Mahasiswa
2 tahun lalu · 188 view · 6 min baca menit baca · Lainnya img_20160916_125330.jpg

Antara Aku, Calon Mama dan Rokok

Sekali lagi apa yang aku persoalkan bukan lagi harga gincumu yang selangit itu say, bukan. Aku ikhlas perihal semua itu, asal kamu senang. Pun apa saja yang kamu mau pasti akan aku belikan, asal bibir tipismu itu tidak ngedumel. Gerah aku say, kalau kamu ngeroweng terus. Sumpah...

Namun saya geli sekaligus getir, ada nada tidak terima teruntuk kalimat dari lambe tipismu itu, jika saja tidak ada undang-undang kekerasan, sudah ku amplas bibirmu itu. Saya paham, saya tau; seperti kebanyakan cewek yang tidak suka notok dan anti dengan cowok perokok dengan seribu satu alasan tetek mbengek, aku paham betul. Namun alangkah baiknya lambe tipismu itu buat ngecup pipiku ini daripada repot-repot ngedumel di depanku. Toh prinsipku tetap teguh.

Kamu tau say, adekku yang masih bau puting bisa ngomong begini "Ngerokok mati, nggak ngerokok juga mati, mending ngerokok sampai mati"

Awalnya aku geleng-geleng, sebegitu cepatnya informasi menjalar, tanpa pandang bulu siapa yang diberi pemahaman, entah itu sesat atau ngawur bukan lagi hal penting, yang jelas bisa naik rating.

Sebagai cowok yang anti main kasar, dengan bahasa halus pun aku tak mau memperkeruh perdebatan tak berbuah berkah ini say, paling endingnya juga aku yang salah. Kamu pasti tau itu, sampai kapanpun cewok dimata cewek tetep salah, dan kamu yang selalu benar. Oh Tuhan, mana belas kasihmu...

Adindaku sekaligus calon istriku yang baik hatinya, kritis nalarnya dan se-samudra ilmunya. Jangan menunjukkan kebodohanmu sebagaimana kaum pengekor di media yang notabenya kaum unyu-unyu itu. Tolong adinda, anggap saja ini surat penabalan atas pahamku yang tak daku sampaikan di depan indramu. Pun jika kusampaikan alangkah mencak-mencaknya dirimu, luka cakarmu yang kemarin saja masih membekas di perutku, apakah engkau tega oh dinda.

Duduklah, resapilah apa yang akan aku tuturkan padamu. Jika engkau mau rumah ambil koncinya, jika engkau mau mobil ambil kontaknya, jika mau ambil uang ambil atm-ku saja, tapi kalu kau mau "gembok" (bahasa madura) tolong copotin secara berurutan, mulai ikat pinggang, celana dan yang terakhir tameng supermen. Tapi jika selepasitu engkau mau merokok, ingatlah aku juga perokok, impas bukan.

Aku merokok karena aku sadar, amalku di dunia ini masih sak iprit sayang, bukankahkamu bilang sebagaimana layaknya kita yang cukup beruntung daripada mereka, kita wajib beramal dengan apa yang sekiranya kita punya. Seperti halnya engkau kini sudah nyar'i pun nyunah yang engkau dengungkan itu semata-mata untuk beramal dan mengamalkan apa yang seharusnya kita amalkan. Aku juga ingin beramal dengan carakusendiri sayang.

Taukah engkau wahai pujaanku, semua itu adalah untaian sistem kehidupan beserta dunia yang menaunginya. Kamu tau say kenapa dunia ini bulat, tak lain tak bukan untuk membuka kepekaan kita perihal gambaran akan falsafah kebulatan, yang identik dengan keterikatan antara satu dengan yang lainya. Seperti halnya sistem rantai makanan, jika hilang satu saja maka geger adalah ending yang sudah tertera di depan mata. Hidup ini bukan cuma hitam putih say, tapi warna-warni.

Sekalilagi duduklah dengan damai, sebelum aku mendoakanmu beristirahat dengan damai. Sebagimana aku yang sudra ini say, aku hanyalah manusia yang dianugrahi kemanusian, dimana kemanusian yang aku miliki ini untuk memanusiakan manusia yang lain, tanpa pandang bulu.

Kamu tau say, orang tuaku adalah petani, untung saja generasiku bukan lagi bertani, karena orang tuaku ingin anaknya tidak soro seperti beliau, namun aku kecewa dengan statemen seperti itu. Jika saja semua seperti aku, lantas petani masa depan siapa yang akan melanjutkan, apakah suatu hari nanti biji padi bisa diperoleh dari selain bertani, apakah kata-kata yang selama ini kususuan menjadi buku bisa dimakan layaknya padi? Secara benda tentu tidak namun secara barter bisa saja, klasik benar.

Aku iba say dengan mereka, setidaknya selagi aku mampu, biarkanlah aku membantu mereka dengan caraku sendiri, toh kontribusiku juga buat orang banyak. Bukan lagi selingkup keluarga kita nanti.

Say, kamu tau kenapa aku merokok. Aku ingin merangkul petani; khususnya petani tembakau, jika saja orang sok mampu seperti aku ini tidak merokok, dan jika tidak adayang merokok, dengan alasan atau dasar apapun itu, bagaimana nasib para petani tembakau yang hidup mereka bersumber dari lembaran-lembaran daun tembakau, apakah kamu tau say, ngurip-uripi tembaku lebih sulit daripada ngurip-uripi bayi.

