Air dingin khas pegunungan itu kugayung saja. Dengan keyakinan ala konsep anomali air, kuguyurkan segera di atas kepala. Dan, byurrr, segenap molekul air yang membentuk susunan heksagonal, menangkap udara lebih banyak di atmosfer, membuat sebuah rasa dingin yang nikmat; bukan sebaliknya, dingin yang hipotermik.

Menggigit memang. Namun pada guyuran kedua, seketika ada rasa panas yang menghunjam ke tubuh, menghancurkan asam laktat sisa pendakian Gunung Lawu (3265 m), selang beberapa menit sebelum air terguyurkan.

Pada kondisi dingin mendekati titik beku, air akan volumenya membesar. Setiap 6 molekul air yang membentuk heksagonal mempunyai kandungan oksigen dalam air lebih banyak daripada temperatur kamar.

Dengan anomali air ini, semua hidrologis yang membeku dalam bebatuan, volumenya akan membesar, dan mampu memecahkan formasi keras bebatuan. Anomali air sejatinya adalah pembebas. 

Dengan anomali air, mineral dalam bebatuan bisa keluar dan memberikan manfaat bagi kehidupan. Dengan kemampuan anomali ini, memungkinkan adanya proses penghancuran batuan yang terjadi secara alamiah, dan terbentuklah tanah untuk kehidupan.

Dengan anomali air, gunung es akan mengapung di permukaan laut. Sifat anomali air juga memengaruhi cuaca, keseimbangan iklim, sehingga cuaca di muka bumi tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin.

Alam banyak menyediakan peristiwa anomali sebagai pembebas. Teori iklim tropis akan geleng-geleng melihat anomali yang terjadi di pegunungan Jayawijaya, Papua, dengan puncak Carstenz Pyramid-nya yang bersalju. Inilah sebuah anomali salju di daerah khatulistiwa.

Belum lagi anomali khatulistiwa lainnya, seperti di daerah Banangar, Kalbar. Di sini, terjadilah anomali cuaca. 

Secara umum, daerah Kalbar dikenal panas sekali. Namun, di Banangar, yang berketinggian hanya 700 meter dari permukaan air laut, sama sekali tidak menunjukkan keumuman tersebut, alias sejuk.

Anomali adalah penyimpangan atau keanehan alamiah tanpa pemicu yang terjadi pada pakem yang berlaku. Anomali juga sering disebut sebagai suatu kejadian yang tidak bisa diperkirakan sehingga sesuatu yang terjadi akan berubah-ubah dari kejadian biasanya.

Begitu pun, apa saja yang terjadi di panggung sandiwara yang penuh peran, ada anomali yang disebut dengan paradoks atau disebut dengan dramaturgi. Para sosiolog menyebut dunia paradoks dramaturgi itu sebagai anomali, sesuatu yang menyimpang dari kelaziman.  

Begitu pun di dunia asmara, sering terjadi anomali. Bahkan saat seseorang merasa tak punya lagi alasan untuk mempertahankan cintanya, di sanalah cinta menampakkan keasliannya. Sebuah keteguhan di kala lelah. Sebuah kekuatan meski dilanda jengah.

Dengan anomali, beberapa hal bisa terbebaskan. Anomali mengajarkan tentang ketidakdisiplinan pada yang mengekang. Pun, di dunia perpolitikan, yang tampak bak remaja dengan masa puber tiada berujung atas desakan syahwat untuk berkuasa yang kuat menggelora, juga dihinggapi anomali-anomali.

Anomali dapat terlihat hanya dalam hitungan detik setelah pemilu usai. Gaya mereka bisa berubah dan aneh-aneh. Tepatnya, anomali ini disebut sebagai dramaturgi politik.

