Peneliti
2 tahun lalu · 815 view · 5 menit baca · Media noam_chomsky_.jpg
Noam Chomsky (Foto: Wikimedia Commons)

Antara Aksi Massa, Media Massa, dan Noam Chomsky

Akhir-akhir ini, aksi massa yang biasa orang menyebutnya dengan kata “demonstrasi” atau lebih lebih pendek lagi, hanya dengan menyebutnya “demo” saja, menjadi pemandangan menarik sekaligus mencengangkan bagi pemirsa televisi khususnya.

Sebagai contoh, aksi massa 411, terkait Ahok yang menjadi korban dalam kasus penistaan agama, menjadi tontonan spektakuler dengan jumlah massa yang menyesaki jalan-jalan protokol DKI Jakarta mencapai angka dua jutaan orang lebih.

Iring-iringan lautan manusia berbaju putih, berjubah putih, bahkan bersorban kepala putih, dari berbagai penjuru tanah air, bergerombol merangsek ke sebuah titik sentral yang menjadi simbol negara, yaitu istana negara (4/11). Beberapa utusan dari mereka, yang diwakili para kiai, ustaz dan alim ulama, bermaksud menemui sang presiden, namun sayang, Jokowi tak berkenan dijumpai dan ia hanya mewakilkan kepada Jusuf Kalla, sebagai pembantunya.

Kekecewaan menghampiri mereka, karena tak bertemu langsung dengan orang nomor satu tersebut. Jawaban yang diterimanya, setelah pertemuan berakhir, kasus tersebut akan segera ditindaklanjuti oleh pihak berwajib, yaitu Polri, maksimal dalam dua minggu ke depan.

Jelang satu hari setelah gelar perkara (15/11), akhirnya mereka mendapat titik terang dan angin segar sementara bahwa pelaku penista agama, Ahok, diumumkan ke publik menjadi tersangka dalam kasus tersebut.

Keengganan Jokowi untuk ditemui utusan dari para aksi massa 411 tersebut, memunculkan beberapa spekulasi yang menambah kegeraman mereka. Jokowi dianggap pemimpin tak berani, penakut, pelindung Ahok, dan sejumlah sebutan negatif lain yang keluar dari mulut mereka.

Karena dianggap keterlaluan terhadap presiden, orang-orang yang mengeluarkan kata-kata kotor terhadap simbol negara tersebut, salah satunya Ahmad Dhani Prasetyo, dilaporkan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan organisasi masyarakat Pro Joko Widodo (Projo) dan Laskar Rakyat Jokowi (LRJ), karena ia dianggap telah menghina presiden (7/11).

Dalam laporannya Projo dan LRJ memasukkan Pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa, dengan ancaman penjara satu tahun enam bulan.

Apakah aksi massa tersebut berakhir di 411, karena sudah ada benang merah yang digulung, atau justru sebaliknya? Aksi massa ternyata tidak berhenti di sana; awalnya, akan segera ada aksi massa lanjutan, yakni aksi massa bela agama jilid tiga di tanggal 25 November.

Namun karena sesuatu dan lain hal, baik karena situasi dan kondisi ataupun sebab teknis lainnya, akhirnya diundur satu minggu, yakni aksi direncanakan pada tanggal 2 Desember 2016 mendatang, yang mereka sebut dengan aksi bela agama 212, bahkan ada yang memplesetkannya menjadi aksi “Jumat Sableng”, karena tanggal dan bulannya mirip dengan angka yang dimiliki sang tokoh Wiro Sableng.

Aksi massa adalah sebuah seni dalam manajemen demonstrasi. Salah sedikit saja mengelolanya, maka estetikanya akan menjadi hambar. Maka kemudian mereka mengklaim aksi seri 212 mendatang adalah aksi “super damai” sebagai bentuk jaminan bahwa objek seninya menjadi lebih estesis dan berkualitas tinggi. Mereka menjamin dalam aksi mendatang tidak akan ada insiden seperti yang terjadi pada aksi 411 dulu.

Media Massa Milik Siapa?

Media massa adalah teman setia peristiwa di mana pun adanya. Tak ada kejadian yang bisa kita baca atau saksikan tanpa kehadiran media massa. Pengaruhnya sangat dahsyat, bentuknya sangat beragam, desainnya selalu dinamis, teknologinya tambah modern dan kian mutakhir mengiringi kemajuan zaman. Kehebatan dunia bisa sangat mudah diserang dan dilumpuhkan oleh media massa tersebut.

