Memang menjadi hal yang terlalu sulit untuk membandingkan antara Ahok dan Anies dalam mengurus ibu kota Jakarta ini. Sangat jauh melihat bagaimana hasil kerjanya kalau mau kita bandingkan secara apple to apple. Kenyataannya, perbandingan itu sangat berbeda jauh sekali.

Kita melihat bagaimana Ahok dan Anies memberikan bukti kerja yang benar-benar berbeda. Harus diakui bersama bahwa dua karya yang dihasilkan dari kedua orang ini adalah sangat berbeda.

Simpang Susun Semanggi karya Ahok masih tetap eksis dan kekal sampai saat ini. Sedangkan karya seni yang dibangun di era Anies, baru 11 bulan, sudah dihancurkan. Memang perbedaan keduanya sangat jelas, khususnya dari sisi waktu.

Ahok membangun sesuatu yang long lasting alias bertahan lama, awet, dan menyenangkan banyak orang, khususnya mereka yang sehari-harinya melintasi Simpang Susun Semanggi.

Semua kebaikan-kebaikan Ahok diperlihatkan dengan sangat jelas, meski orang ini sudah mangkat dan sudah tidak ada di Balai Kota menjawab setiap permasalahan warga Jakarta yang datang dari pagi.

Hasil kerjanya benar-benar awet, lestari, dan tidak lekang oleh waktu. Orang besar membuat sesuatu yang bertahan lama. Waktu membuktikan bahwa Simpang Susun Semanggi tidak perlu dihancurkan, dan itu adalah nilai tambah dari karya seni yang dibangun Ahok selama ia menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta.

Selama ini kita melihat bagaimana Ahok bekerja dengan sangat baik. Mulai dari pembangunan infrastruktur sampai dengan apa yang dikerjakan secara sosial. Orang ini benar-benar serius dan memiliki semangat bekerja yang sangat tinggi.

Bahkan ia rela datang di luar jam kerjanya, pagi-pagi benar di Balai Kota dengan antrean aduan warga yang ia layani satu per satu. Ini menjadi sebuah bagian yang paling penting dalam sejarah kepemimpinan. 

Orang ini dikenang karena totalitas darinya dalam melayani rakyat Indonesia, sudah tidak perlu diragukan lagi.

Keseriusan Ahok memperlihatkan bagaimana dirinya benar-benar peduli kepada rakyat Jakarta. Ia adalah sosok yang mungkin menjadi pemimpin yang berhasil mencapai tingkat kepuasan penduduk tertinggi. 

Hal ini menjadi sebuah indikator jelas bahwa pemimpin di DKI ini sempat pernah memuaskan hampir setinggi nyaris 80% warga DKI Jakarta. Kepuasan ini menjadi sebuah indikasi bahwa rakyat mengenal, mengetahui, dan menikmati setiap program kerja yang ada. 

Ini adalah bagian yang menjadi indikasi mudah bagi kita dalam melihat bagaimana respons warga Jakarta terhadap kepemimpinan seseorang.

Apa yang dikerjakan oleh Pemprov DKI Jakarta di era Basuki Tjahaja Purnama tersampaikan kepada rakyat. Rakyat menikmati. Bahkan Pemprov DKI Jakarta memberikan pelayanan prima kepada rakyat. Melebihi ekspektasi. Melampaui setiap harapan.

Titik banjir, kemacetan, premanisme, dan setiap permasalahan yang menghantui Jakarta saat itu, berkurang dengan sangat drastis. Setiap masalah diurai dengan sangat presisi. Beberapa cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah, dijalankan dengan sangat baik.

Solusi yang efektif cenderung mendapatkan reaksi yang beragam dari warga Jakarta. Dalam setiap penanganan masalah, tentu kita melihat bagaimana reaksi publik bisa terbentuk. Salah satunya adalah Simpang Susun Semanggi. 

Simpang Susun semanggi adalah sebuah karya yang dikerjakan oleh Basuki Tjahaja Purnama, yang menggunakan uang tanpa APBD. Alokasi dana yang dikucurkan adalah dari CSR. Artinya, sebenarnya Ahok memberikan sebuah opsi bagi para perusahaan untuk berkontribusi dalam membangun kota Jakarta ini, namun tidak dalam bentuk tunai.

Bentuk tunai ini akhirnya harus diubah menjadi bentuk bangunan fisik. Artinya, secara teknis, sebenarnya bukanlah Ahok yang membangun Simpang Susun Semanggi, melainkan ini adalah rembukan dari para korporasi yang harus menggunakan CSR.

Bagaimana tidak sedih, jika semua hal baik yang sudah dikerjakan Ahok, mendadak digantikan oleh pemimpin yang baru ini? Saya agaknya sangsi bahwa rakyat Jakarta merasa baik-baik saja melihat keberadaan Anies.

Setelah Simpang Susun Semanggi, muncullah sebuah karya seni yang disebut-sebut menghabiskan 550 juta rupiah. Dan ternyata, menurut pengakuan, tidak sampai 300 juta yang dikeluarkan oleh seniman dan petani bambu

3 Perbedaan Perspektif Mengenai Periode Getah Getih

Pertama, Getah Getih menurut Anies memang hanya diproyeksikan 6 bulan dengan bonus 5 bulan. Karena memang hanya untuk Asian Games.

Kedua, ada anggota TGUPP lain bernama Marco yang mengatakan bahwa bambu itu hanya memang diprediksi 3 bulan mengingat situasi Jakarta yang kadar polusi dan paparan sinar matahari yang tinggi.

Ketiga, seniman Getah Getih tersebut juga mengatakan bahwa 11 bulan proses pembusukan, penghancuran, dan pembuangan bambu ini akibat polusi dan seharusnya bisa bertahan lebih lama lagi.

Tiga pengakuan yang berbeda dari satu karya seni yang bernilai 550 juta ini ternyata membuat publik kocar-kacir. Lantas bagaimana cara menyelesaikannya? Silakan mereka berembuk dulu, mana yang akan dijadikan dasar.

Anies membawa-bawa nama petani bambu, dan mencoba untuk mengangkat kembali isu kesukuan. Gubernur DKI Jakarta mengatakan bahwa kalau bahannya bukan bambu dan diganti besi, maka impor dari Cina.

Apa maksud gubernur dalam mengatakan hal seperti ini? Apakah ini merupakan sebuah investasi Anies dalam menjalankan politik identitas? Atau memang karena sering bergaul bersama Amien Rais CS yang juga suka bersilat lidah mengenai politik identitas?

Pertanyaannya sederhana sebenarnya: benarkah Anies memesan bambu ke petani bambu? Atau ke pengusaha?

Politik identitas mau tidak mau masih harus diakui. Inilah sekelumit kisah pelik di ibu kota, antara Simpang Susun Semanggi dan Getah Getih. Antara beton dan bambu. Antara yang kekal dan yang sementara.