48169_46396.jpg
www.myindischool.com
Cerpen · 5 menit baca

Antara Cinta, Maaf, dan Saudari Kembar

“Seandainya dia musuhku, mungkin masih dapat kupahami. Juga kalau dia orang asing dan tak kukenal, barangkali masih dapat kuterima. Namun dia berjambang dan keluar dari rahim yang sama denganku. Makan dari periuk yang sama, bahkan bersamanya kuterima suapan bubur pagi dari sendok ibu yang sama. Bagaimana mungkin kumampu memaafkannya?”

Itulah alasan Mirna hingga kini tak mau memaafkan Marni, saudari kembarnya itu.

Sebenarnya Mirna sudah bertunangan dengan Toni. Rencananya bulan depan mereka akan menikah. Maklum, sudah enam tahun mereka berpacaran. Namun Marni tidak tahu semua itu, karena sudah sembilan tahun ia tinggal di Australia. Barangkali rasa kekeluargaannya telah tergerus di negeri rantau, sehingga ia menjadi sangat individualis dan tak mau tahu tentang keluarganya di Indonesia. Mungkin.

Seminggu sebelum hari pernikahan Mirna dan Toni, Marni diberitahu sekaligus diundang untuk mengikuti acara pernikahan tersebut. Marni kaget, tetapi juga merasa bersalah, karena selama ini ia tak tahu sama sekali mengenai saudari kembarnya itu. Namun, ia sangat bahagia mendengar rencana kembarannya itu.

Kebetulan pada waktu yang sama dengan acara pernikahan itu, Marni mendapat jatah liburan dari tempat kerjanya di Australia. Karena itu, Marni mengabari bahwa ia akan mengikuti acara pernikahan Mirna dan Toni.

Dua hari sebelum acara pernikahan itu, Marni tiba di Indonesia. Tepatnya hari kamis sore, karena pernikahan tersebut akan dilangsungkan pada hari sabtu. Tentunya Mirna sangat senang sehingga tak puas-puasnya ia memeluk dan mencium kembarannya itu. Kisah hidup dan pergulatan karier masing-masing selama sembilan tahun pun terurai menghiasi keceriaan pertemuan mereka. Tidak hanya itu, kisah cinta dengan pasangan masing-masing pun dibeberkan panjang lebar.

Meski Marni dan Mirna kembar, tetapi Marni lebih halus kulitnya dan lebih cantik. Mirna pun mengakui hal itu sejak pertama kali melihat Marni dalam pertemuan kembali mereka itu. Marni memang tampil sangat modis. Barangkali petualangannya di luar negeri turut mengubah gaya hidupnya.

Jumat pagi, Marni mau membeli sesuatu di supermarket kesukaannya dulu. Mirna bercerita bahwa supermarket itu kini telah berstatus internasional. Hal ini menambah rasa ingin tahu Marni akan keadaan supermarket itu sekarang, sekaligus ia ingin bernostalgia di sudut-sudut supermarket tersebut, yang telah banyak menyimpan kenangan indah masa lalu.

Ia mengajak Mirna. Namun kembarannya itu sedang tidak enak badan, sehingga ia harus banyak beristirahat, supaya lekas segar lagi, karena acara pernikahan akan dilangsungkan esok pagi. Kebetulan hari itu ayah dan ibu mereka pun ada jadwal lain yang tidak bisa ditunda. Karena itu, satu-satunya cara yang ditempuh Mirna untuk membantu Marni adalah meminta Toni, calon suaminya, untuk mengantar Marni.

Marni sangat senang dengan rencana Mirna, karena dia memang sama sekali belum pernah bertemu langsung dengan Toni. Pikirnya, biar sekalian mengenal Toni sebelum acara pernikahan itu, supaya semakin mempererat rasa kekeluargaan sekaligus menambah keceriaan resepsi esok hari.

Mirna menelpon suaminya itu dan menyampaikan semua rencana dengan teliti. Kebetulan hari itu Toni pun tidak mempunyai kegiatan apa pun. Karena itu, ia menyanggupi permintaan Mirna untuk menemani Marni ke supermarket penuh memori indah itu.

