68377.jpeg
[Foto: Darron Birgenheier / Flickr]
Politik · 6 menit baca

Antara Trump dan Calon Pemimpin Kita

Suatu hari saya iseng membaca sebuah artikel online dari majalah Kristen di AS, Christianity Today. Artikel tersebut berbicara tentang Donald Trump yang tengah mencalonkan diri sebagai kandidat presiden AS dari Partai Republik.

Penulis artikel tersebut mengamati bagaimana Trump mendapat dukungan dari kalangan Kristen Injili (evangelical) kulit putih garis keras. Menurutnya, dukungan tersebut tidak menunjukkan ‘keberhasilan’ Trump dalam menarik simpati kaum konservatif Kristen. Justru sebaliknya, hal itu menunjukkan betapa kalangan tersebut telah digerogoti sekulerisasi dari dalam.

Mereka sesungguhnya tidak paham doktrin Kristen secara mendalam, termakan konsumerisme, sok paling bermoral dan menjunjung tinggi ‘nilai-nilai keluarga’ (asal tidak menyinggung kerusakan keluarga mereka sendiri). 

Mereka sekedar menginginkan “pemimpin yang kuat” untuk merebut kembali kemenangan dalam ‘perang budaya’ yang selama ini diraih kelompok liberal, pejuang hak LGBT, pro-choice (pendukung hak aborsi), kaum kulit berwarna, imigran dan umat lintas agama.

Ketika penulis mengatakan bahwa Trump sendiri adalah seseorang yang cacat moral, mau tidak mau saya teringat dalam pilpres terakhir di negeri ini, kalangan Islam garis keras juga mendukung seorang calon presiden yang seharusnya membuat Muslim ‘sejati’ – maksudnya yang menggembar-gemborkan Islam yang kaffah, syariah dan khilafah – merasa muak: Prabowo Subianto.

Mengapa demikian? Mari kita membuat beberapa perbandingan.

Donald Trump, seperti kita ketahui, mempunyai industri perjudian dan hiburan malam, termasuk yang menyajikan striptease. Bahkan di masa lalu ia menyokong industri aborsi, sesuatu yang sangat memuakkan bagi orang Kristen konservatif.

Ia juga tukang kawin cerai dan tidak jelas keanggotaan gerejanya. Ia jelas-jelas mengacak-acak pesan kasih, moral dan pelayanan Yesus Kristus dengan mendukung perang, penyiksaan dan diskriminasi rasial, bahkan menggeser fokus dari Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja kepada dirinya sendiri.

Prabowo? Satu-satunya di antara anak dan menantu Suharto yang menjadi tentara. ABRI di masa Orde Baru dianggap sebagai musuh Islam karena berperan aktif menciutkan partai-partai Islam menjadi tinggal satu.

Sampai sekarang umat Islam konservatif tidak memaafkan peristiwa Tanjung Priok. Prabowo bahkan berasal dari keluarga yang didominasi orang Kristen. Ia bercerai dengan istrinya (yang tidak berhijab). Puteranya bukan hanya tinggal di Perancis yang notabene ‘kafir’, tetapi juga dicurigai homoseksual.*

Lalu apa yang menyebabkan kaum konservatif agama di kedua negara ini mendukung calon yang ‘cacat moral’? Jawabannya hanya satu: lawan yang dihadapinya.

Partai Demokrat AS identik dengan kelompok-kelompok yang sudah saya sebutkan tadi: liberal, LGBT, pro-choice, multietnis dan lintas agama. Beberapa program Partai Demokrat seperti tunjangan kesehatan untuk semua orang dan pajak korporasi yang tinggi dianggap sebagai representasi sosialisme (komunis). Kebijakan luar negerinya juga dianggap lembek (menarik pasukan dari Irak, berdamai dengan Kuba, mengurangi sanksi Iran, dan lain-lain).

Jokowi? Ia menggandeng seorang Kristen Tionghoa saat menjadi gubernur DKI Jakarta. Banyak orang Kristen dan umat minoritas lain yang mendukungnya. Ia kader PDI-P yang merupakan musuh alami partai-partai Islam.

PDI-P dianggap sarangnya orang Kristen, liberal dan keturunan PKI (sebuah label yang disematkan Orde Baru yang musuh Islam itu). Selain itu Jokowi yang ‘orang biasa’ dianggap membahayakan citra Indonesia sebagai negara Muslim terbesar yang ‘ditakuti’.

Jika sang penulis artikel juga mengecam kaum konservatif Injili yang mendukung Trump karena juga mengalami sekulerisasi dan kemerosotan moral (ingat, Christianity Today adalah media Kristen mainstream), tak jauh beda dengan kaum Islam konservatif di negeri ini.

Petinggi partai mereka terjerat kasus korupsi. Ada juga yang terlibat skandal seks, kawin cerai atau poligami dengan gadis remaja. Mereka juga disokong oleh kelompok-kelompok ekstrem yang melakukan kekerasan atas nama agama.

Fenomena serupa kembali berlanjut menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta yang baru akan berlangsung tahun 2017. Hanya gara-gara inkamben adalah seorang Kristen Tionghoa, kaum konservatif berusaha keras untuk menjegal si ‘kafir aseng’ dengan menjaring tokoh Muslim manapun yang berhasrat menjadi pemimpin.