Dramaturgi perpolitikan adalah sebuah anomali negatif. Tendensi negatifnya terlihat dalam quote sebagai berikut:

Dalam demokrasi, seseorang yang gagal berkuasa dapat selalu menghibur dirinya dengan pemikiran akan adanya ketidakadilan (Thucydides). Penyangkalan adalah sesuatu yang wajar terjadi, saat menghadapi kenyataan yang menyakitkan (Freud).

Bagi yang sudah duduk di parlemen, bersandiwara pekak telinga dan memejam penglihatan hingga buta dan tuli terhadap jeritan penderitaan rakyat adalah hal biasa. Dan ini bukan anomali pembebasan. Individu yang berdramaturgi dalam bidang ini bentuknya bermacam-macam, seperti berpura kurang gizi dan avitaminosis, hingga mangkir, dan jarang hadir pada sidang-sidang di parlemen.

Dramaturgi adalah anomali yang dipaksakan untuk mempertahankan zona nyaman. Subjek yang berpura, beranomali untuk menampilkan nilai-nilai yang baik. 

Namun, apa yang ditampilkan, sekadar menjadi norma verbal, tidak mengalami internalisasi. Artinya, nilai-nilai baik itu tidak tertanam dalam jiwa dan pikiran untuk menghasilkan tindakan yang selaras. 

Anomali dalam dramaturgi hanyalah sekadar berhenti di tingkat kognisi dan lisan belaka. Terhenti sebagai sesuatu yang laten (terpendam) dan tidak manifes (nyata) yang mewujud dalam praktik hidup di dunia nyata. Anomali dramaturgi adalah split of personality, kepribadian yang terbelah dengan menampilkan perangai-perangai yang kontradiktif di dalam dirinya.

Karakter antara anomali pembebas dan dramaturgi jelas sesuatu yang sangat berbeda. Misalnya, aktivitas korupsi adalah hal yang biasa, justru orang atau pejabat yang tidak melakukan korupsi ini yang akan dianggap sebagai anomali.

Sedangkan dramaturgi, cenderung untuk melakukan paradoks yang bersifat negatif. 

Dramaturgi tak sekadar penyimpangan dari hal yang biasa atau umum atau kondisi mayoritas, tapi secara lebih luas meliputi penyimpangan dari norma yang seharusnya, sesuai aturan ketentuan, hukum maupun toleransi sosial dan kaitannya dengan kedudukan dan peran seseorang dalam suatu lingkungan.

Erving Goffman, dalam Presentation of Self in Everyday Life (1959), menyatakan: seseorang akan menampilkan presentasi diri di depan pentas yang serba-termanipulasi, baik diri maupun segala aksesorinya, sehingga memuaskan penonton atau khalayak umum. 

Sementara, di belakang panggung, semua drama di pentas itu diatur dan dimanipulasi sedemikian rupa, yang tentu saja publik tidak mengetahui perangai yang sesungguhnya.

Erving Goffman, melalui teori dramaturgi, mencoba untuk membandingkan dunia manusia dengan dunia teater serta menggambarkan perbandingan antara manusia di kehidupan nyata dengan para pemain atau pemeran di atas panggung.

Kenapa anomali berbeda dengan dramaturgi? Aspek pembeda yang signifikan dalam dramaturgi adalah konsep hubungan khalayak dengan individu dalam suatu waktu dan tempat tertentu.

Melalui pengelolaan kesan atau impression management dalam sebuah dramaturgi, individu harus mampu mengendalikan presentasi dirinya untuk membangkitkan reaksi khalayak terhadap presentasi yang disajikan. 

Termasuk dalam dramatugi perpolitikan, pengelolaan kesan atau impression management, serta cermin diri atau looking-glass self, merupakan bahan bakar utama dalam dramaturgi perpolitikan untuk mempertahankan zona nyaman.

Sedangkan anomali adalah pembebas tanpa dipacu dan dipicu, ia akan selalu mengimbangi dramaturgi busuk yang ricuh. Anomali adalah pembebas alamiah, ada pada alam dan hadir pada diri-diri yang merdeka.