Persetan dengan surga dan neraka. Baginya, surga dan neraka hanyalah ilusi orang-orang yang lemah. Malam itu, ia memilih untuk pergi mencumbui bibir pria yang dicintainya. Saatnya untuk menikmati surga yang benar-benar nyata di depan mata.

***

Di tengah malam yang terselimuti hujan es….
Lelaki tampan itu diam membeku di pojok kamarnya
Dinding kamar itu membisu, jam dinding seolah berputar sangat lambat
Bingkai foto ayah yang ada di kamarnya seolah-olah menatapnya dengan sinis
Padahal, wajah sang ayah sedang tersenyum dengan motif yang sangat indah

Namun sayang, malam itu hatinya sedang menangis
Untungnya, malam itu hujan lebat
Jadi semua itu tersamarkan dengan indah
Bantal dan guling pun tak akan bisa mendengar suara tangisan hati itu

Tahukah kalian?
Menangis terisak di dalam hati benar-benar menyakitkan?

*

Burung hantu di teras rumah terus menggonggong
Ia seolah-olah sedang mengejek
Hatinya semakin remuk, dadanya seolah-olah akan terbelah

Jika kau bisa melihatnya, mungkin sulit untuk membedakan mana dinding dan mana wajah
Karena wajahnya begitu pucat, pucat dirundung hujatan tak kentara

*

Ia sempat ingin keluar
Mengambil air hujan untuk berwudu,
Mencium sajadah seperti mamak
Menangis tersedu kepada sang pencipta
Memainkan tasbih sambil berkomat-kamit meminta petunjuk

Namun, niat itu ia urungkan
Percuma, toh katanya tuhan sedang membencinya
Katanya, tuhan sedang tak ingin melihat wajahnya
Dan katanya, tuhan tak sudi memiliki hamba seperti dirinya

KATANYA!

*

Malam itu, hatinya semakin menangis, raganya ingin patah
Memikirkan masa depan yang akan seperti apa
Hah, masa depan? Apakah ia mempunyai masa depan? Atau punya hak kah ia untuk bermasa depan?
Dijauhkannya sajadah itu, menjauh dan terus semakin jauh

Jika katanya tuhan sudah mulai membencinya, lantas pantaskah ia membalas dengan cara yang setimpal dengan cara ikut membenci? Fairness concept bukan?

Malam itu, jika ada kendaraan seperti yang dulu katanya pernah dinaiki nabi untuk naik ke langit ke tujuh, ingin rasanya ia segera menaikinya dan menggugat kepada tuhan tentang diskriminasi yang didapatkannya di dunia ini.

Menggugat ke mahkamah tertinggi
Menuju pengadilan dari segala pengadilan
Yang katanya tertinggi.

*

Pupil matanya semakin mengempis
Daun telinganya seolah menyusut
Air matanya seolah telah habis

Dengan kaki gemetar, mendekatlah ia ke arah lemari lusuh peninggalan ayah 11 tahun lalu
Tangannya gemetar tak tertahan membuka benda peninggalan tersebut

Lemari terbuka, resmilah masa lalu itu juga terbuka
Menganga dan seolah memanggil

*

Air matanya kembali mengalir seperti mata air
Salib itu tersentuh kembali, setelah 11 tahun lamanya tak terpakai

Dulu ketika ayah masih bernafas, selama 10 tahun salib itu tetap menempel mengalunginya
Salib itu tetap menjaganya, bahkan hatinya tetap tegar menerima dirinya secara apa adanya

Namun semenjak ayah pergi, kejayaan salib itu mulai sirna, hingga akhirnya meredup
Dan hingga akhirnya tangannya mulai bermain dengan tasbih itu

*

Salib itu menyala terang, hatinya menjadi tentram
Namun, dengan seketika meredup dan langsung terbakar hangus
Hatinya ikut seolah terbakar,
Jiwanya seolah gosong
Rohnya seolah menghitam

Hancur sudah harapan itu
Sepertinya ia sudah benar-benar tak diterima

*

Salib telah terbakar, namun tasbih itu masih mengitari pergelangan tangannya
Lantas, dibuangnya tasbih itu dengan penuh kesedihan dan kebencian
Lenyap sudah semua itu
Maka lenyap pula semua beban itu
Akhirnya, ia sendiri memutuskan untuk tidak bersedih kembali
Dari pada terbeban, lebih baik memilih untuk tidak bertuhan
Karena dengan begitu, tak ada apapun yang akan menghalanginya untuk mencintai pria yang sudah ditaksirnya 5 tahun yang lalu.

Persetan dengan surga dan neraka
Baginya, surga dan neraka hanyalah ilusi orang-orang yang lemah
Malam itu, ia memilih untuk pergi mencumbui bibir pria yang dicintainya
Saatnya untuk menikmati surga yang benar-benar nyata di depan mata.

---

Denhag, Belanda 22 Agustus 1989