Anak muda sekarang tidak lepas dari yang namanya gadget, apalagi handphone. Mau melakukan apapun pasti mengandalkan handphone. Dari yang pesan makan, belanja, transfer sampai baca buku bisa!

Nah, karena itu banyak orang tua mengira anak mereka selalu bermain game. Padahal bisa saja kita sedang baca buku, komik, atau novel.

Membaca tidak lepas dari bagian kehidupan sehari-hari. Membaca dalam pengertian yang singkat adalah kegiatan melihat tulisan untuk memahami tulisan tersebut. Sebagai manusia yang tentu saja perlu sebuah pengalihan dari rutinitas yang terkadang terasa membosankan, biasanya solusinya membaca novel.

Bagi sebagian orang membaca novel dapat menambah mood, mengurangi stress, dan ajang berkhayal untuk menjadi tokoh utama dalam novel yang dibaca.

Novel sendiri adalah sebuah karya fiksi atau imajinasi oleh pengarang tentang rangkaian suatu kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak serta sifat para tokoh. Novel memiliki beberapa genre, diantaranya, romantis, komedi, horror, fiksi, nonfiksi, fantasi, science fiction, misteri, thriller. Dari berbagai genre tersebut, novel dengan tema romantis dan fiksi adalah paling banyak peminatnya.

Nah, masyarakat di Indonesia sendiri familiar dengan dua bentuk novel, yaitu novel fisik dan novel digital. Kedua bentuk novel ini hadir mewarnai dunia sastra di Indonesia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Novel fisik adalah cerita yang diterbitkan menjadi sebuah buku. Novel fisik dicetak dengan tujuan untuk diperjualbelikan di toko buku baik offline maupun online.

Novel digital yaitu publikasi buku yang tersedia dengan wujud digital. Serta bisa dibuka dan dibaca melalui layar smartphone, komputer, atau beberapa perangkat elektronik lainnya. Antara novel fisik dan digital sebenarnya memiliki keseimbangan peminatnya.

Novel fisik populer dari zaman dahulu hingga sekarang. Novel fisik zaman dahulu biasanya disebut novel klasik. Ada banyak pengarang yang sudah populer di zaman dahulu. Karya mereka digemari oleh masyarakat Indonesia karena cerita yang mereka sajikan memiliki makna yang dalam dan memiliki nilai khas tersendiri dengan nilai sastra yang tinggi.

Dalam membaca pun tidak hanya sekali untuk memahami maknanya, diperlukan beberapa kali agar kita paham pengarang menuliskan cerita tersebut. Dalam hal penggunaan bahasa turut juga mempengaruhi pembaca. Karena biasanya, novel klasik menggunakan bahasa yang bisa dibilang baku dan sedikit kaku untuk generasi muda sekarang.

Sebut saja, Pramoedya Ananta Toer, Moctar Lubis, Nh. Dini, Suwarsih Djojopuspito, Buya Hamka, dan sebagainya.

Namun, hal tersebut tidak begitu berpengaruh untuk kaula muda yang menyukai novel klasik. Karena bagi pencinta novel klasik dengan mengoleksi novel klasik mereka merasa mendapatkan pelajaran hidup yang berharga lewat karya yang sudah lama.

Para pengarang novel di zaman modern ini tidak kalah terkenal walaupun tulisan mereka dikemas dengan gaya ringan dan mengikuti zaman. Karya yang mereka ciptakan tak kalah laris diperjual-belikan. Misalnya saja, karya dari Tere Liye, Dewi Lestari, Raditya Dika, Andrea Hirata.

Novel dengan nuasa modern memang banyak diburu kalangan muda. Namun tidak menutup kemungkinan, kalangan dewasa juga memilih untuk membeli novel ini.

Namun terkadang novel fisik digemari hanya untuk dikoleksi sebagai sebuah pembuktian bahwa pernah membaca dan memilikinya. Padahal dalam mengoleksi novel fisik ada suka dukanya.

Selain diperlukan biaya yang bisa dibilang lumayan mahal untuk membeli sebuah novel, perlu perawatan yang ekstra. Apalagi novel klasik karangan penulis terkenal. Selain itu, novel fisik juga lebih bisa memuaskan diri dalam hal memilikinya, karena berwujud. Namun, dalam penyimpanannya juga memerlukan lebih banyak tempat untuk koleksi novel.

Semakin berkembangnya teknologi maka novel digital pun melejit pamornya pada masa kini. Novel digital hadir sebagai media yang menawarkan dunia membaca yang baru, yang lebih ringan, praktis, dan mudah diakses.

Para pembaca dapat dengan mudah mengakses novel online dari beberapa platform media sosial seperti Twitter (Alternative Universe), Wattpad, hingga cerbung di Instagram. Cerita-cerita dari platform tersebut dapat dinikmati dengan mudah dan gratis oleh para pembaca.

Pengarang novel digital didominasi oleh usia muda. Beberapa penulis novel digital dari aplikasi Wattpad yang sudah banyak penggemarnya, antara lain Erisca Febriani, Arumi Ekowati, Valerie Patkar, Despersa, Shaanis, Almira Bastari, Aranindy, dan sebagainya. Beberapa karya mereka juga diterbitkan secara fisik dan diangkat menjadi film untuk dinikmati secara visual oleh para penggemar.

Untuk mendukung mudahnya para kreator novel dalam mendapatkan penghasilan dari penulisan sebuah novel, sekarang terdapat metode berbasis e-money dan untuk pembayarannya menggunakan perantara yang beragam. Bisa lewat website, aplikasi, atau pun pemesanan secara pribadi.

Keuntungan dan kemudahan dari novel digital menunjang kaula muda untuk memilih jenis novel ini.

Di lain sisi ada kemudahan pastinya memiliki kekurangan.

Mulai dari mudah dibajak, mempengaruhi kesehatan mata pembaca karena terlalu lama menatap layar gagdet, membutuhkan perangkat dan space untuk membacanya di handphone, dan tidak ada kepuasan dalam hal memilikinya.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan kedua jenis novel, gerakan membaca di Indonesia harus ditingkatkan. Karena dengan membaca, entah apa pun itu, akan membuka dunia yang baru. Jangan lupakan pepatah, "buku adalah jendela dunia".