25685_57936.jpg
WallsDesk.com
Cerpen · 3 menit baca

Antara Aku, Luna, dan Orang yang Suka Menggaruk Kepalanya

Malam itu, seperti biasa, tak ada yang istimewa selain raut muka Selena atau Luna—orang Romawi menyebutnya—yang semakin durjana dengan jumlah hari bulan yang mencapai lima belas. Sempurna. Purnama, itulah yang biasa kusebut. 

Angin sedang tak enak badan sehingga tak mau keluar dari lembahnya yang nyaman. Bintang-bintang pun tak ingin mengganggu Luna yang sedang bermuram durja sehingga tak tampak di kanvas semesta yang biasa kusebut langit. Sepi. Itulah malam yang kusebut hari ini.

Sewaktu aku sedang merenung kepada Luna tentang hal yang mengganggu malam purnamanya, datang temanku dengan segelas kopi hitam. Mengambil tempat di sebelahku, meletakkan kopinya di depanku. Minumlah artinya. Kuhirup perlahan aroma kopinya. "Hhh, kapal api ternyata,” kukatakan dalam hati. Kuseruput pelan-pelan dan ternyata benar, 3+1.

“Wahai sengkuni, izinkan hamba bertanya tentang kegelisahan hati ini,” ujar temanku.

“Silakan, mijn vriend,” kataku.

“Jadi begini, pernahkah kamu merasa bahwa dunia ini benar-benar sepi?”

“Hmmm, mungkin pernah. Kenapa?”

“Kapan itu?”

“Mungkin ketika sebelum kamu datang membawakan segelas kopi kapal api yang terlalu banyak gula, saat itulah aku merasa sepi. Seakan-akan aku sedang mendengarkan curhatan Luna yang diputus kekasihnya. Hening dan tenteram. Itu salah satu contohnya.”

“Apakah mungkin menjadi sepi kamu bisa mengerti tentang hakikat kita dunia ini?”

“Hmmm, pertanyaan menarik.” Sambil kuusap daguku walaupun tidak ada yang perlu kuusap. “Bisa jadi, karena Gautama juga akan melakukan kesepian di hutan belantara selama enam tahun untuk tahu mengapa dia bisa hidup mewah di tiga istananya sedangkan yang lain menderita karena alasan yang tak berguna.”

“Tapi bukankah dengan kesepian kita tidak tahu kenyataan masyarakat seutuhnya?”

“Mungkin benar, tapi juga terkadang salah. Sebagian orang mungkin tidak bisa hidup tanpa adanya lingkungan sosial, tapi apakah kamu tahu bahwa terkadang kita perlu untuk menarik diri dari keramaian sosial agar kita tahu bahwa lingkungan sosial tidak hanya menyangkut jiwa dan raga manusia?

Kita bisa merasakan bagaimana deru ombak itu adalah teriakan aktivis poseidon tentang keresahan masyarakatnya yang dicemari oleh zat-zat kimia yang senyawa ataupun tidak. Kita bisa merasakan hembusan angin di sore hari sebagai rintihan bayu yang mengeluh dengan asap-asap kendaraan dan pabrik yang selalu bergeming ketika diprotes. Rumput, tanaman, bahkan anjing pun juga mempunyai aktivisnya sendiri. Itulah fungsi kita menyepi untuk mengetahui bunyi-bunyi yang selama ini bersembunyi di balik canda guraumu yang buat mereka itu tidak lucu.”

Temanku merenungi sejenak dan menggaruk-garuk kepalanya padahal tidak merasa gatal. Sekarang arah tatapannya menuju ke Luna. Dia mungkin mencoba untuk berbicara kepadanya atau paling tidak mencoba membaca raut wajahnya.

“Wahai sengkuni, apakah masyarakat itu?” tanyanya lagi.

“Masyarakat adalah kumpulan organisme tunggal,” jawabku

“Berarti tidak hanya manusia?”

“Betul sekali, temanku. Coba kau lihat itu lebah, semut, kawanan serigala dan heyna, dan juga padi yang tertanam di sawah yang sejauh mata memandang akan penuh makna yang dalam. Mereka juga masyarakat. Bahkan kecebong pun juga termasuk di dalamnya.”

“Apakah mereka juga memikirkan hal yang sama dengan yang kita pikirkan?”

“Tentu saja. Sayang, kita kurang menyadarinya.”

“Kira-kira apa pendapat mereka tentang kita?”

“Mungkin mereka berpendapat bahwa kita adalah makhluk Tuhan yang paling lucu dan suka melucu.”

“Mengapa demikian?”

“Coba kamu perhatikan bagaimana tingkah laku kita sebagai hambaNya yang katanya paling sempurna. Kita suka merebutkan hal yang remeh, kita suka mempertengkarkan hal yang tak sebanding dengan apa yang kita pertengkarkan, kita menginginkan sesuatu yang tak begitu penting untuk diinginkan, pokoknya yang kita sebut sebagai tragedi dalam hidup kita, menurut mereka adalah sebuah komedi yang tak laku di box office, tapi mereka terpaksa membeli tiketnya.”

“Bisa kamu jelaskan contoh spesifiknya?”

“Mungkin kamu bisa mencarinya sendiri. Karena hal-hal itu sudah sering kamu lihat di media sosial tapi kamu tidak menyadarinya.”

“Ooh, begitu. Tapi tunggu dulu, itu, kan, hal yang wajar dan juga lumrah? Kita sekarang berada di zaman post-industrialisme, bung. Kamu mau mencoba kembali di zaman pisau dapur masih menggunakan batu depan rumah?

“Tentu bukan begitu. Saya juga menyadari bahwa hidup ini paradoks, maka dari itu cobalah jangan palingkan mukamu dari Luna, lihat tatapan matanya yang mendayu-dayu itu.”

Sesaat temanku ini mencoba mendongakkan kepalanya untuk menatap si Luna. Sekali lagi dia menggarukkan kepalanya, tapi kali ini memang ada yang perlu digaruk. Sesaat dia memejamkan matanya lalu menggaruk kepalanya lagi. Dia berpikir, atau paling tidak dia mencoba berpikir.

“Wahai sengkuni, yang kulihat dari Luna cuma cahaya purnamanya. Kurasa tidak ada keluh kesah darinya.”

“Mungkin kamu kurang menatapnya dalam-dalam sehingga kurang kelihatan dalamannya."

“Coba kamu bisa tidak hilangkan kata-kata metafor dalam kalimatmu itu? Jangan sampai aku menggaruk kepalaku tanpa sebab yang bikin gatal.”

“Hahaha, kata metafor itu mengandung makna bahwa kamu berhak untuk menginterpretasinya, kawan.”

Lalu sejenak ia terlihat seperti menahan tangannya agar tidak menggaruk kepalanya. Kini ia mengerutkan dahinya. Lalu dia mengambil kopi yang ada di sampingku dan membawanya pergi bagai angin berlalu. 

Lalu kulihat dalam kostan dia menyalakan rokok dengan posisi jongkok. Sesekali aku lihat dia menggaruk kepalanya dan mengerutkan dahinya. Tidak lucu, bukan?