” para politisi mumpuni. Dengan lincah dan luwesnya, Tsamara berhasil keluar dari kepungan itu semalam. Tidak cukup di situ. Tsamara mampu memberi kebanggan khususnya bagi generasi millennial yang merasa diwakili oleh kehadirannya semalam di ILC. 

Lalu, apa menariknya kisah “twitwar” Tsamara dan Fahri bagi bangsa ini?

Secara tidak langsung Tsamara dan Fahri memberi pelajaran menarik sekaligus “lonceng” bagi kita semua bahwa regenerasi aktivis (politisi milienal) sedang terjadi. Tsamara, yang dikatakan Fahri sebagai generasi millennial, adalah  satu dari sekian fenomena anak muda (baca: aktivis) yang saat ini tidak lagi memandang politik secara “skeptis”.

Bagi Tsamara dan ribuan generasi milineal lainnya, saat ini tumbuh kepercayaan bahwa mengubah nasib bangsa salah satunya dengan berjuang di jalur “politik”. Generasi ini “melek” persoalan bangsa. Untuk itulah mereka tidak lagi “mengumpat” dalam akun-akun “fiktif” sosial media. Kini mereka keluar dan menantang debat bahkan sekelas “politisi kawakan” semacam Fahri Hamzah sebagaimana yang dilakukan Tsamara.


Siapa sih Tsamara?

Tsamara mengakui dirinya sebagai aktivis dan anggota parpol. Di PSI (Partai Solidaritas Indonesia) Tsamara didapuk menjadi Ketua (Jawapos, 11/7). Tsamara bukanlah orang pertama yang mencuri perhatian jagad perpolitikan nasional. Sebelumnya kita masih ingat fenomena politik generasi milineal dengan keberadaan“Teman Ahok” yang kebanyakan diisi oleh kalangan muda generasi millennial.

Kemunculan Teman Ahok menjadi antitesa saluran kepemimpinan partai yang dinilai oleh anak muda millennial sarat dengan kebobrokan, nepotisme, tidak profesional, korup dan pandangan “miring” lainnya yang ditujukan kepada partai politik yang mapan.

Sayangnya, geriliya Teman Ahok “dipaksa” berhenti di tengah jalan. Ahok yang dalam Pilkada Jakarta lalu maju bersama Djarot, akhirnya memilih maju lewat Parpol yang mengusungnya.

Cita-cita generasi millennial itupun kandas justru oleh orang yang mereka harapkan memberi perubahan.

Teman Ahok tinggal “cerita”. Namun dalam konteks perjuangannya, Teman Ahok memberi hikmah sekaligus rangsangan untuk generasi milineal agar berjuang memperbaiki bangsa melalui jalur politik. Termasuk apa yang dilakukan Tsamara saat ini.

Mahasiswi yang kuliah di Paramadina ini adalah produk sekaligus bukti bahwa perjuangan politik generasi milineal terus berlanjut. Keberadaan mereka tidak dapat dibantahkan oleh elit politik dan pemerintah yang berkuasa.

Berbeda dengan organisasi mahasiswa yang telah mapan seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) misalnya. Para aktivis organisasi ini justru melempem dalam ranah perjuangan sosial-politik beberapa tahun ke belakang.

Praktis berbagai wacana kritis yang seharusnya lahir dari rahim organisasi perkaderan mahasiswa Islam terbesar di Indonesia tersebut justru mandul dari bursa perpolitikan nasional. HMI malah sibuk dengan urusan rumah tangganya sendiri.

Akhirnya kiblat pergerakan aktivis, khususnya di tingakat kampus yang tadinya dimonopoli oleh organisasi Cipayung dan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), perlahan tergerus dengan gerakan generasi millennial yang mulai apatis terhadap organisasi mahasiswa.

Mengapa generasi millennial sangat cepat naik daun? Salah satu alasannya karena generasi ini mampu mengakrabi teknologi.

Selain teknologi, ciri-ciri dari perjuangan generasi millennial sangat simple. Berbeda dengan HMI—misalnya yang kental unsur birokratisnya. Dalam berjuang, generasi millenial mengandalkan “sosial media” untuk menyuarakan penolakan atau persetujuan terhadap sebuah kebijakan atau isu. Gerakan mereka pun lebih fleksibel dan tidak birokratis.

Secara geografis mereka tersebar. Namun ketika menanggapi sebuah isu yang aktual, generasi ini seperti ada yang “mengomandoi”. Generasi millennial tidak memiliki pemimpin formal seperti HMI. Namun, mereka memiliki komando “alami” yang sangat rapi meski tidak terstruktur di pusat dan daerah.

Berbagai contoh fleksibilitas inilah yang menjadikan perjuangan generasi millennial lebih unggul  dan diminati kalangan muda dibanding organisasi mapan seperti HMI.

Memang ada plus minusnya. HMI tentu memiliki kelebihan tersendiri. Begitu pula dengan generasi millennial yang masih tersebar secara acak, juga memiliki kekurangan dan kelebihan.

Salah satu kekurangan generasi millennial ialah keberlanjutan perjuangannya. Sebagaimana contoh Teman Ahok.

Pasca Pilkada, eksistensi Teman Ahok pun lenyap bagai ditelan bumi. Meskipun “individu”  termasuk Tsamara yang bergerak di dalamnya masih hidup hingga hari ini, namun dalam konteks organisasi Teman Ahok pensiun dini.

Belajar dari pengalaman Teman Ahok, dapatkah Tsamara konsisten menjalani perjuangan politiknya? Sebab, menjadi manusia politik bukanlah sesuatu yang bersifat instan. Berjuang di ranah politik membutuhkan waktu dan energi yang cukup banyak. Tidak bisa mengandalkan popularitas dan pencitraan semu.

Ditambah mental baja bagi politisi untuk siap “mati berkali-kali” sebagaimana yang diistilahkan alumni HMI yang juga mantan Ketua DPR-RI, Akbar Tanjung, haruslah dimiliki.

Untuk itu,  saran yang dapat disampaikan bagi Tsamara dan generasi millennial lainnya yang ingin mengabdikan dirinya berjuang di ranah politik, ialah perlu melakukan dialog serta belajar dari aktivis organisasi mahasiswa yang telah malang melintang dalam dunia pergerakan Indonesia seperti HMI, PMII, GMNI, GMKI, PMKRI, KAMMI, IMM serta organisasi intra kampus.

Dengan begitu akan muncul sebuah generasi yang utuh dan mampu bersinergi di masa depan untuk mengubah kondisi bangsa saat ini.

Perkawinan intelektual serta gerakan generasi millennial dan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ekstra mahasiswa akan melahirkan anak-anak baru Indonesia. Sehingga sampailah tujuan kita semua untuk menjadi bangsa yang sejahtera, maju, beradab serta berkeadilan sosial sebagaimana tercantum dalam Pancasila dan UUD 1945.

Setidaknya hikmah inilah yang kita pelajari dari “Twitwar” lintas generasi antara Tsamara dan Fahri Hamzah saat ini.