Marni sangat senang bisa mengenal calon suami saudari kembarnya. Begitu pula sebaliknya, Toni senang bisa bertemu dengan orang yang selama ini diceritakan Mirna, terutama setiap kali mereka menyusuri supermarket itu. Meski baru ketemu, keduanya sangat akrab. Maklum, Marni orangnya sangat friendly. Toni juga begitu.

Rupanya Toni tidak hanya friendly, tetapi juga playboy. Tatapan dan lirikan matanya seakan ingin menelan habis tubuh Marni yang molek dan modis itu. Ia seakan lupa bahwa esok pagi ia akan mengucapkan janji sucinya untuk Mirna, belahan jiwanya yang telah enam tahun merangkai kasih dengannya. Ia seakan tak peduli bahwa Marni adalah kembaran Mirna, meski ia tahu itu.

Ia mulai menyusun rencana untuk mendapatkan Marni. Ia mulai memprediksi waktu yang tepat untuk beraksi.

“Hanya hari ini kesempatanku, esok sudah lain cerita,” gumamnya dalam hati. Barangkali begitulah pola pikir para playboy.

Setibanya di supermarket itu, Marni mulai mengeksplorasi semua tempat penuh kenangan indah bersama Mirna itu. Masa kecil hingga remaja bersama Marni di sudut-sudut kecil supermarket itu membuat Marni tidak lelah menapaki satu per satu.

Toni hanya membuntuti kembaran calon istrinya itu ke sudut mana pun ia bernostalgia. Selain karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada Marni, ia ingin memastikan saat yang tepat untuk mendapatkannya. Meski sangat lelah, Toni tidak peduli dan tak mengeluh sedikit pun, karena rencanya sudah matang untuk mendapatkan Marni hari itu juga.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tiba-tiba saja Marni tergelincir dan jatuh. Marni pingsan dan tak sadarkan diri. Ternyata setelah hampir seharian berjalan kaki di bawah terik matahari membuat daya tahan tubuh Marni terguras habis, apalagi ia tak sempat makan-minum apapun sejak pagi tadi.

Awalnya memang Toni panik. Segera dibopongnya tubuh Mirna yang molek itu ke dalam mobil sedan hitam itu, lalu segera dilajukan ke arah rumah sakit terdekat. Namun, ketika hampir tiba di rumah sakit tersebut, Toni kemudian berubah pikiran.

Ditatapnya tubuh modis itu, lalu tiba-tiba saja mobil dibelokkannya ke lorong sempit itu, dan diarahkan ke sebuah hotel yang tak jauh dari situ.

“Inilah kesempatanku!” ucap Toni meyakinkan keputusannya.

Di dalam hotel itu, Toni memuaskan seluruh hasratnya. Ia tak peduli bagaimana keadaan Marni sekarang. Juga ia tak mau tahu bagaimana kabar Mirna di rumah sekarang. Satu-satunya yang dipikirkan hanyalah menuntaskan semua rencananya.

Ketika sudah siuman, Marni mendapati dirinya tak berbusana. Namun semuanya telah terjadi. Raung tangis dan benci memecah kamar nomor 12B hotel itu. Namun semua itu tidak artinya.

Segera Marni menelpon Mirna untuk mengadukan tindakan bejat calon suaminya. Sayang sekali, Mirna justru membentak dan mempersalahkannya. Mirna menuduh Marnilah yang telah memperdaya calon suaminya dengan kemolekan tubuhnya yang modis itu. Mirna tak menyangka saudari kembarnya tega berbuat demikian padanya.

Mirna sungguh benci pada Marni. Ia tak mau memaafkan Marni, karena telah membuatnya sakit hati menjelang hari bahagianya. Karena itu, ia melarang Marni menghadiri acara pernikahannya esok pagi. Bahkan ia mengusir Marni keluar dari rumahnya malam itu juga.

Marni membopong koper pakaiannya malam itu juga menuju bandara. Ia terbang kembali ke Australia jam tiga dini hari, ketika Mirna kembarannya itu sedang mempersiapkan diri menuju tempat pernikahan. Di dalam pesawat, Marni terus menangis sambil menatap tanah air tercinta Indonesia dengan hati pilu.

“Biar Tuhan sendirilah yang menjadi saksi di antara kita!”

Hanya itulah kalimat yang terurai dari bibir Marni setiap kali ia mengingat Mirna, Toni dan Indonesia.