Simone de Beauvoir adalah seorang feminis eksistensialis. Dia berbicara tentang alokasi perempuan pada wilayah domestik dan kepasifan. Dia memberontak atas penyingkiran perempuan dari agensi sosial dan emosional. Beauvoir mendesak perempuan untuk keluar dari batasan yang didefinisikan secara sosial dan menjadikannya “sang liyan.” Bagi Simone de Beauvoir, dalam menyebarkan gagasan penting untuk  mewujudkan otonomi kaum perempuan terhadap kontrol atas teknologi dan reproduksi.

Simone de Beauvoir mengatakan bahwa  bahasa dan kecerdasan adalah hal yang netral gender. Selain itu, baginya perempuan itu diciptakan bukan dilahirkan. Yang dimaksudkan di sini ialah keberadaan perempuan itu dipengaruhi oleh pendidikan dan lingkungannya. 

Dalam karya Beauvoir yang berjudul The Second Sex diungkapkan bahwa perempuan dijadikan objek dalam dunia laki-laki. Beauvoir melihat itu semua melalui tiga aspek, yaitu takdir, sejarah, dan mitos. Hal yang pertama mengenai takdir dan sejarah Beauvoir melihat adanya alasan biologis yang menjadi sebab terobjekkannya perempuan.

Selain dilihat melalui dua aspek tersebut, Beauvoir juga melihat dari aspek mitos yang dikenakan pada perempuan. Mitos yang ada dalam film "Perempuan Tanah Jahanam" sangatlah kuat dan lebih mendalam. Menurut Beauvoir, perempuan juga harus diberikan kebebasan yang sama dengan laki-laki untuk menentukan kehidupannya sendiri. Maksudnya adalah perempuan harus mengekplorasi diri, tidak lagi menerima batasan-batasan feminitas, tidak lagi tertindas, dan produktif serta aktif.

Simone de Beauvoir juga mengungkapkan bahwa perempuan yang sadar akan kebebasannya, adalah mereka yang dengan leluasa dapat menentukan jalan hidupnya. Maka, menurut Beauvoir dengan begitu perempuan bisa jadi intelektual, dan dapat mengaktualisasikan diri secara maksimal dan yang terpenting bagi Beauvoir adalah perempuan harus menolak untuk dijadikan obyek dan secara konkret membuktikan statusnya sebagai subyek.

Feminisme Simone de Beauvoir mengungkapkan salah satu aspek mengenai tiga aspek yang berkaitan dengan perempuan yaitu takdir, sejarah, dan mitos. Penulis akan menganalisis film Perempuan Tanah Jahanam ini melalui salah satu aspek yang diungkapkan oleh Simone de Beauvoir, yaitu mengenai aspek mitos. Dalam film yang diputar hampir diseluruh bioskop di Indonesia itu terkait erat dengan sisi feminisme dan perempuan, selain itu juga terdapat aspek mitos yang sangat kuat di dalam film tersebut, meskipun hal tersebut lebih mendalam mitosnya daripada sekedar mitos mengenai perempuan.

Mitos tersebut apabila dalam teori dan aspek yang disampaikan oleh Beauvoir hanya terkait dengan aspek mitos sebagai seorang perempuan saja. Tetapi dalam hal film tersebut mitos yang berkaitan di dalamnya tidak hanya terkait mitos sebagai perempuan, tetapi juga berkaitan dengan tradisi dan bisa disebut berkaitan dengan mitos kuno, yang mana harus dipercaya oleh masyrakat di tempat itu dan juga karena yang menyampaikan adalah seseorang yang memiliki jabatan paling tinggi di desa tersebut maka mitos dan pembicaraan macam itu boleh jadi dipercayai oleh masyarakatnya.

Pada dasarnya  manusia hanya terus menerus berpegang pada mitos dan anggapan bahwa apa yang dikatakan oleh tetua atau orang dengan jabatan tertinggi, dalam konteks film tersebut kepala desa adalah benar dan harus dipercaya serta dituruti maka setiap orang akan termakan oleh hal yang dibicarakan tersebut dan mereka belum mengetahui kebenaran dan kenyataannya akan seperti apa. Mitos yang dimaksud dalam film tersebut menurut penulis adalah bahwa “nyawa dibayar dengan nyawa.”

Anggapannya apabila dulu, saat menyelamatkan untuk dapat hidup dengan semestinya, maka harus mengorbankan tiga orang anak perempuan yang akhirnya meninggal, maka jalan satu-satunya harus juga membunuh anak yang pertama kali diselamatkan agar desa itu terbebas dari kutukan.

Namun, sebenarnya setiap mitos yang ada dan yang disampaikan oleh siapa pun itu adalah selalu benar. Tentunya perlu dilihat dan dipahami kembali apakah masih relevan atau tidak dengan situasinya saat itu, karena tidak semua mitos itu adalah nyata. Justru yang penulis dapatkan adalah mitos yang dipercaya dalam film tersebut justru membawa manusia yang mempercayai dan meyakini hal tersebut menuju ke jurang dosa dan kerugian pribadi masing-masing.  

Simone de Beauvoir merupakan salah satu filsuf feminis yang menganut aliran feminisme eksistensial. Mengemukakan bahwa ada tiga aspek yang dalam memandang perempuan, yaitu melalui aspek takdir, sejarah dan mitos. 

Film yang dipaparkan di atas adalah salah satu anggapan mitos yang lebih dalam dan terkait dengan tradisi dan kepercayaan masyarakat tersebut. Menurut penulis apabila ingin melakukan sesuatu hal apapun itu diperlukan pemikiran yang rasional apapun yang akan dilakukan dan diucapkan. 

Film Perempuan Tanah Jahanam ini mengajarkan bahwa mitos tidak hanya menjadi sekedar mitos apabila dipahami dengan lebih dalam dengan menggunakan pemikiran yang salah, maka akan menjatuhkan manusia yang mempercayainya dalm aspek yang lebih dalam. Bahkan akhirnya mitos bisa menjadi sebuah tradisi tertentu dalam masyarakat.

Pada dasarnya manusia perlu dibebaskan pemikirannya dari mitos-mitos yang sudah ada sejak zaman dulu dengan tujuan agar tidak ada lagi mitos yang membelenggu, seperti yang terjadi pada peristiwa yang diangkat dalam film tersebut. Manusia juga perlu berpikir secara rasional, dengan menyelesaikan setiap masalah yang ada dengan argumen yang logis dan dapat dipikirkan bukan hanya terikat pada keyakinan tertentu saja.