Beberapa waktu lalu, nama Khabib Nurmagomedov sempat ramai diperbincangkan khalayak. Ikhwalnya, kemenangan yang diraih Khabib usai menyungkurkan Conor McGregor di atas ring. Perbincangan kemenangan Khabib kian bercabang karena dibumbui sentimen agama. Konon, Khabib begitu garang menjungkalkan McGregor karena McGregor menghina agama Khabib yaitu Islam.

Namun, apa pun “bumbu” yang menyertai pertarungan keduanya, bagi saya merupakan gimmick untuk meningkatkan tensi dan rasa penasaran pemirsa. Laga pertarungan pun panas, ditunggu-tunggu banyak orang, dan ditonton jutaan, mungkin miliaran pasang mata. Akan tetapi, anggap saja psywar antara Khabib dan McGregor itu benar.

Oke, kita tinggalkan dulu kisah Khabib. Belum lama ini, ada seseorang yang bergelar Habib juga membuat heboh. Dia adalah Habib Bahar bin Smith. Habib nyentrik berambut gondrong pirang ini ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan kepada 2 anak di bawah umur. Habib Bahar pun resmi meringkuk di balik jeruji besi.

Mungkin ini cocokologi. Namun, pelafalan atau pengucapan antara Khabib dan Habib menurut saya hampir sama. Mungkin juga, kadar emosional keduanya pun sama. Bedanya, Khabib melampiskan emosi di atas ring, dengan jantan, dengan lawan yang sepadan, satu lawan satu. Sedangkan Habib Bahar, meluapkan emosi di kandangnya. Lawan anak di bawah umur pula, beramai-ramai pula.

Khabib usai menumbangkan McGregor sempat tak mampu mengontrol emosi. Ia melompati pagar ring dan menyerang beberapa kawan McGregor. Itu terjadi bukan di kandang Khabib, tidak pula keroyokan. Namun Habib Bahar, “menculik” 2 anak di bawah umur, membawa kedua anak itu ke kediamannya, kemudian menganiayanya.

Cocokologi antara Khabib Nurmagomedov dengan Habib Bahar sebenarnya hanya intro. Mencoba mengarahkan pembaca membayangkan dua orang lelaki yang meluapkan emosi dengan caranya masing-masing. Jangan pula membayangkan Khabib Nurmagomedov akan duel dengan Habib Bahar di atas ring. Itu tidak mungkin terjadi. Padahal andai terjadi, mungkin penonton pertandingan itu bisa mencapai 11 juta orang layaknya klaim jumlah massa aksi Reuni 212 tempo hari.

Begini, sempat ada yang bilang Habib Bahar adalah “Singa Allah, Singa Rasulullah”. Lah, dari mana singa-nya? Lawan dua anak di bawah umur kok keroyokan? Bukankah itu memalukan? Apalagi, dia seorang yang bergelar Habib, apa pantas kelakuan menganiaya orang dijadikan teladan?

Baiklah, dua anak di bawah umur itu salah, lalu Habib Bahar marah besar. Namun apakah tindakannya menganiaya dapat dibenarkan? Di mana esensi al-'ulama warasatul anbiya (para ulama adalah pewaris para nabi)? Apa Nabi mewariskan metode penghakiman brutal seperti itu? Tentu banyak orang sudah tahu bagaimana ahlak mulia Nabi. Apakah Habib Bahar dengan kelakukannya mencerminkan ahlak Nabi? Merefleksikan ia pewaris para nabi? I don’t thonk so!

Di media sosial, beredar seseorang mengumandnagkan azan di depan Mapolda Jabar usai Habib Bahar dinyatakan ditahan. Saya tidak anti azan, tapi mengumandangkan azan untuk seorang Bahar yang ditahan karena diduga melaukan kekerasan adalah kelebayan terbaik tahun ini.

Lalu usai ditahan, muncul narasi “kriminalisasi ulama”, “kezaliman yang nyata, dan lain sebagainya. Fadli Zon misalnya, menyebut penahanan Habib Bahar merupakan kezaliman yang sempurna. Setara Firaun-kah pemerintahan saat ini? Sampai orang yang pernah menziarahi makam Karl Marx itu mengatakan hal ini sebagai kezaliman yang sempurna?

Andai seluruh manusia di planet bumi ini membela Habib Bahar, saya tidak masalah merasa kebingungan sendirian. Mengapa ada orang yang masih membela Habib Bahar dengan narasi yang menyedihkan. Membela Habib Bahar dengan narasi “kriminalisasi ulama” dan sejenisnya menurut saya merupakan pemikiran jahiliyah terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia.

Saya jadi ingat sabda Nabi yaitu: “Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya aku memotong tangannya.”. Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim itu, menurut saya beresensi keadilan. Anak seorang Nabi pun bila bersalah maka akan diberi hukuman. Kenapa Habib Bahar yang menganiaya seolah tidak boleh dihukum?

Orang-orang yang membela Habib Bahar—terutama dengan argumentasi politis sebenarnya orang-orang yang zalim kepada dua bocah yang dianiaya Habib Bahar. Logikanya, membela Habib Bahar bahwa kasus itu merupakan kriminalisasi atau kezaliman berarti mengatakan: penganiayaan kepada dua anak di bawah umur itu bukan kesalahan. Mungkin dianggap ibadah.

Nalar kelompok yang membela Habib Bahar sukar dicerna logika. Bagaimana caranya mereka masih bisa mengatakan penetapan Habib Bahar menjadi tersangka dan ditahan adalah bentuk kezaliman? Bukankah yang zalim itu Habib Bahar? Dengan superior Habib Bahar menganiaya dua bocah sampai wajah mereka babak belur. Tapi sekelas Yang Mulia Fadli Zon mengatakan penahanan Habib Bahar adalah diskriminasi, ketidakadilan, kezaliman, dan kriminalisasi ulama. Jangan-jangan Fadli Zon politikus yang pro kekerasan?

Apa pun alasannya, kekerasan tak dapat dibenarkan. Bahkan meski itu dilakukan oleh seorang Habib. Andai saya menangkap maling di rumah saya, tetap saya tak berhak menghakiminya. Tentu langkah polisi sudah benar. Andai polisi tak menetapkan Habib Bahar sebagai tersangka dan tak menahannya, maka polisi-lah yang telah zalim kepada kedua bocah yang menjadi korban beserta keluarganya.

Kriminalisasi adalah narasi basi. Semacam jurus dewa mabuk tapi mabuk betulan. Orang-orang seperti Fadli Zon dan sebangsanya yang masih mengatakan kasus Habib Bahar adalah kriminalisasi atau kezaliman polisi, adalah orang-orang yang tak punya hati. Mereka menutup diri dan mengelak bukti bahwa Habib Bahar adalah gangster jalanan yang berbuat sesuatu seolah di negara tak ada aturan.