Politisi
9 bulan lalu · 772 view · 4 min baca menit baca · Buku 90518_60585.jpg
ancientrome.ru/art

Antara Akhaia dan Troya; Narasi dan Sejarah

Kisah Perang Troya

Selama ini narasi besar yang selalu dibangun dalam perang Troya tak pernah lepas dari konsepsi kehormatan Yunani Kuno. Perang Troya dilihat sebagai simbol pertarungan kehormatan antara Akhaia dan Troya. 

Narasi yang disuguhkan Homerus begitu heroik jika melihat bagaimana raja tertinggi Akhaia Agamemnon meluncurkan seribu kapal untuk menyerang Troya dan seluruh raja-raja di Akhaia bersatu demi memperjuangkan kehormatan Menelaus, adik raja tertinggi Agamemnon, yang istrinya direbut oleh Pangeran Paris dari Troya. Narasi yang tergambar di sini tentu saja bukan hanya soal kehormatan, tetapi juga solidaritas sesama suku Akhaia. Merebut kehormatan Menelaus sama seperti merebut kehormatan suku Akhaia. Heroik, bukan?

Namun jika kita mencoba keluar dari narasi besar tersebut dan melihat secara teliti bagaimana Homerus menggambarkan Perang Troya secara detail, khususnya ketika ia menceritakan para pejuang dari kedua kubu, maka akan tampak narasi-narasi kecil yang membentuk narasi besar bahwa sebenarnya mereka tak serta-merta berangkat berperang hanya untuk membela kehormatan suku Akhaia dan Agamemnon sebagai raja tertinggi atau membela Troya yang diserang. Mereka pergi berperang untuk menorehkan nama dalam sejarah. 

Bagi sebagian pejuang Akhaia, ini bukan soal menang-kalah atau hidup-mati; ini soal bagaimana mereka akan dikenang sebagai orang yang terhormat karena telah berjuang dalam medan peperangan.

Dalam buku ke-13, diceritakan bagaimana dewa laut Poseidon turun tangan membantu Akhaia yang sudah berada di ambang kekalahan karena keberhasilan Troya menembus benteng pertahanan mereka. Hingga akhirnya cucu Poseidon, Amphimacus, menghembuskan nafas terakhirnya dalam perang tiada akhir ini. Menggunakan suara Thoas, salah satu pejuang Akhaia, Poseidon mengajak Idomeneus untuk berjuang habis-habisan.


“Idomeneus, cepat, ambil peralatanmu dan pergilah. Bersama-sama, kita bahu membahu. Cukup kita berdua jika kita ingin membuat kemajuan. Pengecut yang paling buruk bersatu dan memiliki kekuatan mereka sendiri. Tetapi kau dan aku punya kemampuan untuk melawan yang terbaik!”

Begitulah yang diucapkan Poseidon kepada Idomeneus. Ajakan Poseidon yang menegaskan “cukup kita berdua” seolah menunjukkan bahwa Idomeneus adalah sosok yang berbeda dan memiliki kemampuan yang lebih dibanding pejuang lainnya. 

Setelah berbicara dengan Poseidon yang menyamar sebagai Thoas, Idomeneus menyatakan pada temannya Meriones bahwa dirinya mencintai pertempuran dan meminta Meriones untuk tidak meninggalkan pertempuran. Pada bagian ini terlihat Idomeneus termakan kata-kata Poseidon dan ingin membuktikan diri sebagai pejuang hebat dalam pertempuran kali ini.

Keinginan dewa Poseidon untuk ikut campur membantu Akhaia dalam perang kali ini mungkin saja tidak lepas dari upayanya membela kehormatan diri sendiri. Dalam pembukaan buku ke-12, Homerus menceritakan bagaimana benteng yang kini telah diruntuhkan oleh pasukan Troya akan diruntuhkan oleh dewa Poseidon dan dewa Apollo suatu hari nanti. Bisa jadi Poseidon merasa haknya untuk meruntuhkan benteng tersebut telah diambil oleh Hector dan pasukannya.

Kisah Diomedes juga merupakan contoh bagaimana perang Troya menjadi sarana untuk membuktikan bahwa ia juga bisa menjadi pejuang sehebat ayahnya Tydeus yang menaklukan benteng Thebes. Bahkan, kisah Akhilles yang meminta ibunya Dewi Thetis untuk berdoa kepada dewa Zeus agar Akhaia kalah sampai ia ikut berperang, memperlihatkan bagaimana ia sedang membangun narasi heroiknya sendiri untuk meraih kehormatan yang ia inginkan.

Pada akhirnya, yang diinginkan oleh pejuang seperti Idomeneus, Diomedes, Akhilles, Hector, dan sebagian pejuang lainnya adalah menjadi bagian dari sejarah – meski itu menimbulkan kerusakan – seperti yang dilakukan Jerman di bawah pemerintahan Nazi. 


Memang Nazi telah kalah, tetapi apa yang mereka lakukan akan sulit dilupakan dan akan selalu dikenang untuk abad-abad mendatang. Tak jauh berbeda dengan pejuang-pejuang dalam kisah perang Troya ini, bukan kalah-menang atau hidup-mati, tetapi ditulis dalam sejarah dan dikenang hingga abad-abad mendatang merupakan kehormatan atau kejayaan tersendiri. 

Meski demikian, tak semua pejuang sedang membela atau berjuang untuk kehormatan. Barangkali kehormatan hanyalah milik pejuang elite Akhaia dan Troya saja. Sebab, kenyataannya dalam buku ke-13 ini, Homerus menceritakan bahwa mereka yang tak mau ikut berperang dengan raja Agamemnon akan dikenakan denda. Meriones dan anaknya Panic melawan pasukan Trakia yang ikut berperang bukan semata-mata karena ingin membantu Troya, tetapi karena ingin berperang melawan suku Ephyrus. 

Ada pula seorang pejuang bernama Othryoneus yang ikut berperang hanya karena ia ingin menikahi puteri raja Priam. Ia tak memiliki mahar untuk menikahi putri sang raja. Sebagai pengganti mahar, sang Raja siap memberikan putrinya jika berhasil dalam peperangan.

Dalam pergulatan sebesar perang Troya, berbagai kepentingan, agenda, dan tujuan bertemu dan bersembunyi di bawah payung narasi besar. Narasi besar tentang kehormatan yang dibangun tak sepenuhnya salah dan tak sepenuhnya benar. Bisa dikatakan tak sepenuhnya salah karena pejuang-pejuang dalam perang Troya memang berusaha mengabadikan nama dalam sejarah melalui aksi-aksi heroik, namun secara bersamaan narasi yang ada juga menyembunyikan perjuangan-perjuangan individu yang turut serta beraksi dalam peperangan tersebut.

Narasi kehormatan kolektif sebagai narasi besar tetap memiliki relevansinya sendiri. Bagaimanapun juga, narasi kehormatan kolektif bahwa mereka semua berada dalam satu kapal yang sama dan sedang berjuang untuk suku dan bangsa harus terus digaungkan, setidaknya pada masa itu, untuk menyatukan berbagai kepentingan individu yang berbeda. 

Sama seperti perang pada umumnya, narasi besar memiliki fungsi pembenaran atas apa yang terjadi dalam peperangan dan penyederhanaan atas kompleksitas sosial yang memicu konflik. Lebih dari itu, narasi besar membuat Perang Troya mudah dikenang dan diceritakan sepanjang sejarah.

Baca Juga: Kontradiksi Zeus

Artikel Terkait