2 tahun lalu · 707 view · 8 menit baca · Agama download_24.jpg

Antara Mufassir Produk Jepang dan Mufassir Produk Cina

Kasus yang menerpa Basuki Tjahaja Purnama tak bisa dilepaskan dari perdebatan tafsir salah satu ayat al-Quran yang sampai saat ini masih ramai didiskusikan di sejumlah media masa.

Petikan ayat al-Quran yang menjadi locus classicus perdebatan mereka—seperti kita ketahui bersama—adalah al-Maidah ayat 51 yang berisikan larangan kepada orang-orang beriman untuk menjadikan non-Muslim, baik Yahudi maupun Nasrani, sebagai awliya.

Kata awliya inilah yang kemudian diperdebatkan secara sengit oleh para Mufassir dadakan yang belakangan ini mulai berhamburan di sosial media. Sungguh tak disangka, kasus yang menimpah Ahok ini ternyata banyak hikmahnya juga.

Ada yang mengundang rasa bahagia, tapi ada juga yang mengucurkan air mata. Yang mengucurkan air mata ini, salah satunya, ialah bahwa ternyata kasus Ahok ini perlahan mampu mendorong lahirnya para Mufassir abal-abal alias Mufassir Cina di Indonesia.

Hanya bermodal emosi keagamaan dan rujukan kitab-kitab tafsir keluaran ulama Arab, dengan mudahnya mereka berkesimpulan bahwa siapapun Muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tak boleh memilih seorang Basuki Tjahaja Purnama dan makhluk sejenisnya sebagai pemimpin di Ibu Kota Jakarta.

Sebab, Basuki adalah orang kafir, dan orang kafir jaminannya adalah nereka. Dengan demikian, jika anda tak ingin masuk neraka, maka janganlah sekali-kali anda mencoblos Basuki Tjahaja Purnama, sebagaimana kalau anda ingin selamat dunia akhirat, maka pilihlah pemimpin Muslim, sekalipun ia durjana dan tak bisa dipercaya. 

Andai kata mereka tak main paksa dan menganggap bahwa tafsiran mereka merupakan salah satu tafsiran saja, bukan satu-satunya, saya kira, sikap dewasa semacam ini tak akan menimbulkan kerusuhan seperti yang saat ini kita saksikan bersama.

Saya mengatakan demikian bukan saja karena watak al-Quran sendiri senantiasa menimbulkan keragaman makna, tetapi juga karena mereka adalah makhluk merdeka yang boleh meyakini apa saja selama keyakinan tersebut bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Yang MahaKuasa.  

Jadi sebetulnya tak ada persoalan apakah mereka mengimani pendapat yang B, maupun mengamini pendapat yang A. Itu adalah hak mereka. Dan kita tak punya otoritas untuk memaksa.

Persoalan mulai meruncing manakala mereka memandang bahwa tafsiran mereka adalah tafsiran yang paling benar sementara yang lain sama sekali tak bisa diterima. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, tafsiran mereka dijadikan sebagai landasan fatwa.

Dan sebuah produk fatwa—apalagi yang mengatasnamakan Majlis Ulama Indonesia—biasanya mudah membuat orang awam tunduk kepala. Yang seperti ini jelas berbahaya dan tak boleh kita biarkan begitu saja. Dalam bahasa Gus Dur, ini namanya sudah main mutlak-mutlakan. Dan ini tentu tak sehat bagi kebhinekaan kita.   

Jika kita kembali telisik debat kusir yang selama ini berlangsung di sosial media, akar perdebatan al-Maidah 51 ini sejujurnya bertitik-tumpu pada terjemahan kata awliya. Ayat tersebut berisikan larangan menjadikan non-Muslim sebagai awliya. Lantas apa makna awliya?

Nah, terkait penggalan kata tersebut, para Mufassir dadakan tak berijma dengan satu kata.

Satu pihak berpendirian bahwa arti paling tepat untuk kata tersebut adalah pemimpin sehingga pada akhirnya ayat tersebut dipahami sebagai larangan untuk memilih pemimpin non-Muslim seperti Basuki Tjahaja Purnama dan makhluk sejenisnya.

Sedangkan yang lain berpandangan bahwa kata tersebut tak selamanya diartikan sebagai pemimpin karena kata tersebut pada dasarnya memilik keragaman makna; bisa diartikan sebagai teman dekat, sekutu, penolong, aliansi dan lain sebagainya.

Baik anda setuju dengan pandangan yang pertama, maupun setuju dengan pendapat yang kedua, dalam hemat saya, perdebatan seputar petikan ayat suci tersebut merupakan momen tepat bagi kita untuk menilai mana Mufassir sungguhan dan mana Mufassir gadungan.

Mana Mufassir yang berkemajuan dan mana Mufassir produk abad kegelapan. Mana Mufassir produk Jepang dan mana Mufassir abal-abal produk Cina.