Senada dengan pernyataan di atas, ada sebuah adagium yang menarik soal itu, “Siapa menguasai media maka ia akan menguasai dunia.” Adagium tersebut menggambarkan bahwa peran media sangat kuat dalam membentuk pola pikir manusia di dunia.

Misalnya, bagaimana serangan tentara  Israel yang menewaskan ratusan ribu ibu-ibu dan balita yang tak bersalah di Palestina, serangan Amerika terhadap negara-negara Islam di Timur Tengah yang memakan korban ratusan ribu hingga jutaan orang, dan sejumlah berita lainnya yang mengkhawatirkan nilai-nilai kemanusiaan, bisa disulap menjadi berita sebaliknya.

Serangan Israel dan Amerika terhadap negara-negara yang disebutkan di atas, media menyebutnya dalam rangka penegakan HAM Internasional. Kenapa bisa demikian? Tentu, karena media yang dipakai adalah media milik mereka. Isu apa pun bisa dipakai untuk kepentingan sang pemilik media.

Sedikit menengok sejarah masa orde baru, bagaimana rezim tersebut menggunakan media, khususnya media pemerintah, yang selalu mewartakan keberhasilan Soeharto dalam membangun Indonesia dengan program pembangunan repelitanya.

Pembangunan infrastruktur terus berlangsung di seluruh penjuru nusantara. Tak ada berita negatif yang muncul, seluruhnya berpihak pada pemerintah. Hingga bahasa pun kemudian direkayasa, diperhalus demi untuk kepentingan citra sang penguasa.

Pertanyaan yang kini muncul seiring aksi massa yang sedang tren di negeri kita, adalah; apakah media massa di Indonesia berpihak atau netral? Sedangkan televisi, surat kabar, media daring (online) dan sejenisnya dimiliki oleh para pemodal yang punya afiliasi terhadap partai atau tokoh tertentu di negeri ini.

Perang media sulit dihindari, masyarakat dibuat tak mengerti, pemilik modal asyik sendiri, menuang berita yang hanya menguntungkan diri sendiri di mana fungsi media itu sendiri, sejatinya ia memberikan informasi objektif tanpa harus takut pihak sana-sini.

Teori Noam Chomsky

Seorang tokoh utama dalam filsafat analitik, sering kali ia digelari “orang Amerika yang paling anti-Amerika dan orang Yahudi dan paling anti-Yahudi”. Awalnya ia hidup di Eropa, kemudian karena tujuan tetentu ia melarikan diri bersama orang tuanya ke Amerika Serikat dan menetap di Phildelphia. Dialah Noam Chomsky, orang yang yang dimaksud tersebut.  

Chomsky adalah seorang yang sangat cerdas sejak kecil, ia tidak hanya dikenal sebagai linguis, psikolog, aktivis politik dan ilmuwan. Ia juga seorang ahli komunikasi yang sangat piawai. Pada usia 27 tahun ia telah menjadi doktor dalam kajian linguistik, teorinya yang terkenal adalah Transformational Grammar.

Chomsky menjadi ikon yang paling utama di mana tema-tema perjuangannya adalah menentang proses penindasan kaum kapitalis melalui media massa. Teori lain yang paling mendasar yang ia rumuskan dalam bukunya, Manufacturing Consent, berisi bagaimana persetujuan masyarakat bisa diarahkan oleh media, bagaimana masyarakat bisa direkayasa untuk menerima semua berita yang disajikan media massa.

Sering kali kata manufacturing consent diselewengkan menjadi manufacturing content, yaitu bagaimana merekayasa isi media demi kepentingan para penguasa atau pemilik modal.

Semua pemimpin negara di dunia ini seharusnya membaca dan belajar dari buku Noam Chomsky tersebut. Sebab, mereka akan mengerti bagaimana negara itu menjadi korban penindasan kaum kapitalis Internasional yang di atasnya adalah Amerika.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari seorang tokoh besar dunia, yaitu Noam Chomsky, di antaranya: Pertama, bahwa dunia sekarang dikuasai oleh media massa dan ia berada di bawah kendali kepentingan dua kelompok besar, yaitu kepentingan kelompok pemerintah yang berkusa dan kepentingan ekonomi para pemodal.

Kita, kadang, merasa kala mengambil keputusan saat ini adalah keputusan pribadi padahal secara tidak sadar keputusan tersebut ditentukan oleh media massa yang dibaca. Kedua, kita harus bersikap kritis terhadap media massa, harus mau mencari sumber-sumber lain (second opinion), harus menggunakan akal sehat dalam menyimpulkan informasi atau berita yang didapat ketimbang mengikuti apa yang menjadi tren dalam media massa.