Freelancer
1 tahun lalu · 2715 view · 4 menit baca · Budaya 79806_54797.jpg
pixabay.com

Antara Hijrah, Pesantren, dan Pembekuan Identitas

Identitas adalah sesuatu yang cair dan senantiasa bermakna sebagai "proses menjadi" (being). Disebut cair sebab setiap manusia memiliki sekumpulan identitas di dalam dirinya: kadang menjadi pengikut agama yang taat, kelompok sosial budaya etnis, bahkan menjadi penggemar berat klub sepak bola tertentu. Kapan dan di mana penggunaan identitas bagi setiap manusia tergantung kenyamanan seseorang itu dalam tempat dan waktu tertentu pula.

Disebut sebagai "proses menjadi", karena era modern telah mengantarkan kita pada zaman di mana stratifikasi sosial yang paten telah runtuh, paling tidak reputasinya telah merosot tajam, serta berimplikasi pada terbukanya ruang bagi adanya mobilitas sosial yang menganga lebar. Sehingga setiap orang berhak mendefiniskan ulang dirinya menjadi apa pun. Apalagi perkembangan teknologi informasi melalui media sosial telah memfasilitasi hal tersebut. 

Satu waktu seorang perempuan yang menggunakan jilbab syar'i sangat rajin mempromosikan quote-quote dakwah Islam di media sosialnya. Di waktu yang lain, dia menunjukkan identitas dirinya sebagai penggemar berat budaya K-Pop. 

Bahkan, saya punya seorang teman perempuan lulusan pesantren yang rajin mengupload video dirinya berjoget di tempat umum layaknya girlband melalui akun Instagtam dan Youtobe miliknya. Atau, misalnya, lihat Sunni Girlband, sekelompok girlbrand pertama di Indonesia yang seluruh personilnya memakai jilbab. 

Peralihan atau bahkan peleburan berbagai identitas diri yang kadang terkesan kontradiktif. Sebab, ketika derajat penampakan keimanan di Indonesia begitu tumbuh subur, banyak remaja perempuan muslim yang menggemari cowok-cowok berwajah oriental yang kebanyakan kafir. Atau banyak yang kemudian lebih menyukai Dilan daripada Ayat-ayat Cinta 2. Fenomena semacam ini tidak harus dipahami sebagai kemunafikan, atau degradasi moral keagamaan yang merosot.

Ini hanyalah bukti kalau masyarakat remaja di Indonesia sedang bergulat dengan kenikmatan dan identitas. Ulasan yang lebih menarik soal ini bisa baca bukunya Ariel Heryanto yang berjudul "Identitas dan Kenikmatan" (2018) atau "Populer Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post-authoritarian politics” (2008). Jadi,  tidak perlu harus menghijrahkan paksa si Dilan. Si Iqbal sudah hijrah ke Amerika.

Ketika seseorang memutuskan dirinya untuk "hijrah", biasanya merias penampilan melalui citra dan tanda-tanda menjadi Islam yang Kaffah, tidak serta merta itu menjadi satu identitas tunggal yang kemudian membatasi dirinya dari identitas-identitas lain. Dia berhak untuk menjadi konsumen budaya modern apa pun tanpa harus selalu dikaitkan dengan identitasnya sebagai orang yang hijrah. 

Apakah hanya seorang ustaz gaul atau tampilan budaya populer modern yang terpadu dengan nuansa Islami saja yang sah untuk diterima? Ini kemudian menjadikan trend hijrah menjadi identitas yang beku. 

Di samping itu, pembedaan antara kelompok yang "sudah hijrah" dan "belum hijrah" bisa menjadi sebuah penanda dikotomi yang berlebihan dan bahkan bisa menampakkan suatu arogansi keagamaan. Dan, memang identitas akan semakin melekat tatkala ada orang lain yang tidak seciri dengan dia.

