Cinta memang harus diperjuangkan, di samping butuh pengorbanan. Jatuhnya cinta dimulai ketika menaruh harapan pada orang yang tidak dapat membalas cinta falling in love with someone you cant have. Boleh jadi, jatuhnya cinta juga diakhiri pada perasaan yang tertinggal pada seorang mantan.

Peto kembali mengunci ponsel. Merubuhkan raga yang lelah dan hati yang pilu. Perasaan senang melihat senyum lepas wisuda kawannya di feed Instagram, bercampur dengan mata yang mulai basah. 

Tapi bukan itu alasan peto menangis sayup. Melihat wajah mantannya dulu dengan pacar barunya, Peto teringat kenangan yang barangkali sudah berlalu, seiring waktu.

Pembaca yang budiman, anggap saja peto adalah saya.

Setiap orang pasti punya mekanismenya masing-masing untuk membangun pertahanan terhadap mantan. Termasuk peto yang menganggap upaya untuk memblok akun media sosial dengan ragam platform macam Facebook, Instagram atau Whattsapp adalah hal cengeng yang tidak perlu. 

Anggapan yang beralasan bahwa emosi gejolak adalah tindakan sesaat, dan pelaku yang melakukannya mungkin dicap sebagai orang menyedihkan, lebih parahnya dibilang gagal move on. Peto tidak ingin memiliki cap itu, harga diri/gengsi.

Peto ingin dilihat baik-baik saja meskipun koneksi media sosial masih menghubungkannya dengan mantan kekasih, peto yakin bisa kuat dan bertahan dengan semua itu, awalnya. Tapi ternyata keliru. Peto salah. Harga diri itu mesti dibayar mahal dengan perasaan macam ini.

Forget the past is a bullshit. Masa lalu tidak pernah bisa dilupakan, apalagi dihilangkan. Seperti iblis, kenangan tidak bisa dibunuh apalagi dihilangkan.

Alih-alih membangun pertahanan; membangun koneksi baru dengan kawan-kawan kampus, menyapa orang-orang menarik yang memiliki pandangan sama. 

Tapi nahas melupakan fondasi yang mendasarinya: memutuskan hubungan dengan mantan kekasih dalam koneksi media sosial. Rasa-rasanya, di balik pertahanan yang peto buat justru ia berbalik menantang sebagai senjata perlawanan garda depan, bukan main rasanya.

Bagaimanapun, zeitgeist (jiwa zaman) kiwari adalah teknologi mumpuni, yang mampu menghubungkan kita dengan siapa saja; termasuk mantan kekasih lewat ponsel dengan iblis bernama media sosial itu.

Lagi pula, memang siapa yang mau bertemu dengan mantan secara langsung? Tidak ada, mustahil. Jadi, lewat digital (media sosial) inilah satu-satunya jembatan yang mungkin bisa mempertemukan kembali mantan.

Dengan memahami begitu, seharusnya, peto mengamini move on era digital. Cukup sederhana, caranya membuka kanal media sosial yang di dalamnya ada kami terhubung, kemudian mencari tombol apa pun yang dapat memutus hubungan itu unfollow, unshare, block.

Sebagai penghabisan, bentuk totalitas, berdoalah kepada Tuhan yang mahakuasa sebagai Dzat pembolak-balik, agar hati ditetapkan dan diteguhkan untuk sekali-kali tidak membuka laman profil sang mantan.

Jika tidak kuat untuk menekan tombol unfollow, block misal, sekurang-kurangnya berdoalah kepada Tuhan yang Maha mengerti agar foto mantan dengan pacarnya tidak lewat dalam timeline media sosial pribadi. 

Pembaca yang budiman. Tapi mantan juga pengecualian, ia satu anomali dalam geraknya semesta misteri. Peto berandai, mampu menekan tombol block akun media sosial mantan. Juga, Tuhan mengabulkan segala doa bahwa mantan tidak muncul dalam kanal media sosial. Tapi apakah peto bangga dan bersorak senang? Mungkin tidak.

Sebab, pasti ada saat-saat menyesakan ketika kamu dan orang yang pernah kamu cintai –seperti peto dan mantan yang --dulu dicintainya itu kelak menjadi sepasang manusia yang asing. Asing di dunia nyata, juga asing di dunia maya.

Pembaca yang budiman. Mantan juga pengecualian. Ia satu pelajaran, dari sekian bentuk ungkapan untuk senantiasa berterima kasih kepada Tuhan.

Mantan menyoal memiliki –selain juga kehilangan. Ia mengajarkan untuk menjaga sepenuh hati, mensyukuri segala berian Tuhan yang Ia berkati. Apapun itu; Orang tua yang ikhlas mendidik kita, media sosial yang memudahkan relasi sana-sini, agama yang menjadi petunjuk langit untuk kita bisa hidup membumi. 

Dan, mensyukuri bahwa kita masih disekelilingi oleh orang-orang yang masih membutuhkan—dan dibutuhkan juga mereka oleh setiap pribadi kita.

Sebagaimana mantan. Hal apa pun—yang akan dan sudah kita miliki, sesungguhnya mengatakan, akan merasa ketika sudah hilang. Dengan demikian, tak ada alasan lagi untuk tidak mensyukuri segala pemberian Tuhan. Barangkali juga dia yang sudah menjadi mantan.

Oh.. terima kasih, mantan.