Mufassir produk Cina biasanya cenderung statis dan eksklusif, sementara Mufasir produk Jepang biasanya lebih dinamis dan progresif. Mufassir produk cina biasanya cenderung memproduksi tafsiran abal-abal, sedangkan Mufassir produk Jepang biasanya selalu mengedepankan pandangan-pandagan keagamaan yang rasional dan kontekstual.

Sebagaimana motor Jepang jauh lebih unggul ketimbang motor Cina, kredibilitas Mufassir Jepang juga tentu lebih utama ketimbang Mufassir Cina. Sebagaimana mesin Jepang lebih canggih ketimbang mesin Cina, nalar Mufassir Jepang juga tentu lebih tangguh ketimbang nalar Mufassir Cina. Saya kira kita sepakat atas hal ini semua.

Namun, celakanya, sampai saat ini masih saja ada orang yang hobi mengutip pandangan Mufassir Cina padahal Mufassir Jepang sudah ada di negeri kita. Sosoknya sering menghiasi layar kaca, dan kitab tafsir yang tulisnya pun hingga sekarang masih menjadi rujukan para sarjana.  

Melalui tulisan ini, kita akan menelisik secara singkat metodologi keduanya dalam menafsirkan kitab suci al-Quran yang mulia. Setelah itu silakan anda nilai mana tafsiran yang lebih waras dan mana tafsiran yang sulit diterima oleh akal sehat anda.  

Kita akan mulai dari cara pandang Mufassir Cina. Merujuk pada ayat al-Maidah 51, Mufassir produk Cina berpendirian bahwa semua orang Yahudi dan Nasrani—tanpa terkecuali—itu tak boleh dijadikan pemimpin. Baik itu jadi Bupati, Walikota, Gubernur apalagi jadi kepala negara.

Pokoknya kalau sudah Yahudi dan Nasrani, sebaik dan sebesar apapun dedikasinya kepada masyarakat, tak boleh dijadikan pemimpin. Titik. Mereka adalah orang-orang kafir, dan orang-orang kafir tak boleh memimpin masyarakat yang mengimani Tuhan yang MahaEsa.

Yang harus dijadikan pemimpin itu pokoknya harus Muslim, sekalipun korup dan tak bisa dipercaya. Sekalipun miskin intergritas dan dan tak mampu bekerja sebagaimana mestinya. Karena, seburuk-buruknya orang Islam yang ahli surga, dalam pandangan mereka, adalah sebaik-baiknya non-Muslim yang menjadi kandidat Ahli neraka.

Dengan demikian, memilih pemimpin Muslim lebih baik ketimbang non-Muslim, apapun alasannya. Baik yang kedua ini lebih baik dari yang pertama, apalagi kalau yang pertama lebih baik dari yang kedua. Beginilah kira-kira cara pandang Mufassir abal-abal produk Cina.

Sekali beda agama langsung main larang-larang saja. Satu ayat dalam al-Quran dibaca secara polos tanpa memerhatikan keterkaitan ayat tersebut dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Tapi Mufasir canggih produk jepang punya cara pandang yang berbeda. Mereka membaca al-Quran sebagai satu kesatuan rantai yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Hamparan ayat Tuhan yang terserak dalam al-Quran dibaca secara holistis sehingga ayat yang satu tak boleh dilepaskan dari ayat-ayat lainnya.

Ini berbeda dengan Mufassir Cina yang melakukan pembacaan parsialis alias sepotong demi sepotong saja. Akibatnya, tafsiran mereka kacau balau dan orang yang berbeda hanya dihukumi oleh satu-dua petikan ayat al-Quran saja.

Tak peduli ayat yang lain berkata apa dan bagaimana. Yang penting kalau sudah ditemukan satu ayat berkata A, maka dengan sendirinya ayat tersebut bisa melahirkan hukum A.

Cara pandang seperti ini sebetulnya tak jauh beda dengan cara pandang kaum ekstremis-jihadis yang suka memenggal satu-dua ayat al-Quran untuk melegitimasi perbuatan-perbuatan mereka yang biadab dan terkutuk dalam agama kita.

Mufassir Jepang yang handal dan lebih terpercaya berpandangan bahwa sebuah ayat dalam al-Quran tak boleh dibaca secara telanjang begitu saja. Tafsiran atas satu ayat harus memerhatikan konteks, sebab turun, serta keterkaitan ayat tersebut dengan ayat sebelum dan ayat sesudahnya.

Itu sebabnya, Mufassir produk Jepang senantiasa menilai kelompok lain secara objektif dan bijaksana, sekalipun mereka adalah kelompok yang berbeda agama. Ketika al-Maidah 51 menyinggung kelompok Yahudi dan Nasrani, misalnya, mereka tak melakukan generalisasi bahwa semua Yahudi dan Nasrani itu nista sehingga tak boleh sama sekali diangkat sebagai pemimpin di negeri demokrasi seperti kita.

