unnamed_2.jpg
Sumber gambar: tempo.co
Politik · 3 menit baca

Antara Meruwat Sengkuni dan Amien Rais

Meruwat Sengkuni, perlukah?

Sengkuni merupakan tokoh dalam Kitab Mahabharata yang dikenal licik dan selalu menghasut para Kurawa agar memusuhi Pandawa. Tokoh Sengkuni ini kembali menjadi perbincangan publik menjelang diselenggarakannya Pilkada DKI, dimana saat ini tahapannya sedang berjalan.

Sekedar membuka ingatan, publik pernah disuguhi drama Ruwat Sengkuni,  ketika Masyarakat Pelestari Tradisi (Pametri) Paguyuban Budaya Yogyakarta menggelar ruwatan untuk Amien Rais, Oktober 2014. Menurut  koordinator Paguyuban Pametri, Agus Sunandar, ruwatan ini bertujuan agar Amien Rais  cepat sadar dan tidak lagi menjadi seperti tokoh Sengkuni.

Usai menggelar ritual, seekor ayam yang ditaruh di dalam sangkar dibasuh menggunakan kembang setaman. Kemudian massa Pamerti bergerak menuju Monumen Tugu Yogya untuk memainkan wayang dengan tokoh Sengkuni. Usai pagelaran wayang, massa selanjutnya melarung benda-benda yang digunakan ruwatan ke Sungai Code.

Lalu, apakah ruwatan ini berdampak pada Amien Rais?

Baru-baru ini, Amien Rais melancarkan serangan politik terhadap Ahok saat menghadiri Rapat Akbar Forum RT RW "Memilih Pemimpin Santun dan Pro Rakyat" yang digelar di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok Lorong 104, Koja, Jakarta Utara, Minggu (18/9/2016). Di hadapan ratusan masyarakat yang berkumpul, Amien Rais menyerukan penolakan terhadap Ahok.

"Sangat berbahaya kalau kita sampai digubernuri (dipimpin) sama gubernur yang tidak peduli dengan rakyat kecil, dan sombongnya setinggi langit. Jadi insya Allah kita lawan satu 'Dajjal' itu karena dia akan menjual kepada kepentingan asing," kata Amien Rais.

Sebelumnya, dalam khotbah Idhul Adha,  Amien Rais menyerukan penolakan terhadap Ahok. Kemudian, di acara Mudzakarah Ulama dan Tokoh Nasional di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Amien juga melontarkan sindiran tajam ke Ahok. "Kalau saya bicara di depan akademisi, ya pentingnya ilmu pengetahuan, jadi saya kira si Ahok itu memang sontoloyo, dia enggak tahu agama dia," kata Amien.

Masih di forum yang sama, Amien menyebut Ahok sebagai dewa ingusan, "dia sudah seperti dewa kecil lah ya, tapi juga ingusan, bisa dikalahkan Insya Allah," Ungkap Amin kepada wartawan.

Sepertinya, apa yang dikehendaki Paguyuban Pametri, dengan ruwatan ini agar Amien Rais cepat sadar dan tidak lagi menjadi seperti tokoh Sengkuni, tidak terwujud, bahkan bisa disebut gagal total. Amien justru cenderung makin menjadi-jadi, dan terus memprovokasi warga Jakarta  untuk menolak Ahok.

Berdasarkan tradisi budaya Jawa, upacara ruwatan merupakan wujud perlindungan diri dari malapetaka yang diakibatkan Batara Kala. Sosok Raksasa keturunan Batara Guru dan Dewi Durga. Manusia yang mendapatkan malapetaka dari Batara Kala disebut sebagai Sukerta.

Nasib sial yang menimpa Sukerta biasanya karena pembawaan sejak lahir. Juga sebab perbuatan tertentu yang melanggar, sehingga perlu dilakukan upacara ruwatan.

Persoalannya ialah, siapa Sukerta dalam hal ini yang akan menjadi calon korban atau mangsa Batara Kala sehingga perlu diruwat? Tentu bukan Amien Rais, bahkan lebih pas jika Sukerta dalam hal ini adalah masyarakat banyak, yang bisa saja menjadi korban akibat pertikaian politik yang timbul. Dengan demikian, acara ruwatan yang pernah dilakukan oleh  Paguyuban Pametri adalah salah alamat.

Kemudian, apa yang ditunjukkan Amien Rais saat mencoba memprovokasi masyarakat agar tidak memilih Jokowi saat Pilpres; dan juga apa yang saat ini dilakukannya, yakni memprovokasi warga DKI untuk tidak memilih Ahok bukanlah sifat bawaan lahir. Itu juga tidak termasuk kategori perbuatan melanggar oleh yang bersangkutan sehingga ia perlu diruwat agar terhindar dari bencana. Sekali lagi, ia bukan tokoh Sukerta yang memerlukan ritual ruwat.

Dengan demikian bila ada pihak yang mengatakan bahwa Amien Rais perlu diruwat kembali, karena mungkin ruwat sebelumnya sudah kadaluwarsa maka pendapat tersebut tidak benar. Objek ruwat adalah nasib sial yang bisa menimpa, beda dengan apa yang dipertontonkan Amien Rais yakni tabiat politik. Tabiat atau karakter sudah barang tentu tidak bisa diruwat, dan bukan merupakan obyek ruwat.

Tabiat atau karakter politik adalah merupakan sifat politik seseorang yang terbentuk dari hasrat politik yang terus menerus diinput ke dalam pikiran dan hati  dan kemudian mengkristal, sehingga menjadi tabiat atau karakter seseorang. Dengan demikian, tabiat politik sama sekali bukan merupakan obyek ruwat, sehingga apa yang dulu pernah dilakukan oleh Paguyuban Pametri dengan meruwat Amien Rais adalah merupakan tindakan keliru.

Tabiat atau karakter, tidak mudah diubah apalagi hanya dengan ruwat. Sesuatu yang mengkristal atau membatu hanya bisa dihancurkan dengan membenturkannya dengan sesuatu yang lebih keras atau lebih kuat. Atau, bisa juga kemungkinan dengan soft therapy misalnya bagaimana batu bisa retak dan pecah akibat tetesan air yang terus menerus. Namun, metode ini  memerlukan waktu yang sangat panjang dan ketekunan yang tidak ada habisnya.

Persoalannya, bisa saja waktu sudah tidak cukup lagi untuk mengubah seseorang dengan menggunakan metode ini karena faktor usia. Apalagi jika pengkristalan yang terjadi sudah di level maksimum sehingga sudah sedemikian sulit untuk dilelehkan atau dihancurkan.

Demikian juga bagi pihak-pihak yang berniat melakukan ruwat ulang, maka hal tersebut merupakan tindakan sia-sia dan percuma untuk digelar, karena bisa dipastikan tidak akan berdampak apa-apa dan tidak akan bisa mengubah apa pun.

Atau, jika ada pihak yang tetap memaksakan agar ritual ruwat dilakukan, supaya orang yang dimaksud ( AR) terhindar dari incaran Batara Kala, maka  hal tersebut juga keliru. Apakah tidak lebih baik bila dibiarkan saja?