DI RUANG kosong itu kau gambarkan bentuk cinta yang lama kau idamkan. Tetapi itu tak cukup untuk kau cadangkan lagi di ruang -- itu. Katamu, (sesuatu) itu sekadar sisa tahi baheulamu di masa yang tak ingin lagi kau ungkit. Bahkan bila kelaminmu yang menanyakannya.

Kini, kau bergulir mencari silahannya. Menjamah tiap gang kumuh hingga parit tanpa satu pun yang terlewat. Kau mencari-cari tahi yang lebih baik dari tahi di masa silam itu.

Barang tentu orang melihatmu perkasa dan pekerja keras. Rela mengotori diri demi hidup. Begitu kelihatannya. Oh, betapa bebalnya mereka. Yang kau cari tak lebih dari  tahimu sendiri!

/2/

KINI kau temukan tahi-tahi baru. Kau ajak ia berkencan di gelitanya malam. Tak ada tempat sampah yang tak kau kunjungi; Tak ada toilet yang tak kau masuki -- Menceburkan diri dan karam di atas kubangan air toilet. Ini kah surga? Tanyamu.

Tidak. Sampai kau temukan sabun. Sabun mudah bergumul di tubuh siapa saja. Ia mudah untuk digoda. Ia dengan senang hati berbagi harum.

"Oh, apa kau bisa lebih baik dari tahi? Tentu tidak. Tapi aku suka kamu."

Sabun tahu kau sedang berhelat. Ia menjawab, "Oh, tidak terimakasih, Tuan. Mengapa kau tak bersihkan tubuhmu dulu, lalu merayuku? Aku tak ingin kau menyentuhku sementara kau masih berselimut tahi."

Tentu ia tak terima begitu saja. Bagaimana bisa sabun memberi syarat sementara tahi menerimanya tanpa syarat?

Pengemis

DENGKIK matamu memejam. Melempai lemah tubuhmu; berpangku pualam.
Koyak kumuh busanamu
Dekil wajahmu
Melukiskan getir coretan hidup

Sayu matamu merabah hidup
Abun-abun berkelana
Menjamah harapan lama
Hempas lara sia-sia terbuang.

Sajak Basah

DEKAP malam gelap
Bilik berbaur dingin pengap
Mengharap pagi tiba
Bergolek kiri-kanan

Wajah menawan
Benar legit katanya
Memalun berahi

Kini, ia keluh dan dengki
Memintaku berucap sajak
Lagi

Sekali lalu menunggu berkubang busa
Tubuh mendirus basah duka lara
Untukmu tembang kutuliskan
Agar kelak diucap indah
Memanja telinga; Menggoda hati.

Thales: Karena Aku

AKU adalah air. Tak ada
tempat yang tak kujamah
Aku bercinta dengan siapa saja
Binatang dan lainnya
Tumbuhan dan lainnya;
Seperti yang aku katakan.

Karena aku air.

Aku adalah asas itu. Tak ada
sesuatu, kecuali atas qanunku.
Aku percaya sesuatu patuh padaku.
Binatang dan lainnya
Tumbuhan dan lainnya;
Seperti yang aku katakan.

Karena aku, aku.

Penyamun Cinta

CINTA; Enteng benar kata itu -- kau sabdakan
Akan para wanita incaran
Tuk obral perasaan.
Dengan kesehajaan
Kau lantunkan syair-syair bak Gita yang adun
Berharap, mereka terkagum-kagum. Memuja bahanamu merdu melantun.

Batu Basah

KIDUNG itu merambat penuh khidmat memenuhi surau. Namun kau kunjung tak bergeming atau -- beranjak dari kesangsianmu itu. Batinmu berseru lantang memanggil sepi yang lama menjadi mitramu bak induk ayam memanggil anaknya.

Kau punya pilihan. Satu atau dua; Salah satu atau tidak sama sekali. Kau sekadar datang melawat ke dasar hatimu yang kini menjelma bangkai -- bunta membusuk dan bernana. Atau acuh saja seoalah itu tak pernah ada disana kendatipun harus menahan sesak menyiksa ...  Oh, malangnya diriku. Pekikmu. Wajahmu semrawut. Betapa duka tergambar jelas disana.

Tentu saja ada pilihan ketiga. Tapi barangkali nuranimu -- satu juta persen akan menolak keras. Pilihan yang masuk akal, namun dinilai pengecut. 

Mati!

Aku teringat kau jua pernah mengucapkan kata yang penuh putus asa itu, seolah kau tengah di ambang batas dirimu. "Aku tak berharap kau setuju. Namun, untuk bedebah sepertiku, nampaknya -- Ia (kematian) sedang menyambutku tanpa menuangkanku anggur beracun. Tak seperti hidup. Kau mengerti, kan?" celotehmu saat itu di tempat biasa kita berlomba pandang menatap langit. Aku hanya bisa melukis senyum tanpa memberi sepatah kata.

"Ini memang agak terdengar konyol. Tapi aku harap kau mafhum."

Sampai kata terakhirmu, aku tak berani meladeni perkataanmu. 

Hidup yang dilema dan penuh onak ini memaksamu menjadi pengecut. Siapa sangka akhirnya kau (lebih) memihak kematian.

Kini, hanya tangis sanak yang mengantarkanmu ke rumah terakhirmu menuju keabadian. Membuat arus cinta yang baru penuh haru biru. 

Sudah nampak olehku tanda kepuasan di wajah lesimu itu. "Kepuasan" yang lama kau cari-cari.

/2/

MANUSIA yang dikenal teguh itu, patah juga. Bisik takdir. -- Itu juga garis yang kau buat. Sungguh ia tak patah. Tangkasku.

/3/

TAK banyak hal berarti yang kau tinggalkan. Namun jejak luka disetiap tarikan nafasmu masih membekas jelas di jalan setapak -- waktu.

Pilihanmu -- menuai kutukan demi kutukan. Kendatipun tubuhmu terbujur kaku di pembaringan duka. Namun langit tak abai berkehendak. Kini, kidung malaikat menyambut sosok merdeka itu (penuh) suka cita.