Manakala al-Maidah ayat 51 menyebut kata Yahudi dan Nasrani, mereka akan meneliti lebih lanjut dan bertanya: Yahudi dan Nasrani macam apa? Karena al-Quran sendiri, dalam ayat lain, menyatakan bahwa Ahlu Kitab itu tak seluruhnya sama (laisu sawa) (QS. 3: 113). Dengan demikian, tak adil kalau kita memukul rata mereka dengan satu kata.  

Apalagi ayat lain juga dengan tegas menyatakan bahwa umat Islam tak dilarang untuk berbuat baik kepada mereka. (QS. 60: 8). Dan yang lebih penting lagi, al-Maidah ayat 51 itu—seperti yang disampaikan Prof. Dr. Quraish Shihab, salah seorang Mufassir Jepang yang diakui keilmuannya—memiliki keterkaitan yang erat dengan ayat-ayat sebelumnya.

Itu artinya, jika kita mengamini pendapat yang canggih ini, Yahudi dan Nasrani yang disinggung oleh al-Maidah 51 itu belum tentu bisa dialamatkan kepada orang seperti Basuki Tjahaja Purnama. Karena yang dimaksud dengan dua kelompok dalam ayat itu ialah Yahudi-Nasrani yang sifat-sifatnya telah diterangkan oleh ayat-ayat sebelumnya.

Nah, soal apakah orang seperti Basuki Tjahaja Purnama termasuk di dalamnya atau tidak, tentu untuk menjawab ini kita harus hati-hati dan jangan mudah menganggukkan kepala begitu saja.

Apalagi, setahu saya, Basuki itu tak menabuh genderang perang kepada umat Islam seperti yang dilakukan oleh orang-orang Israel kepada rakyat Palestina. Sungguh zalim kita, wahai umat Islam yang mulia, kalau kita menyamakan orang seperti Basuki dengan orang-orang Israel yang jelas-jelas sudah menjadi musuh yang nyata, bukan saja bagi umat Islam, tapi juga bagi seluruh umat manusia.

Inilah salah perbedaan mendasar antara Mufassir Jepang dengan Mufassir Cina. Bagi Mufassir jepang, memilih non-Muslim dalam konteks merayakan pesta demokrasi di negeri kita—sejauh mereka lebih baik, bisa dipercaya dan tak memerangi kita—ya tidak apa-apa.

Tapi bagi Mufassir Cina, pokoknya kalau sudah Yahudi dan Nasrani, sebesar dan sekecil apapun jasa dan dedikasi mereka, tidak boleh kita terima sebagai pemimpin di negeri kita. Baik itu menjadi pemimpin ibu kota, wali kota, bupati dan lain-lainnya.

Memang Mufassir Cina ini anehnya luar biasa. Sudah aneh banyak pula orang yang percaya. Kalau dibiarkan begitu saja, Mufassir produk Cina ini cukup berbahaya bagi kelangsungan negeri kita. Tak perlulah kita menghiraukan tafsiran mereka toh Mufassir Jepang sudah ada di negeri kita.

Biarlah tafsiran mereka berhamburan seluas-luasnya di dinding-dinding sosial media. Tapi kalau anda tak ingin menjadi Cina seperti mereka, ya ikuti saja pandangan Mufassir Jepang yang bisa lebih dipercaya dan diakui keilmuannya.

Harus diingat bahwa kita menganut pendapat Mufassir Jepang tapi dalam saat yang sama kita tak boleh memaksa para Mufassir Cina untuk berpandangan serupa. Yang setuju silakan saja, yang tidak setuju juga tidak apa-apa. Kita jangan mau seperti mereka. Sudah tafsiran produk Cina, dipaksakan pula kepada orang-orang yang berbeda.

Tapi mungkin ada di antara anda semua yang bertanya: kalau memang dalam bertafsir itu perbedaan adalah sebuah hal yang niscaya, mengapa kita harus percaya dengan Mufassir produk Jepang saja, bukankah kita juga bisa mengadopsi pandangan Mufassir Cina?

Jawabannya: Karena al-Quran sendiri berpesan kepada kita untuk senantiasa menanyakan persoalan kepada ahlinya. Kalau tidak, apa bedanya kita dengan orang gila? Memilih pendapat Mufassir Cina dengan tersedianya pandangan Mufassir Jepang tak jauh beda dengan orang yang memilih naik becak padahal di rumahnya tersedia mobil termewah se-Indonesia.

Sekarang kita hanya punya dua pilihan saja: Apakah kita ingin terdampar bersama kedangkalan cara berpikir Mufassir Cina yang sulit dipercaya? Atau mengikuti pendapat Mufassir Jepang yang lebih canggih dan lebih diakui keilmuannya?

Kalau saya sih menyarankan anda untuk memilih nomer dua! Eh, maksudnya pilihan yang kedua. Karena kalau tidak, itu namanya kita mengabaikan tuntunan Agama yang memerintahkan kita untuk memercayakan segala sesuatu kepada ahlinya. 

(Kairo, Saqar Quraish, 27 Oktober 2016)