79075_29093.jpg
Pixabay
Cerpen · 3 menit baca

Antara Aku dan Kalian

Aku. Hanya ada aku dalam aku. Berkutat pada aku semata. Sebab, di luar sana mereka sudah terpapar polusi kebenaran semu. Jadi aku berusaha untuk tetap ada di dalam aku. Lagipula, ada hal menarik apa di luar sana? Paling-paling hanya bentuk perlawanan berujung petaka. 

Karena ini adalah ceritaku, jadi semuanya murni dari aku. Aku adalah kalian. Kalian adalah aku. Kalian yang menciptakan aku. Dan aku yang menicptakan kalian. Aku hanya melihat kalian dari kaca mataku. Kalian juga pasti seperti itu? Jadi aku dan kalian adalah sama. 

Karena ini adalah ceritaku, jadi semuanya murni dari aku. Aku ini siapa? Aku adalah aku yang kadang aku kenal dan bisa tiba-tiba lupa. Jadi aku yang berada di dalam aku kadang suka tersasar dalam labirin bangsat yang kalian ciptakan. 

“Hei aku, kenapa bawa-bawa kami?” Kalian marah. 

Karena ini-sekali lagi-adalah ceritaku, jadi semuanya murni dari aku. Dan memang kalian lah yang membuat aku menjadi aku yang aku pun tak tahu aku siapa, mau apa, harus bagaimana dan seperti apa? 

“Kalian adalah aku, kenapa seperti itu saja harus bingung?” Kalian tersenyum. 

“Aku ini sejatinya sedang berbicara dengan siapa? Dengan aku? Atau dengan kalian?” Timpal aku. 

Kalian tidak menjawab. Lagi-lagi aku berhadapan dengan aku seorang. Ternyata ada kalian itu lebih menyenangkan. Tapi tidak selalu, aku salah. Kalian justru kadang membuat aku hanya terus tersasar dalam diriku. Sulitkah memberi jalan ke luar? 

Secara nalar harusnya aku tahu siapa aku. Seperti yang sudah aku sempat utarakan, aku itu berkutat pada aku semata. Aku. Hanya ada aku dalam aku. Namun, kenapa aku terkadang merasa tak yakin akan sosok aku sendiri? 

Mungkin aku terlalu bodoh. Berjalan di dalam aku, tapi tidak bisa menemukan aku. Aku sangat yakin tak mungkin aku menemukan aku di luar sana. Pasti ada di dalam. Bersama dengan kalian. 

Ah! Aku tahu! Pasti kalian yang menghalang-halangi aku untuk mencari siapa aku.

“Hei aku, kenapa bawa-bawa kami lagi?” Kalian kembali. 

“Kalian berisik!” Aku marah, kalian lalu hilang. 

Kalian memang suka hilang. Seperti itu lah kalian datang dan pergi sesuka hati tanpa peduli kepadaku. Aku sudah maklum. Aku mengerti kenapa kalian suka seperti itu. Beda denganku yang tak mau pergi dari dalam aku. 

Mungkin juga karena kalian sebenarnya aku butuhkan. Jadi tanpa aku sadari aku berkutat pada aku semata. Aku. Hanya ada aku. 

Jangan-jangan aku harus menunggu waktu. Terlampau lama, aku sudah lelah. 

“Memang kalian tidak lelah ya?” Tanya aku, kalian masih hilang. 

Aku ingin hilang. Sepertinya hilang lebih menyenangkan daripada tersesat di labirin bangsat. Kalau tersesat pasti masih terus berusaha mencari jalan ke luar. Kalau hilang, serahkan saja kepada kepasarahan. Aku pasti bisa—walaupun tak terlalu yakin. 

Kira-kira kalian itu bisa dibunuh atau tidak? Kalau bisa, ketika kalian nanti kembali, aku akan siap-siap membunuh. Aku tidak mau sampai aku yang harus meregang nyawa dalam aku karena sikap keji kalian. 

Lama-lama aku tersadar. Ternyata tak hanya di luar sana yang sudah terpapar kebenaran semu. Di dalam sini kebenaran semu juga ada. Meskipun aku yakin kalau di dalam sini perlawananku tak berujung petaka. 

Kalau aku dibunuh kalian, kalian juga pasti akan mati terpapar kebenaran semu. Tunggu saja sampai penyakit mematikan seperti kanker otak atau mungkin penyakit jiwa menggerogoti kalian dengan lembut. Jadi perlawananku jelas tak akan sia-sia. 

Kalau Tuhan mengizinkan, aku ingin bertemu dengan aku yang aku anggap itu adalah aku sebenarnya. Aku berdoa agar kalian tak buru-buru membunuhku. Setidaknya tunggu sampai aku tahu kalau aku ini siapa, mau apa, harus bagaimana dan seperti apa? 

Ah sudahlah! Kalian tak kembali lagi. Kalau sudah hilang seperti ini rasanya jadi kurang seru. Aku akan istirahat dulu saja. Di ujung labirin bangsat sana terlihat pohon akasia. Tempat yang nyaman untuk memejamkan mata sambil menunggu kalian kembali. 

“Jika kalian mencari aku, aku sedang beristirahat di bawah pohon akasia. Kalian pasti hafal labirin bangsat ini, jadi tak mungkin kalian tersesat” Aku teriak. 

Baiklah aku akan rehat sejenak. Karena ini adalah ceritaku, jadi semuanya murni dari aku. 

“Persetan dengan kalian! Enyah sana!”