“Pekerja tidak selalu mendapatkan apa yang dihasilkan oleh kapitalis, tetapi sudah pasti akan turut jatuh ketika kapitalis mengalami kerugian. Sehingga pekerja tidak mendapatkan apapun ketika kapitalis menjaga harga barang diatas harga alaminya baik itu melalui jasa perdagangan atau produksi rahasia, ataupun melalui monopoli.” – Karl Marx, Das Kapital.

Transportasi online di Indonesia sudah sangat menjamur, GO-JEK sebagai perintis pertama yang didirikan tahun 2010 tetapi barulah melesat pada awal tahun 2015, diikuti dengan kompetitor Grab yang didirikan tahun 2012 dan Uber yang didirikan pada tahun 2014. Sebagian dari transportasi online yang diminati masyarakat Indonesia.

Permasalahan terus mendatangi transportasi online Indonesia, sebagian besar seperti perkelahian fisik antara ojek konvensional dan ojek online, Pengemudi sering mengantuk karena jam kerja tidak ada habisnya, penurunan upah yang mencekik pengemudi dan terus bertambahnya pengemudi mengakibatkan berkurangnya pendapatan.

Dampak terhadap masyarakat setelah banyaknya dinamika yang terjadi pada transportasi online, penikmat transportasi online tentu merasa risih akibat perkelahian fisik yang terjadi antara pengemudi online dan konvensional, sikap jaga diri para penumpang justru lebih mengkhawatirkan ketika ada suatu permasalahan ditempat tersebut.

Pengemudi sering mengantuk dikarenakan mengejar uang untuk kebutuhan hidupnya, terkadang pekerjaan transportasi online mengalami permasalahan yang sangat kompleks, pengemudi butuh uang namun upah diturunkan, upah diturunkan pengemudi bekerja melampaui batas sehingga mengantuk, keselamatan dari penumpang pun kadang terabaikan.

Dilema Ojek Online

Situasi sulit yang mengharuskan pengemudi menentukan pilihan kenaikan atau mentaati penurunan upah yang terjadi oleh pengemudi ojek online. Apabila pengemudi menuruti upah yang ditakar oleh perusahaan maka akan terjadi penurunan kebutuhan hidup mereka dan apabila mereka melawan upah tersebut harga motor akan berselisih dengan harga mobil.

Seperti yang kita ketahui membludaknya pengemudi yang akan masuk menjadi mitra dari salah satu transportasi online. Tentu saja membuat persaingan tambah ketat antar pengemudi online dan antar perusahaan transportasi online.

Persaingan sangat ketat antar pengemudi online, seperti berebutnya penumpang tentu saja membuat mereka lebih cepat mengejar uang dampaknya terhadap keselamatan penumpang yang memakai jasa layanan ojek online tersebut.

Tidak dapat dipungkiri persaingan antara perusahaan jasa bidang transportasi online, mengalami perang harga tentu saja sangat merugikan pengemudi mereka dampaknya lebih menguntungkan perusahaan dan para penumpang.

Tentunya salah satu tujuan dari transportasi online ini untuk membuka lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan, namun apabila pengemudi yang mendaftar tidak bisa dikontrol tentu saja menyulitkan pendahulunya mencari tambahan uang, disisi lain perusahaan ingin membuka lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan.

Galau Ojek Online

Merasa gelisah pengendara ojek online kebingungan dengan jumlah upah yang mengalami penurunan dan kerja mereka yang tidak sebanding letihnya, persaingan antar pengemudi menentukan pendapatan dari pengendara ojek online.

Terbitlah beberapra orang yang memiliki kesamaan permasalahan sehingga membuat suatu gerakan agar menaikan upah pengemudi ojek online, bukti konkretnya demo yang dilaksanakan 27 Maret 2018 yang masih belum menemukan titik terang sampai saat ini.

Banyak yang menyayangkan hal tersebut karena apabila tarif naik untuk pengendara ojek online motor maka harga hampir setara dengan ojek online mobil. Tentu saja orang lebih memilih mobil dengan segala fasilitasnya untuk menikmati perjalanan, hanya orang orang yang terburu-buru atau urgent memakai layanan ojek online motor.

Belum lagi kebutuhan menunjang pengendara seperti harga bensin yang makin lama tidak jelas kadang naik dan kadang mengalami penurunan, tentunya membuat pengemudi ojek online menjadi bimbang untuk pemenuhan kebutuhan hidup lainnya.

Perekonomian Ojek Online

Orang-orang yang bekerja pada bidang transportasi online mendapatkan cukup banyak uang apabila mereka ingin bekerja keras dan mengorbankan waktunya diatas aspal, perputaran uang sangat cepat bahkan mereka bisa membayar cicilan motor dalam seminggu, hal ini terjadi sebelum penurunan upah yang didapatkan pengendara ojek online dan membludaknya mitra kerja pengemudi transportasi online.

Sekarang kata sejahtra tentu sangat jauh sekali bagi pengemudi ojek online, perang harga diturunkan sebagai kompetitor antara pihak GO-JEK dan Grab yang bersaing sangat ketat sehingga mengalami penurunan harga sangat cepat, diakusisinya Uber masuk ke dalam Grab salah satu kekalahan Uber dalam perang harga di masyarakat.

Dampak dari perang harga tersebut yaitu penurunan tarif yang didapatkan pengemudi, mensejahtrakan perusahaan dan pemakai aplikasi sehingga mencekik perekonomian pengemudi ojek online, beberapa dari mereka menyayangkan hal tersebut namun beberapa memaklumi karena motor berada dalam posisi kerugian apabila terjadi lonjakan upah.

Dampak terhadap Masyarakat

Sekarang lebih susah ketika mendapatkan jarak jauh dengan kesesuaian harga, pihak pengemudi ojek online kadang tidak menerima pesanan dari pemakai aplikasi sehingga membuang waktu sangat banyak ketika menunggu pesanan diterima, tentu pengemudi memikirkan jarak dan keadaan macet yang terjadi berapa pengeluaran bensin dan pemasukan dari mengantarkan pengguna.

Beberapa pengemudi ojek online menyuruh untuk membatalkan pesananannya agar diluar tarif perusahaan dan semua upah masuk kedalam kantong pengemudi ojek online, di sisi lain tentunya pemakai ojek online merasa ketakutan karena banyaknya tindak kriminal yang bisa dilakukan pengendara ojek online.

Ojek online juga memaksakan kehendak mereka yaitu stamina yang sangat lelah tentu sangat membahayakan para pemakai ojek online, kecelakaan bisa saja terjadi tapi mereka memikirkan kesejahtraan keluarga tanpa memikirkan keselamatan penumpang.