Mahasiswa
3 tahun lalu · 546 view · 2 menit baca · Ekonomi pidato-blokzijl-speaking-at-1947-sobsi-meeting_0.jpg
Foto: en.wikipedia.org

Antara Buruh, Pemodal dan Pemerintah

Setiap tahun berulang, kaum buruh turun ke jalan, teriakannya lantang menendang. Sederhana, ada tuntutan yang belum tertunai. Lantas, mau sampai kapan? Selama kaum buruh ada dalam gerak sejarah, dan selama kebijakan pemerintah tidak berpihak padanya, maka selama itu gerakan buruh pada 1 Mei sarat makna dan harapan, ini bukan sekadar ritual gerakan seremonial belaka.

Perlu diingat bahwa kaum buruh adalah sekelompok manusia yang juga ingin hidup layak dan sejahtera, mereka bukan ‘budak’ yang dengan perilaku tiran engkau peras waktu dan tenaganya, lantas mereka diupahi dengan imbalan ala kadarnya, minimum, tidak sebanding dengan apa yang mereka kerjakan di setiap hari kerjanya.

Sebenarnya, apa yang mereka permasalahkan, jawabannya adalah upah. Upah adalah hak buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

Upah layak adalah kata kunci dari problem yang selalu disuarakan oleh kaum buruh. Dan simpul gerakannya akan berujung pada term ‘kesejahteraan’ di saat apa yang mereka kerjakan sebanding dengan apa yang mereka dapatkan, dan di situlah prinsip-prinsip keadilan nyata adanya.

Memang benar bahwa ini perihal buruh dan majikan. Kedua belah pihak itu saling berikat janji untuk membentuk relasi kerja. Dalam hal itu, selayaknya pemerintah menjadi pihak penengah sebagai medium untuk memberikan solusi yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak, dengan jalan memberi kebijakan melalui Undang-Undang.

Nyatanya, kehadiran pemerintah yang ikut terlibat dalam relasi antara buruh dan majikan masih berat sebelah, kebijakannya lebih pro ke pemodal dan merugikan kaum buruh. Masih terdapat ketimpangan sehingga kesejahteraan kaum buruh masih jauh api dari panggang. Mereka terabaikan, minim perhatian, tuna kasih sayang.

Sebut saja Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan yang disinyalir menjadi salah satu paket kebijakan ekonomi jilid IV Jokowi yang lebih berpihak kepada kepentingan pemodal (majikan) dan mengorbankan nasib kaum buruh untuk medapatkan upah layak.

Peraturan tersebut juga bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang secara prinsipil memandatkan bahwa setiap buruh (pekerja) berhak memperoleh penghasilan untuk memenuhi penhidupan yang layak bagi kemanusiaan dan juga pengupahan harus melindungi nasib kaum buruh.

Namun dalam PP 78 ini, pemerintah tidak memenuhi prinsip penghidupan yang layak bagi para kaum buruh.

Sekali lagi, dalam relasi kerja antara pemodal dan buruh, pemerintah lebih berpihak kepada siapa? Jika faktanya lebih berpihak kepada pemodal, maka janji kampanye Jokowi-JK tahun 2014 yang lalu; “mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju, dan sejahtera,” adalah hanya sebatas angin surga belaka.

Saya hanya ingin menyarankan, negara dan pemerintah harus hadir sebagai penengah antara dua unsur kepentingan; pemodal dan buruh. Kebijakan yang adil tentu akan memberikan kepuasan di antara kedua belah pihak. Tiada pihak yang dirugikan apalagi terzalimi. Namun, selama masih ada yang lantang menyarakan keadilan di jalanan, maka pemerintah sudah bertindak sewenang-wenang dan sarat ketiranian.

Nurcholish Madjid di dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan, bab Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi menyatakan: “Kemiskinan dalam masyarakat dengan pemerintah yang tidak menegakkan keadilan adalah merupakan perwujudan daripada adanya kezaliman.”

Alhasil, selama upah buruh jauh dari kata ‘layak’, maka di situlah perbudakan masih nyata. Sedangkan keadilan akan menjadi sebuah prinsip yang selamanya menjadi ‘hantu’ bagi pemerintah yang bertindak layaknya thaguth.

Selamat Hari Buruh 2016!!!

Artikel Terkait