Laga seru “El Clasico” jilid pertama musim ini akan tersaji pada malam ini (24/10) di markas Barcelona, Camp Nou. Barcelona sedang on fire setelah menang telak melawan Ferencvaros di ajang Liga Champions kemarin. Sementara rival abadi mereka, Real Madrid dalam dua laga terakhir menelan kekalahan berturut-turut.

Rivalitas kedua tim raksasa Eropa ini telah berlangsung lama sejak 1902. Selama itu pula El Clasico telah melahirkan banyak kisah, insiden dan kenangan yang membekas dalam ingatan para pencinta sepak bola. Salah satunya yang paling kontroversial adalah insiden ‘Cabeza de Cochinillo’.

Insiden tersebut merujuk pada satu nama, yakni Luis Figo. Ya, legenda asal Portugal tersebut pernah memperkuat skuat Blaugrana selama lima musim sebelum akhirnya membelot ke Real Madrid pada Juli 2000 dengan banderol sebesar 62 juta euro.

Selama memperkuat Barcelona, Figo cukup diidolakan oleh para Cules mengingat torehan trofi yang telah ia raih selama berseragam Blaugrana. Mulai dari dua gelar juara La Liga dan Copa del Rey, Piala Super Spanyol hingga UEFA Cup Winners’ Cup dan Piala Super Eropa telah ia berikan kepada publik Camp Nou. Tak ayal kepindahannya tersebut lantas menyulut emosi para fans Barca karena Figo dianggap telah berkhianat.

Tepatnya pada 23 November 2002, Barcelona menjamu Real Madrid dalam lanjutan La Liga musim 2002/2003. Laga berlangsung sengit dan panas. Sampai suatu ketika Figo akan mengambil corner kick, banyak benda yang dilontarkan dari tribun ke arah pemain kelahiran Almada tersebut.

Dari botol kaca, bola golf sampai yang paling mencolok mata adalah penggalan kepala babi atau yang dalam bahasa Spanyol disebut dengan Cabeza de Cochinillo. Kepala babi merupakan representasi kekejaman dan kebengisan sebagaimana diceritakan oleh William Golding dalam karyanya yang berjudul “Lord of Flies”. 

Dalam novel yang turut mengantarkan Golding meraih Nobel pada 1983 tersebut, dikisahkan tokoh bernama Jack dan pengikutnya yang berburu babi dan memenggal kepala babi tersebut untuk kemudian dijadikan ujung pada tongkat yang selalu mereka bawa sebagai simbol kegarangan komune mereka. Demikian pula yang dilakukan oleh publik Camp Nou yang kecewa atas keputusan yang dilakukan Luis Figo.

Insiden kepala babi tersebut mengejutkan kubu Real Madrid yang menilai tindakan tersebut berlebihan dan sudah kelewatan. Melihat situasi tersebut, Raul Gonzalez selaku kapten Los Merengues lantas berdiskusi dengan wasit Medina Cantalejo. Raul lantas menginstruksikan para koleganya untuk melakukan bentuk protes dengan berjalan keluar lapangan. 

Insiden tersebut membuat pertandingan sempat ditunda selama 16 menit sebelum dilanjutkan kembali. Laga tersebut berakhir dengan skor imbang tanpa gol bagi kedua tim.

Belasan tahun berlalu sejak insiden tersebut terjadi, Luis Figo memberi tanggapannya terkait insiden tersebut. Figo mengatakan bahwa ia hanya ingin melakukan pekerjaannya sebagai seorang profesional.

Banyaknya benda yang terlempar ke arahnya kala itu membuatnya sulit konsentrasi. Ia bahkan kesulitan menggambarkannya dengan jelas hingga saat ini. Lelaki yang kini berumur 47 tahun tersebut hanya mengingat botol Coca-Cola.

“Saya melihat botol Coca-Cola (sponsor Figo kala itu) yang terlempar di sudut dan mengambilnya lalu beraksi seolah-olah sedang syuting iklan,” ujar Figo dikutip dari Marca.

Terkait aksi mengambil botol tersebut, enterenador Azulgrana musim itu, Louis Van Gaal menilai Figo sengaja melakukan provokasi. Ia menganggap Figo sengaja berjalan lamban ke arah corner kick dan memicu emosi fans tuan rumah.

“Apa yang dia (Figo) lakukan itu menyulut emosi fans kami dan jelas itu ia lakukan secara sengaja dan dalam keadaan sadar,” ujar pria yang pernah menukangi Manchester United, Ajax Amsterdam, AZ Alkmar dan Bayern Munchen tersebut.

Rupanya, pernyataan menir Belanda itu memantik Figo naik pitam. Gelandang serang yang juga pernah membela Inter Milan tersebut menyebut apa yang dikatakan pelatih berusia 69 tahun tersebut tidak logis.

“Dia (Van Gaal) tidak mengatakan apa pun tentang itu kepada saya selama masih melatih saya waktu itu. Saya menyelamatkan wajahnya tidak hanya satu kali,” ucap pesepak bola yang mengawali karier di Sporting Lisbon tersebut.

Kepindahan mengejutkan Luis Figo ke Santiago Bernabeu tidak lepas dari andil masing-masing Presiden kedua klub besar Eropa tersebut. Presiden Barcelona kala itu, Joan Gaspart menuding pindahnya Figo ke Barca disebabkan faktor uang dan Real Madrid memiliki penawaran lebih besar dari yang Figo peroleh selama di Barca.

“Dia menelepon dan berkata, ‘Saya memiliki dua tiket, Lisbon-Barcelona dan Lisbon-Madrid. Sekarang terserah Anda’,” ungkap Gaspart.

Di sisi lain, Florentino Perez yang baru saja terpilih sebagai Presiden klub Real Madrid pada 16 Juli 2000 itu dianggap melakukan keputusan yang salah. Meskipun telah meminta maaf, namun Gaspart tetap menganggap manuver yang dilakukan Perez itu hanya melukai publik Barcelona.

“Dia (Florentino Perez) sama bersalahnya, bahkan bisa dikatakan lebih. Itu tindakan ilegal. Kami merasa dikhianati. Saya sudah meminta pertemuan khusus untuk membahas hal itu namun tidak ada tanggapan sama sekali,” tandas Joan Gaspart.

Kepindahan Figo ke Real Madrid dianggap hanya sebagai langkah pemanis Florentino Perez untuk memenangkan dirinya dalam pemilihan presiden klub. Mendatangkan Figo dari tim rival Barcelona merupakan janji kampanye Perez yang ingin menjadikan Real Madrid sebagai ‘Los Galaticos’. 

Terbukti selama kepemimpinannya, ia berhasil mendatangkan superstar-superstar lapangan hijau seperti Ronaldo Nazario, Beckham, Owen, Robinho, dan Zinedine Zidane.