Banyak pantangan say, dan hanya musim tertentu si kuncup tembakau bisa bersemi, jika saja terlalu banyak hujan sudah pasti merugi, pun setelah panen, ya Alloh say. Le ngeman-eman koyo emakmu ngopeni raimu sing saiki sok kemayu kui.

Nggak sampe sakmono say, sampai detik ini persoalan terbesar negeri ini perihal ekonomi yang tentunya berimplikasi kepada nasib para buruh, matamu opo nggak melek kalau tiap tangal 1 mei buruh turun ke jalan semata-mata demi keberlangsungan nasib mereka, miris say. Kamu tau kenapa, tak lain demi sesuap nasi say lebih-lebih bisa nyandang, amin lagi kalau bisa kpr papan.

Sekali lagi buruh say, buruh. Matamu opo ndak nyawang kono kene PHK lan PHK.. opo ndak mesakne ndok cah ayu, calon istriku..

Makanya, kalau menjudge pangeran tampanmu ini ojo sak penak ucul cawet. Secara nggak langsung aku ini pecinta buruh say, ya walaupun kecil setidaknya kontribusiku bisa membuat para buruh terus ngelinting rokok.

Selepas itu, lihatlah asap dapurnya mengepul-kepul. Ku tabalkan lagi ya say biar jelas, jika orang perokok seperti aku ndak merokok, implikasinya kepada produksi rokok say, nah kalau pembelian menurun kan pabrik bisa bubar, PHK sudah di depan mata, terus nek bubar sopo sing jadi korban, buruh say buruhhhh matamu nyawango...

Maaf sayang aku tak bermaksut kasar, kamu ingat ngak. Pas acara kurban kemaren, itu saudaramu berkoar sampe njedir membaggakan putri semata wayangnya bisa masuk fakultas kedokteran, yang kita tau, biayanya bisa buat beli gincumu lima tahun kedepan, bangga kan bisa masuk sana, calon ahli paru-paru pisan.

Bukan aku tidak bangga say, seperti halnya aku tetap bangga akan title mu S.sos. tapi empatimu tak beda jauh sama nenek kaum bar-bar.

Kamu tau say, di bungkus rokok tertera penyakit maha elite; bisa dibilang rokoklah penyumbang penyakit sekelas vviv itu, kira kira bahasanya begitu, ada kanker, jantung, paru-paru beserta penyakit tetek mbengek lainya.

Apa mata kamu buta, apa kupingmu tuli jika penyakit itu mengalokasikan dana nggak sedikit, jadi jangan mbacot soal perokok. Karena kami (perokok), keponakmu itu suatu hari nanti bisa beli pajero, bayangkan jika tidak ada penyakit se-elite itu, paling tenaga medis pekerjanya cuma ngasih pil bodrek, la kapan sugih e keponakanmu say.

Sebagai manusia yang nyosialis sok humanis sok empati tingkat tingi, aku sebagai perokok ikut senang melihat para bunda yang tersenyum banga dengan putra putrinya bisa bekerja di bumi kesehatan, mulai dari perawat sampai ahli tetek mbegek. Jadi, masihkah kau mengagapku calon imam--mu yang jauh dari sosial-humanis say?, secara tidak langsung kami para perokok yang memberi pekerjaan kepada keponakanmu yang dibangakan selangit oleh ibundanya itu.

Say, capek harus begini; oh ya gimana sekarang jalan kerumahku enak to, tidak sepertti dulu yang gronjal-gronjal, makadaman. Kamu harus tau, sumbangsih kami para perokok ada di setiap kenikmatan perjalanamu say, kamu tau say. Pendapatan daerah terbesar selain tambang adalah pajak rokok, jika saja tanpa pajak rokok yang selangit, daerah ini (jawa timur) ini ngak akan sugeh-sugeh banget.

Jadi jangan sepelekan kami para perokok, jangan seperti kaum berkepala onta itu, ini haram ini tapir ini wahyudi. Saya kok heran, kamu juga, koar-koar ngerokok saja haram, haram ndasmu kui. Kamu tau haram itu korelasinya begitu fatal jika diterapkan, karena menyakut ketakwaan dan iman.

Jika saja semua takwa plus iman notok 100% dan lurus tanpa belok. Menghindari haram 100% bagaimana nasib rokok, apa tidak kukut. Lalu sekian ribu pegawai mau makan apa? Pajak daerah mampet, daerah sumpek, lalu aku tanya say, apakah kelompok yang mengharamkan bisa memberi lapangan pekerjaan, setelah mereka keluar, apakah bisa menghidupi/menjamin anak istri mereka.

Klasik sekali say, seharusnya bapak-bapak yang terhormat ini melihat berbagai koordinat yang dilalui jaring-jaring sistem perokokan nasional. Bukan njeplak sak penak udel e dewe...

Ah, muruh benar mulutku malam ini say, jika saja semua ini aku ucapkan di depanmu, apakah orang tidak menyetemple diriku dengan ustad karbitan yang sedikit-sedikit tapir, haram, wahyudi dan tetek mbengek nyari dan nyunahnya itu.

Mengekor gus Mul, mungkin aku harus berdoa kepada Tuhan, agar mereka yang kolotnya minta ampun ini diberi ekstasi...

Artikel Terkait