Celakanya, para pemimpin Muslim yang waras seperti Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini memilih untuk tetap berada di daerah masing-masing. Lalu siapa yang mereka ajukan? Sandiaga Uno, pebisnis yang sukses (seperti Trump!) dan relatif tanpa skandal pribadi (meskipun perusahaannya ditengarai ikut andil melakukan pembakaran hutan).

Adhyaksa Dault? Mantan menteri era SBY, juga relatif tanpa skandal, kecuali gaya bicaranya yang kacau. Tetapi mereka mau saja bergabung dengan Ahmad Dhani yang kawin cerai, maniak seks dan membiarkan anaknya melakukan pembunuhan massal. Atau dengan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., Ph.D. yang juga kawin cerai dan menunggak sewa rumah.

Ya, para pendukung mereka dengan senang hati menempatkan orang-orang amoral ini di barisan terdepan mereka demi satu tujuan: mengalahkan musuh. Ini bukan soal moral, tetapi supply and demand: orang-orang yang ingin berkuasa ini menjawab kebutuhan kaum konservatif untuk memenangkan ‘perang Badar’.

Mereka mendefinisikan ulang dosa menjadi segala sesuatu yang dilakukan musuh mereka. Dosa itu adalah berbeda etnis dan agama, berbicara blak-blakan (‘tidak santun’), menganut paham liberal atau sosialis, dan mengasihi LGBT. Sementara kawin cerai, skandal seks, korupsi, kekerasan dan diskriminasi; semuanya bisa diputihkan, disapu ke bawah keset, atau dilemparkan sebagai fitnah ke pihak lawan.

Saya tidak mengatakan bahwa lawan mereka (Jokowi, Ahok, Obama dan Clinton) tidak mempunyai kekurangan atau bahkan cacat moral. Tetapi yang menjijikkan adalah, mereka menggunakan isu-isu yang bukan hanya tidak beradab (misalnya kebencian etnis dan agama) tetapi juga bodoh dan banal. Apa urusannya LGBT dengan tata kelola pemerintahan dan ekonomi? Atau ‘kata-kata santun’ dengan penataan birokrasi dan pencegahan korupsi?

Kolom lain di majalah yang sama memberikan jawabannya: ternyata ocehan kasar para calon bermasalah dan pendukungnya ini malah sering dibalas dengan cara yang juga tidak cerdas. Banyak warga AS malah berkomentar, “Goblok!” atau “Dasar Hitler!” Beberapa pendeta dan juga Paus Fransiskus yang melawan argumen Trump dengan cerdas tapi tegas, ditenggelamkan hiruk-pikuk saling caci-maki antar pendukung.

Singkatnya, mereka dengan sengaja melakukan pembodohan publik. Pendukung lawan menjadi terpancing untuk membalas tak kalah kasarnya. Mereka menyebar hoax, pendukung lawan membalas dengan melebih-lebihkan berita sesungguhnya.

Ini berlanjut terus bahkan setelah pemerintahan berjalan. Akhirnya energi rakyat habis untuk mengurusi hal-hal bodoh ini sehingga mereka lupa membantu proses check and balance dengan sehat: memberi masukan program, mengawal proyek, mengawasi anggaran, bahkan sekedar menaati peraturan!

Apakah ini bukti kegagalan demokrasi? Tidak. Tetapi seperti sudah saya katakan dalam tulisan saya sebelumnya, demokrasi membutuhkan orang-orang baik. Salah satu cirinya, tentu saja, tidak haus kekuasaan.

Jika elite politik masih membiarkan, bahkan memelihara, pembodohan publik yang demikian di level akar rumput, itu membuktikan mereka haus kekuasaan karena masih butuh pendukung fanatik yang sama hausnya akan kekuasaan sampai rela menjual integritas demi memenangkan jagoannya.

Jadi apa yang harus dilakukan? Menurut saya tidak ada gunanya mengkotbahi kaum konservatif fanatik dengan menunjukkan kesalahan mereka. Yang pertama harus dilakukan oleh kelompok progresif adalah menghentikan fanatisme kelompok sendiri. Fanatisme membuat anda sama bodohnya dengan orang-orang reaksioner, hanya saja posisinya berbeda.

Kedua, tidak menyerang musuh. Ya, mau tidak mau kita harus belajar pada Mahatma Gandhi dan Martin Luther King, Jr. (yang ajarannya sudah banyak dilupakan orang India maupun pejuang hak-hak sipil modern).

Apa itu? Saya hanya bisa menyimpulkan dengan dua kata: kasih dan integritas. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan: anda akan menjawab argumen lawan dengan baik dan sopan dan tidak menggunakan cara-cara lawan demi membenarkan pihak anda.

Ketiga, belajar untuk menggunakan logika yang sehat secara konsisten. Mudahnya: jangan ikut-ikutan gila! Ingat, salah satu tujuan negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Rakyat yang cerdas akan melahirkan pemimpin yang cerdas pula. Pemimpin yang cerdas tidak akan terbantu oleh perilaku bodoh rakyatnya.

Jadi, jika anda mendukung orang baik, berbuatlah yang baik juga. Demokrasi memang memberi kesempatan bagi orang gila untuk unjuk gigi. Tetapi tanpa demokrasi, orang gila akan membuat orang baik gigit jari.

---

*Saya tidak mengatakan ‘cacat’ Prabowo sama atau lebih buruk dibandingkan Trump, tetapi banyak hal dalam dirinya yang seharusnya tidak bisa diterima kaum konservatif.