Sejak  Sabtu, 21 November lalu, Komunitas Salihara menyelenggarakan pameran tunggal karya Eko Nugroho. Pameran yang diberi tema "Landscape Anomaly" ini masih akan berlangsung sampai Senin, 21 Desember 2015. Bagi Anda yang ingin menikmatinya, bisa datang ke Galeri Salihara di hari Senin-Sabtu jam 11.00-20.00 WIB dan hari Minggu jam 11.00-15.00 WIB. Namun pameran ini tutup saat hari libur nasional.

Bagaimana menikmati instalasi-instalasi di pameran ini? Semua tergantung pada imajinasi dan interpretasi pengunjung. Kurator Salihara, Nirwan Dewanto, menggoreskan kata-kata di salah satu dinding ruang pameran yang dapat memberi petunjuk cara menikmati karya-karya Eko Nugroho kali ini. Berikut kutipannya:

“Kata  “anomali” yang dibubuhkan ke pameran ini mengandung beberapa lapis makna. Lanskap yang kita alami di ruang pameran adalah anomali dari berbagai komponen pembentuknya yang bersifat standar dan “alamiah”.

Atau, kombinasi dari berbagai pemandangan itulah yang menjadi anomali: apa misalnya kaitan antara pemandangan luar angkasa dan pemandangan agrarian? Tentulah kail mengail ini ada di wilayah persepsi dan tafsir sang pemirsa.

Anomali juga muncul pada elemen-elemen terkecil di ruang pamer: bila kita mengenali sosok petani (yang membawa cangkul), maka topeng harimau menyelubungi wajahnya dan tirai jamur membungkus dadanya.

Ada juga pengeras suara yang tidak mengeluarkan  suara tapi menghunus pedang-pedang. Dalam hal ini anomali berarti bahwa yang asing menimpa yang sudah akrab, yang menyimpang mengingatkan kembali apa yang normal.

Demikianlah, anomali adalah segenap potensi yang muncul dari cara kita memandang kesenian dan politik, khususnya melalui karya-karya Eko Nugroho: misalnya, mungkinkah kita berlaku subversif seraya tetap berjalin-jalin dengan yang penuh humor?  Anomali adalah komitmen untuk mengubah yang standar dengan cara yang menyenangkan dan penuh komunikasi”

Dari beberapa yang dipamerkan, setidaknya terdapat 3 instalasi yang menarik perhatian. Instalasi-instalasi tersebut adalah Fasis Franchise, Ancient Series dan Untitled (Banquet Speech).

Instalasi pertama, Fasis Franchise  dibuat tahun 2015 dalam medium serat kaca  bercat akrilik, radio kayu jati, topeng batik, bendera batik berukuran 170 cm x 65 cm x 54 cm dan ukuran bendera batik 400 cm x 114 cm.

Instalasi ini berbentuk petani memegang bendera hitam dengan muka harimau. Sambil membawa sebuiah bungkusan ia berhadap-hadapan dengan sosok yang wajahnya ditutup kain hitam bertuliskan: fasis, yang memakai celana rapi dan sepatu pantofel, mengantongi radio sambil membawa pistol.

Anomali terlihat pada patung bertubuh petani yang berwajah harimau. Wajah petani, walaupun mengekspresikan kemarahan, tidak diilustrasikan dengan wajah manusia tetapi langsung dideskripsikan dengan wajah harimau berwarna merah. Manusia berwajah harimau, tentu sesuatu yang timpang.

Sosok manusia pembawa pistol tidak dideskripsikan dalam wajah manusia dengan air muka curang, licik atau menindas namun langsung digambarkan dengan tutupan kain hitam tanpa penggambaran wajah secara utuh.  Anomali di sini dapat dilihat pada tubuh manusia yang tidak berwajah namun langsung ditutup kain hitam bertuliskan “fasis, fasis, fasis”

Bendera hitam yang digenggam petani dapat ditafsirkan sebagai simbol kedukaan mendalam dan protes, topeng (atau lebih tepatnya disebut wajah) harimau melambangkan kemarahan yang meluap tidak tertahankan lagi.

Tulisan “fasis” jelas bisa menimbulkan interpretasi penindasan. Sedangkan pistol dapat menimbulkan imajinasi simbol kekerasan, radio bisa dipersepsikan sebagai sarana propaganda dan celana rapi serta sepatu pantofel dapat ditangkap sebagai simbol sesuatu yang terorganisir.