Kita bisa memperkenalkan jenis kelamin kita sebagai laki-laki karena ada jenis kelamin perempuan. Kita mantap menjadi kelompok hijrah tatkala ada yang belum hijrah dengan menonjolkan ciri-ciri itu. Identity as difference. 

Semisal, seorang pemudi muslim yang sudah hijrah kadang memposting sebuah foto tanpa menunjukkan wajahnya, atau difoto dari belakang atau mungkin foto profilnya diganti dengan karikatur cewek berjilbab, mungkin bisa diartikan sebagai upaya menjaga pandangan orang lain. Sebuah bukti ketaatan menjalankan kesalehan melalui perilaku di media sosial. 

Namun, di sisi lain, performa semacam itu bisa dipahami pula bagi perempuan bahwa dia merasa sangat cantik dan tidak boleh dilihat sembarang orang. Menutupi keaslian wajah juga bisa dibaca sebagai bentuk superioritas diri dibanding yang lain.

"Those who pretend to refuse the camera seem to demonstrate their superiority over others. Perhaps rejecting the camera symbolize one's control over his or her image," kata Broke Wendt (dikutip dari Islami dan Rahmawati dalam buku "Budaya Populer Indonesia", 2018).

Ketika penampilan lahiriah simbol-simbol Islami terus-menerus memenuhi personifikasi citra Islam di dalam peneguhan identitas sosial, saya sepakat dengan kalangan santri yang menegasi pandangan itu.

Sudut pandang yang berseberangan dari kalangan santri tersebut penulis temui dalam salah satu hasil penelitian Ida dan Sari (2018) di buku yang sama. Mereka berdua meneliti bagaimana kelompok budaya remaja yang hidup di instansi pendidikan agama menanggapi perkembangan budaya populer Islam yang disajikan melalui program-program TV. 

Penelitian itu dilakukan di beberapa pesantren yang berada di Jombang (Tebuireng, Tambakberas dan Denanyar) dan Kediri (Lirboyo). Hampir semua pelajar pesantren tersebut tidak menyukai tayangan edukatif keagamaan di televisi seperti dakwah Mama Dede, Ustaz Maulana dan Ustaz Solmet. 

Menurut mereka, banyak materi dakwah yang disampaikan mengandung kesalahan, seperti pengutipan ayat untuk menjawab masalah tertentu atau penerjemahan ayat yang kurang pas. Mereka lebih menyukai dakwah yang lebih berbobot yang dibawakan Quraish Shihab dan para kiai di TV 9 karena kapasitas pemahaman keagamaannya. 

Bagi pelajar pesantren, para ustaz infotainment yang sering riwa-riwi di TV dianggap sekadar penghibur atau acara hiburan semata. Ida dan Sari juga mengungkapkan kesan para santri bahwa acara-acara sinetron keagamaan yang mencirikan keislamaan, atau bahkan yang mengangkat kehidupan pesantren dalam sinetron, semisal "Pesantren & Rock n' Roll", sama sekali bukan penggambaran kehidupan pesantren yang sebenarnya. 

Hasil penelitian itu juga menunjukkan kalau pelajar pesantren memiliki tingkat selektif dan kekritisan lebih dalam menilai penampakan budaya populer, terutama dalam hal ini menilai tayangan yang mencirikan kegamaan. Bagi mereka, agama sebenarnya bersifat privat dan bukan yang direpresentasikan di dunia virtual maupun layar kaca. 

Di sini nampak para terpelajar pesantren coba memilah mana yang sebenarnya benar-benar mewakili Islam, atau hanya produk cita rasa Islam yang kadang malah membelokkan pemaknaan Islam itu sendiri. Dan mungkin mereka tidak perlu merasa tiba-riba ikut trend hijrah ketika lulus dari pesantren karena dari dulu tetap di garis itu. 

Lantas apakah kemudian santri ketika lulus dari pondok akan linear begitu terus? Tidak juga. Sekali lagi, identitas adalah sesuatu yang cair dan sebagai proses yang terus-menerus akan mengalami pembentukan. 

Artikel Terkait