Arsiparis
5 bulan lalu · 71 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 65030_43648.jpg

Antara Kasih Sayang dan Hedonisme Hari Valentine

Sebuah hari,  di bulan Februari, tepatnya tanggal 14 yang menjadi momen untuk mengungkapkan rasa sayang, bagi orang yang merayakannya. Hari itu dirayakan sebagai hari Valentine atau hari kasih sayang.

Bukanlah sebuah kesalahan untuk mengungkapkan kasih sayang pada hari hari khusus, semacam hari Valentine, karena setiap hari perlu diapresiasi agar berarti.

Beberapa hari lagi, kita akan tiba pada tanggal tersebut dan suasana menuju perayaan itu sudah terasa terutama di kalangan remaja. Kegelisahan para orang tua pun mulai mencuat mendekati hari tersebut. Meski ada pula orang tua yang ikut ikutan latah dengan berpartisipasi merayakan hari Valentine bersama kaum remaja itu.

Memang dalam setiap menjelang perayaan hari Valentine, selalu timbul pro dan kontra.  Perdebatan tentang perayaan hari Valentine  membuat penulis juga merasa untuk ikut serta mengikutinya. Karena sebenarnya perbedaan yang mereka perselisihkan ada titik temunya.


Pihak pertama  merasa itu bukan budaya kita jadi lantas tidak layak kita tiru. Di  pihak kedua adalah pendukung yang merasa perayaan itu tidak salah karena merayakan kasih sayang. Di belakang barisan pendukung inilah ada beberapa tangan tak terlihat yang hendak menjual pesta pesta yang ujung-ujungnya adalah keuntungan atau uang.

Dalam suasana riuh rendahnya para penganut hedonisme, pesta adalah kebutuhan wajib yang mesti ada.Tentu kurang absah apabila penganut hedonis tak merayakan pesta dan setiap momen bagi mereka adalah perayaan, perayaan, dan perayaan pesta. Di sinilah peluang yang ditangkap oleh kapitalis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara menjual aneka ragam pemuas keinginan para pemuja pesta tersebut.

Ada peluang keuntungan yang ditangkap oleh kaum  kapitalis saat orang membutuhkan pesta perayaan. Pembiayaan yang ditimbulkannya adalah lahan bagi mereka untuk menyediakan kebutuhan kaum hedonis tersebut. Di era yang sarat pemujaan terhadap materi ini, tidak ada sesuatupun yang tak bisa diuangkan.

Semua dilakukan dengan begitu manis oleh para kapitalis yang menggoda kaum hedonis itu dengan iklan iklan yang menggiurkan tentang bagaimana kemeriahan sebuah pesta dilakukan.

Melihat yang demikian tentunya kita perlu mempertanyakan kembali perdebatan antara dua golongan yang saling pro dan kontra dalam perayaan hari Valentine tersebut. Titik temu dari dua golongan tersebut adalah bahwa mengungkapkan kasih sayang itu penting dan itu bisa dilakukan tiap hari.

Namun yang menjadi titik beratnya adalah bagaimana menghadirkan kasih sayang itu  tanpa harus dengan pesta pesta yang malah jauh dari rasa kasih dan sayang itu sendiri. Tak perlu pesta pora hingga menjurus lupa diri kalau hanya sekedar untuk berbagi kasih sayang. Kita bisa menebarkan kasih sayang dengan cara yang murah tanpa hadiah.


Setiap hari adalah kewajiban kita untuk mengungkapkan kasih dan sayang karena hakikat  menebar kasih dan sayang sebenarnya bukan untuk orang lain karena tindakan itu berimbas pada diri pelakunya.

Selain itu, kasih dan sayang bukanlah sexual interest yang selama ini disalahartikan oleh sebagian kaum hedonis tersebut. Kasih dan sayang adalah keabadian dalam cinta dan kedamaian. Kelemahlembutan dan keramahtamahan dalam bersikap adalah intinya.Ia bukanlah kenikmatan sesaat sebagaimana dalam interaksi seksual.

Di  zaman yang serba cepat dan selalu mengedepankan kemudahan,  kenikmatan sesaat adalah umpan yang manis bagi para penganut hedonis tersebut. Inilah yang biasanya lebih laku dijual oleh penganut materialisme di era yang serba ingin praktis dan instan ini. Asal punya uang semua bisa dengan mudah direalisasikan.

Tentunya menjadi tanggung jawab kita semua untuk memberikan wawasan akan perayaan kasih sayang ini tak peduli dalam momen apapun itu. Kasih sayang yang lebih abadi sebagaimana perasaan rela berkorban, simpati, empati, dan peduli lebih membekas daripada hanya dengan hadiah hadiah yang belum pasti si penerima itu membutuhkannya.

Akan lebih bagus lagi bila kita bisa memberikan teladan perayaan Valentine dengan cara untuk saling berbagi dengan yang kurang mampu bukan cara bagi-bagi kondom yang beberapa tahun lalu pernah terjadi ketika perayaan hari AIDS. Kasih sayang bukanlah interaksi seksual dan jangan nodai perayaan perayaan dengan alasan apapun dengan niat buruk hubungan sex di luar nikah.

Menjunjung tinggi nilai cinta dan kasih sayang adalah dengan menghormati sesama. Toleransi dan saling menghargai serta member perasaan damai ke orang lain adalah teladan yang tak perlu menunggu tanggal 14 Februari.  


Biar bagaimana pun kasih sayang itu luhur harus kita tebarkan tiap hari tanpa menunggu hari spesial. Bukankah tiap hari,  kita ( umat Islam ) ini sudah mengucapkan Rahman dan Rahim  tiap hari di kala kita sholat? 

Mengapa tidak mencoba mengejowantahkan dalam tindak dan laku kita sehingga kita bisa memberikan kedamaian untuk semua tanpa pilih kasih karena dalam kasih sayang  tidak   mengenal pilih kasih. Selamat menebarkan kasih dan sayang ke orang-orang di sekitar Anda.

Artikel Terkait