Sehingga instalasi ini secara singkat dapat diinterpretasikan sebagai petani yang sedang berduka dengan membawa amarah memuncak akibat ketidakadilan penguasa. Adapun sang penguasa, ia nampak siap menindas petani tersebut dengan kekerasan, menggunakan kekuasaan media massa dan dengan licik memanipulasi sebuah kejahatan terorganisir.

Instalasi Ancient Series yang diciptakan tahun 2015, terdiri dari Ancient Morality (ukuran 95 cm x 50 cm x 56 cm), Ancient Mentality (ukuran 70 cm x 50 cm x 74 cm) dan Ancient Trend (ukuran 125 cm x 50 cm), Ancient Happiness (132 x 50 cm). Medium ketiga instalasi Ancient Series adalah serat kaca, kayu jati, cat semprot, plastik besi.

Ancient Morality berbentuk tangan menunjuk. Ia dapat ditafsirkan sebagai simbol moralitas kuno yang mendasarkan pada reward and punishment dan perintah. Berkebalikan dengan moralitas modern yang berdasarkan kesadaran akal budi serta altruism, tanpa harus diperintah serta tidak dibebani ganjaran dan hukuman. Menjadi sebuah anomali, karena pola-pola ketataatan berdasarkan perintah bukan berdasarkan kesadaran akal budi masih saja berlaku di sini, sementara pola-pola seperti itu sudah ditinggalkan di belahan dunia lain.

Ancient Trend berbentuk tangan membawa pedang. Instalasi ini dapat ditafsirkan sebagai gambaran penggunaan kekerasan dalam penyelesaian konflik. Sebuah anomali, karena kekerasan sebagai warisan masa lalu masih saja digunakan sebagai cara menyelesaikan masalah di dunia yang semakin maju.

Ancient Mentality berbentuk tangan membawa kantong kresek hitam seolah siap membuang sampah. Instalasi ini menjewer kuping kita yang terkadang masih suka membuang sampah sembarangan tanpa mempedulikan efek negatif bertumpuknya sampah. Secara umum, instalasi ini dapat mengingatkan kita pada isu-isu lingkungan.

Sejak 2007, meskipun Marks and Spencer masih menggratiskan tas plastik untuk barang belanjaan pakaian namun untuk setiap tas plastik di unit toko penjualan makanan jaringan Marks and Spencer dikenakan biaya 5 pence.

Pada tahun 2013, Wakil Perdana Menteri Inggris Nick Clegg mengumumkan rencana bahwa 2 tahun lagi seluruh supermarket dan toko besar di wilayah England akan diwajibkan untuk mengenakan biaya 5 pence per tas plastic sebagai upaya mengurangi penggunaan plastik. Bukan tidak mungkin era kantong kresek atau kemasan plastik lain akan segera berakhir.

Tentu kita dapat merasakan anomali di sini, sementara di belahan dunia lain usaha menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan telah menjadi tren, di sini kesadaran lingkungan itu relatif baru dimulai.

Di sini, kantong plastik masih marak digunakan, walaupun sudah mulai ada kampanye untuk berhenti menggunakan kantong plastik. Kebakaran hutan yang, salah satu penyebabnya, terjadi akibat eksploitasi sumber daya alam guna memenuhi kebutuhan ekonomi dengan mengabaikan kelestarian lingkungan, akhirnya menyebabkan kerugian yang lebih besar.

Menurut laporan Bank Dunia akhir November lalu, perkiraan awal dari kerugian ekonomi untuk Indonesia akibat kebakaran hutan tahun ini melampaui $15 milyar. Jumlah ini dua kali lebih besar dari kerugian dan kerusakan akibat tsunami tahun 2004 di Aceh, setara dengan 1.8% Produk Domestik Brutto (PDB).

Ancient Happiness berbentuk tangan yang memegang tongkat selfie. Instalasi ini seolah mendeskripsikan anomali bahwa selfie, sebuah kegiatan mengambil foto diri sendiri, yang sekarang sedang tren sebenarnya merupakan gejala yang sudah terjadi sejak lama. Hanya bentuknya yang berbeda.

Instalasi itu memancing imajinasi bahwa seklfie sebenarnya bisa mengingatkan kita pada cerita Narcissus dalam mitologi Yunani. Narcissus sangat mengagumi ketampanannya sendiri. Ia tidak pernah mencintai orang lain hingga menghardik bidadari Echo yang jatuh hati kepadanya. Kesombongan dan perlakuan buruk Narcissus terhadap Echo mengakibatkan dia dikutuk Aphrodite agar merasakan cinta yang membunuhnya.

Narcissus lalu menjalani kutukan jatuh cinta pada wajahnya sendiri. Keasyikan memandangi wajahnya di sungai, ia lupa makan dan tidak minum hingga akhirnya mati.

Fenomena yang serupa terjadi pada selfie, di mana ada beberapa kejadian kecelakaan karena si korban mengambil gambar untuk memperlihatkan antusiasme terhadap aktvitas atau tempat yang sedang dikerjakan atau dikunjungi, namun mengabaikan keselamatannya sendiri. Sebuah anomali, ketika kegembiraan berlebihan hingga mencelakakan diri sendiri itu sudah diperingatkan dalam bentuk mitos ribuan tahun lalu, tapi kini kembali menjadi tren.

Insiden selfie di tahun ini telah menelan korban sebanyak 12 kematian. Jumlah yang lebih banyak jika dibandingkan dengan kematian akibat serangan hiu yang menelan delapan korban jiwa. Demikian data yang dilansir The Huffington Post.

Pemerintah di beberapa negara, seperti Rusia, tergerak untuk merilis kampanye mengenai selfie yang aman. Di antaranya dengan merilis ilustrasi dalam bentuk rambu larangan selfie di perahu, di atap rumah, tengah jalan, sambil memegang senjata, di depan binatang buas dan di rel kereta.

Instalasi  ketiga yang menarik perhatian adalah Untitled (Banquet Speech). Instalasi ini dibuat pada tahun 2015 dalam medium besi dan alumunium dengan ukuran 51 cm x 80 cm x 51 cm. Untitled (Banquet Speech) berbentuk pengeras suara (popular juga dengan nama toa) yang pada bagian depan ditambahkan bebatuan dan belati-belati, seakan-akan pengeras suara  tersebut tidak mengeluarkan suara tapi mengeluarkan belati.

Anomali terlihat di sini, pengeras suara yang harusnya mengeluarkan suara malah mengeluarkan belati dan bebatuan. Tentu saja kita dapat menginterpretasikan instalasi tersebut ke dalam kontroversi isu-isu kebebasan berbicara, pencemaran nama baik dan syiar kebencian.

Di Indonesia, sejak reformasi 1998 kita relatif bebas berbicara apapun. Namun kebebasan ini kerap dimanfaatkan oknum tertentu untuk menghasut dan merampas hak orang lain. Misalnya dengan meneriakkan, “kelompok X halal darahnya”.

Apakah orang yang mengucapkan hal itu masih menjalankan haknya dalam rangka kebebasan berbicara ataukah ia telah merampas hak pihak lain dengan mengancam keselamatan mereka lewat penyalahgunaan hak berbicaranya?

Instalasi Untitled (Banquet Speech) seolah menyindir kebingungan kita dalam membedakan kritik, penghinaan dan syiar kebencian. Kebebasan berbicara memang bagian yang niscaya dari demokrasi namun setelah 17 tahun reformasi kita masih belum memahami perbedaan menyerang ide/obyek(kritik), menyerang personal seseorang alias menghina (atau dalam logika biasa disebut ad hominem fallacy) dan syiar kebencian atau hate speech (ucapan yang mengancam keselamatan pihak lain).

Instalasi itu menunjukkan anomali betapa setelah 17 tahun menjalani demokrasi kita masih belum secara jelas dapat membedakan ketiga hal tersebut.

Eko Nugroho merupakan seniman Indonesia yang punya reputasi internasional. Tahun 2013, Louis Vuitton memilih lukisan Eko Nugroho yang berjudul Republik Tropis untuk diproduksi menjadi scarf. Di tahun itu juga, karya-karyanya memenuhi Paviliun Indonesia dalam 55th International Art Exhibition di Venice Biennale, Italia.

Singapore Tyler House Institute (2013), Musse d’Art Moderne de la Ville de Paris, Prancis (2012), Galerie Nouvelles Images, Den Haag (2009) dan Pekin Fine Arts, Beijing (2009) merupakan beberapa pameran tunggal yang telah digelar Eko Nugroho.

Pameran yang berlangsung tinggal seminggu lagi ini tentu layak ditonton karena dapat menjungkirbalikkan apa yang di kepala kita telah dianggap semestinya. Ketimpangan-ketimpangan yang disajikan dalam bentuk instalasi-instalasi indah tersebut bukan hanya bentuk fisiknya yang  “mengganggu” namun juga penafsiran atasnya yang bisa menyentil kesadaran kita akan hal-hal yang selama ini dianggap wajar-wajar saja.

Sumber: BBC.com, cnnindonesia.com, worldbank.org brosur Pameran Tunggal Eko Nugroho “Landscape Anomaly” yang diterbitkan Galeri Salihara.